Sunday, 15 November 2015

BERBEDA-BEDA TETAP SATU JUA NUANSA PANTAI SENDIKI DAN BATU BENGKUNG

BERBEDA-BEDA TETAP SATU JUA
NUANSA PANTAI SENDIKI DAN BATU BENGKUNG

Indonesia tanah air ku merah darah ku, putih tulangku. Satu rasa dalam persatuan alam yang indah pada kenikmatan negeri ku tercinta. Berapa banyak yang telah dirimu berikan atas ke-eksotisan­ lekuk indah pinggiran mu. Masalah memang membuat kita terpisah atas kepentingan dan egoisme kita masing-masing tetapi kita satu adanya dalam kebersamaan kesenangan. Jadikan ini langkah maju untuk kekeluargaan tanpa kecanggungan diri.

Sedikit cerita dari pengalaman yang tak memiliki momen untuk diabadikan dalam suatu bingkai frame cerita anak cucu kita. Dari berbagai tempat yang telah kami kunjungi dalam kepengurusan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Fakultas Ilmu Administrasi Komisariat Brawijaya (PMII RAFIA KOBRA) mengusir penat dalam memikul beban organisasi pengkaderan tersebut membuat kita bersemangat dalam melakukan kembali aktivitas yang telah kami tinggalkan sehari. Kali ini tempat itu (Pengusir penat) berbeda dari sebelumnya, ya inilah pantai sendiki yang terletak di kabupaten malang dan pantai betu bekong yang berada di sebelah barat pantai bajul mati kabupaten malang. Cerita kali ini berbeda dan lebih berkesan luar biasa mengingat jumlah kita sudah berbeda dan jauh lebih besar dari tahun sebelumnya. Inilah perjalanan kita segenap pengurus dan pendamping RAFIA KOBRA dalam menikmati pesona alam indonesia.

Minggu, 15/11 pada tanggal itulah kami memulai langkah untuk menyusuri segenap jalanan keramaian kerumunan mobil dan motor untuk menuju pantai sendiki dan batu bengkung. Perjalanan mulanya direncanakan pada pukul 7.00 WIB berkumpul di markas komando RAFIA KOBRA. Namun hal itu tidak berubah seperti biasanya, kami berkumpul sekitar pukul 8.00 untuk memulai perjalanan. Tak puas agar tak terjadi kendala kami mempersiapkan segalanya dimulai dari sarapan dan perlengkapan yang akan kami bawa menuju pesona pantai di kabupaten malang. Tak terasa waktu menunjukan pukul 10.00 WIB, Kami yang berjumlah 12 orang yakni saya sendiri Randy Prasetyo (Randy), Zezen Dharmo S. (Zezen), Aldila S.M (Aldi), Chalifal Amri (Ifal), Khoirul Muklis Alias Lisin Bin Muklis, Rahmat, Zharfani F.F (Fani), Siti Nur Aisya (Aisyah), Rozikin, Chandra, Virda, Yordan, Erwin Dyah dan Ismi memulai pemberangkatan secara bersama dengan beriringan dan jenis penampilan yang berbeda. Dikejar waktu tak yang begitu sempit membuat kami melaju dengan cepat, memisahkan diri masing-masing dalam rombongan namun dengan kesepakatan untuk berkumpul di depan gapura masuk pantai sendiki.
Pantai sendiki merupakan pantai terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Saya tidak tahu apa arti kata sendiki pada umumnya dan mengapa diberinama sendiki kenapa tidak diberi nama sendiko. Saya tidak mencoba mencari arti nama tersebut namun saya berniat untuk menikmati keindahan pulau ini. kami tiba di pantai sendiki pada pukul 12.00 WIB, dengan membayar tiket seharga Rp 5.000,- dan uang parkir seharga Rp 5,000.- total hanya Rp 10,000.- kami sudah menikmati pesona nuansa pantai sendiki ini. tak ada dari kami yang tahu persis gambaran dari pantai sendiki ini, ketika kami sudah melihat pantainya saya mendengar aldi merintis ingin pulang karena pantainya Cuma seperti ini saja. Hahahahaha.......... itu hanyalah guyonan belaka dari si aldi. Kami segera menikmati nuansa pantai sendiki, segera kami keluarkan perlengkapan yang ada dalam ransel kita masing-masing. Peralatan itu sangat berat yakni, handphone, camera pocket, tongsis, dan Fish Eyes untuk mengabadikan moment bersama. Selain itu perlengkapan tambahan tak luput kita bawa seperti kacamata hitam, topi dan bendera PMII. Kami terpisah dengan kesibukan masing-masing untuk mengabadikan segenap moment yang ada di pantai sendiki. Zezen, aldi dan ifal sibuk sendiri dalam urusan mengabadikan dirinya sendiri diatas pohon dengan pemandangan belakang pantai sendiki. Yordan, rozikin, erwin, ismi, dan chandra juga tak kalah gencarnya untuk mengabadikan momentnya bersama di pantai sendiki. Pada akhirnya si yordan ingin menikmatinya rasa dari air yang ada di pantai sendiki, namun betapa kecewanya karena tak boleh untuk berenang karena ombak dipantai sendiki berbahaya. Tak kalah menarik pula pasangan duo artis senior wanita FIA yakni Siti Nur Aisyah dan Zharfani faza yang dikamerai oleh lisin tak kalah serunya berpose eksotis untuk mengabadikan momentnya di pantai sendiki. Jika kalian bertanya terus saya ngapain disana ? saya hanya melihat mereka yang sedang bersenang-senang begitu gembiranya se-olah-olah tak memiliki beban lagi untuk kedepannya. Dan saya berfikir apakah mereka akan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya ? sendiri menikmati sedelas es jasjus diatas kursi dipinggir pantai dengan menikmati kemegahan lautan yang begitu luas ditemani semilir angin yang membuat semua teringat dengan jelas akan kejelasan diri.
Selesai kami mengabadikan moment bersama-sama selama 2 jam di pantai sendiki kami tak kunjung puas untuk menikmati pesona wisata pantai lagi. Kami berkumpul sejenak untuk mengadakan rencana berkunjung lagi kepantai sebelah yakni pantai batu bengkung dan kami menyepakatinya dan teringat suatu kata dengan jelas ”nak pantai nek gag adus kui gag afdol” itulah mengapa alasan kami menuju ke pantai batu bengkung. Kami pun segera berkemas menuju ke pantai tersebut dengan merapikan apa yang telah kita lakukan di pantai sendiki. Kami bersama-sama menuju pada pantai batu bengkung dengan tergesa-gesa agar waktu tercukupi untuk memenuhi kepuasan ke indahan alam pantai kabupaten malang. Perjalanan memakan sekitar 30 menit dari pantai sendiki, kita tiba secara bergantian di pantai batu bengkung. Tiba pertama adalah saya, zharfani, zezen, aldi, muklis, candra, rozikin, dan ifal. Kami menunggu sahabat-sahabati lainnya yang begitu lama yakni rahmat, erwin, aisya, virda, ismi, dan yordan.
Kami segera memasuki pantai batu bengkung dengan membayar total Rp 15.000,- dengan parkiran yang telah jadi satu dengan tiket masuk pantai. Pantai batu bengkung ini terletak di desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan-Malang-Jatim. Memasuki pantai kami memulai mengabadikan kembali moment kebersamaan dengan terpecahnya setiap kelompok untuk mencari kepuasan ketenangan diri. Kali ini suasana berbeda tak sepenuhnya tergambar jelas luasnya lautnya samudera hindia dengan sekat karang yang begitu kokoh nan gagah sebagai tempat pijakan untuk menikmati pesona tiupan angin dan deruan ombak pantai batu bengkung. Kali ini kami sibuk dengan sendiri-sendiri untuk memotret diri sendiri masing-masing, pecah belah tapi tak berdarah, berpisah namun tak marah. Itulah kesenangan masing-masing. Saya, aldi, zezen, rozikin, dan yordan memilih menaiki kokohnya karang untuk mengabadikan ke perawanan pantai batu bengkung. Ketika mereka (yordan, rozikin, aldi dan zezen) untuk memilih menaiki kokohnya karang lebih tinggi lagi saya menolak karena fasilitas penyedia tangga tidak ada saya takut terjatuh. Saya memilih untuk berdiam diri di jalan bawah kokohnya karang dengan menikmati deruan ombak yang menghantam pasir membuat erosi yang terus menerus. Lama saya berdiam diri, terlihat sesosok pasangan muda-mudi yakni rahmat dan erwin serta lisin dan zharfani disusul dengan candra dan ifal. Candra dan ifal memilih menyusul ke 4 orang tadi yang menaiki kokohnya karang lebih tinggi lagi. Saya tetap berdiam diri dibawah sambil berbicara dengan erwin dan rahmat. Saya hanya mendengarkan percakapan mereka. Saya memperhatikan rahmat menuturi suatu rayuan tentang keindahan pada erwin tentang kehidupan dia berkata “hidup itu seperti air laut yang terus terombang-ambing tak jelas”. Saya terseyum mendengarkan dia berkata itu. 30 menit saya berdiam diri dengan fani, muklis, rahmat dan erwin. Saya sudah melihat raut kegembiraan mereka dengan jelas tanpa adanya beban begitu dalam untuk mengurusi RAFIA KOBRA, akhirnya saya memutuskan untuk turun. 4-3 langkah saya menuruni kokohnya karang saya melihat kebersamaan kembali dibawah karang dan berderu seruan ombak yang menyentuh kakinya dengan senyum dibias hembusan ombak karang. Setelah puas dengan segala sesuatunya yang ada di pantai bengkung, kami melakukan foto bersama-sama dengan mengibarkan bendera biru kuning.
Tak banyak saya mengabadikan moment dalam kedua pantai ini. tak begitu cukup kemegahan mega ufuk barat membiaskan cahaya. keindahan itu hal yang harus kita ingat, bukan kita bingkaikan. Kita bisa lupa akan semua moment tersebut, namu kebersamaan kita tak akan pernah hilang dan terhapus. INGATLAH !!!

2 comments:

zhumroni said...

Jika tangan dan kaki dipatahkan, mulut dihancurkan. Jika raga dan jiwa, lahir dan batin bagai sekarat. Atau jika hanya tersisa telinga dan mata, yang mendengar dan menyaksikan burung pemakan bangkai datang mengelilingi. Bahkan jika harapan pun diruntuhkan menjadi puing, tak ada alasan untuk menyerah dan tersenyum leber bersama kita. Karena masih ada dua pilihan sebagai senjata untuk tetap bertahan. Pilihan pertama; doa, atau pilihan kedua; kutukan. Dan disitulah perang antara Tuhan dan Iblis segara dimulai, tp ingat " disini ada kita, SAHABAT yg tak akan perna runtuh oleh apapun.

Randy....
Nama yg sungguh luarbiasa disini
(^_^)

aktiviswacana.blogspot.com said...

Terimakasih Komentarnya Sahabat Zhumroni, alangkah lebih baiknya semua kita bisa melakukannya dengan maksimal tanpa adanya kutukan dan menyerahkannya semua pada do'a itu.