BERBEDA-BEDA TETAP SATU JUA
NUANSA PANTAI SENDIKI DAN BATU
BENGKUNG
Indonesia tanah air ku merah darah
ku, putih tulangku. Satu rasa dalam persatuan alam yang indah pada kenikmatan negeri
ku tercinta. Berapa banyak yang telah dirimu berikan atas ke-eksotisan lekuk
indah pinggiran mu. Masalah memang membuat kita terpisah atas kepentingan dan
egoisme kita masing-masing tetapi kita satu adanya dalam kebersamaan
kesenangan. Jadikan ini langkah maju untuk kekeluargaan tanpa kecanggungan
diri.
Sedikit cerita dari pengalaman yang
tak memiliki momen untuk diabadikan dalam suatu bingkai frame cerita anak cucu
kita. Dari berbagai tempat yang telah kami kunjungi dalam kepengurusan
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Fakultas Ilmu Administrasi
Komisariat Brawijaya (PMII RAFIA KOBRA) mengusir penat dalam memikul beban
organisasi pengkaderan tersebut membuat kita bersemangat dalam melakukan kembali
aktivitas yang telah kami tinggalkan sehari. Kali ini tempat itu (Pengusir
penat) berbeda dari sebelumnya, ya inilah pantai sendiki yang terletak di
kabupaten malang dan pantai betu bekong yang berada di sebelah barat pantai
bajul mati kabupaten malang. Cerita kali ini berbeda dan lebih berkesan luar
biasa mengingat jumlah kita sudah berbeda dan jauh lebih besar dari tahun
sebelumnya. Inilah perjalanan kita segenap pengurus dan pendamping RAFIA KOBRA
dalam menikmati pesona alam indonesia.
Minggu, 15/11 pada tanggal itulah
kami memulai langkah untuk menyusuri segenap jalanan keramaian kerumunan mobil
dan motor untuk menuju pantai sendiki dan batu bengkung. Perjalanan mulanya
direncanakan pada pukul 7.00 WIB berkumpul di markas komando RAFIA KOBRA. Namun
hal itu tidak berubah seperti biasanya, kami berkumpul sekitar pukul 8.00 untuk
memulai perjalanan. Tak puas agar tak terjadi kendala kami mempersiapkan
segalanya dimulai dari sarapan dan perlengkapan yang akan kami bawa menuju pesona
pantai di kabupaten malang. Tak terasa waktu menunjukan pukul 10.00 WIB, Kami yang
berjumlah 12 orang yakni saya sendiri Randy Prasetyo (Randy), Zezen Dharmo S. (Zezen),
Aldila S.M (Aldi), Chalifal Amri (Ifal), Khoirul Muklis Alias Lisin Bin Muklis,
Rahmat, Zharfani F.F (Fani), Siti Nur Aisya (Aisyah), Rozikin, Chandra, Virda,
Yordan, Erwin Dyah dan Ismi memulai pemberangkatan secara bersama dengan
beriringan dan jenis penampilan yang berbeda. Dikejar waktu tak yang begitu
sempit membuat kami melaju dengan cepat, memisahkan diri masing-masing dalam
rombongan namun dengan kesepakatan untuk berkumpul di depan gapura masuk pantai
sendiki.
Pantai sendiki merupakan pantai terletak
di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Saya tidak
tahu apa arti kata sendiki pada umumnya dan mengapa diberinama sendiki kenapa
tidak diberi nama sendiko. Saya tidak mencoba mencari arti nama tersebut namun
saya berniat untuk menikmati keindahan pulau ini. kami tiba di pantai sendiki
pada pukul 12.00 WIB, dengan membayar tiket seharga Rp 5.000,- dan uang parkir seharga
Rp 5,000.- total hanya Rp 10,000.- kami sudah menikmati pesona nuansa pantai
sendiki ini. tak ada dari kami yang tahu persis gambaran dari pantai sendiki
ini, ketika kami sudah melihat pantainya saya mendengar aldi merintis ingin
pulang karena pantainya Cuma seperti ini saja. Hahahahaha.......... itu
hanyalah guyonan belaka dari si aldi.
Kami segera menikmati nuansa pantai sendiki, segera kami keluarkan perlengkapan
yang ada dalam ransel kita masing-masing. Peralatan itu sangat berat yakni,
handphone, camera pocket, tongsis, dan Fish Eyes untuk mengabadikan moment
bersama. Selain itu perlengkapan tambahan tak luput kita bawa seperti kacamata
hitam, topi dan bendera PMII. Kami terpisah dengan kesibukan masing-masing
untuk mengabadikan segenap moment yang ada di pantai sendiki. Zezen, aldi dan
ifal sibuk sendiri dalam urusan mengabadikan dirinya sendiri diatas pohon
dengan pemandangan belakang pantai sendiki. Yordan, rozikin, erwin, ismi, dan
chandra juga tak kalah gencarnya untuk mengabadikan momentnya bersama di pantai
sendiki. Pada akhirnya si yordan ingin menikmatinya rasa dari air yang ada di
pantai sendiki, namun betapa kecewanya karena tak boleh untuk berenang karena
ombak dipantai sendiki berbahaya. Tak kalah menarik pula pasangan duo artis
senior wanita FIA yakni Siti Nur Aisyah dan Zharfani faza yang dikamerai oleh
lisin tak kalah serunya berpose eksotis untuk mengabadikan momentnya di pantai
sendiki. Jika kalian bertanya terus saya ngapain disana ? saya hanya melihat
mereka yang sedang bersenang-senang begitu gembiranya se-olah-olah tak memiliki
beban lagi untuk kedepannya. Dan saya berfikir apakah mereka akan lupa akan
tugas dan tanggung jawabnya ? sendiri menikmati sedelas es jasjus diatas kursi
dipinggir pantai dengan menikmati kemegahan lautan yang begitu luas ditemani
semilir angin yang membuat semua teringat dengan jelas akan kejelasan diri.
Selesai kami mengabadikan moment
bersama-sama selama 2 jam di pantai sendiki kami tak kunjung puas untuk
menikmati pesona wisata pantai lagi. Kami berkumpul sejenak untuk mengadakan
rencana berkunjung lagi kepantai sebelah yakni pantai batu bengkung dan kami
menyepakatinya dan teringat suatu kata dengan jelas ”nak pantai nek gag adus kui gag afdol” itulah mengapa alasan kami
menuju ke pantai batu bengkung. Kami pun segera berkemas menuju ke pantai
tersebut dengan merapikan apa yang telah kita lakukan di pantai sendiki. Kami bersama-sama
menuju pada pantai batu bengkung dengan tergesa-gesa agar waktu tercukupi untuk
memenuhi kepuasan ke indahan alam pantai kabupaten malang. Perjalanan memakan
sekitar 30 menit dari pantai sendiki, kita tiba secara bergantian di pantai
batu bengkung. Tiba pertama adalah saya, zharfani, zezen, aldi, muklis, candra,
rozikin, dan ifal. Kami menunggu sahabat-sahabati lainnya yang begitu lama
yakni rahmat, erwin, aisya, virda, ismi, dan yordan.
Kami segera memasuki pantai batu
bengkung dengan membayar total Rp 15.000,- dengan parkiran yang telah jadi satu
dengan tiket masuk pantai. Pantai batu bengkung ini terletak di desa Gajahrejo,
Kecamatan Gedangan-Malang-Jatim. Memasuki pantai kami memulai mengabadikan
kembali moment kebersamaan dengan terpecahnya setiap kelompok untuk mencari
kepuasan ketenangan diri. Kali ini suasana berbeda tak sepenuhnya tergambar
jelas luasnya lautnya samudera hindia dengan sekat karang yang begitu kokoh nan
gagah sebagai tempat pijakan untuk menikmati pesona tiupan angin dan deruan
ombak pantai batu bengkung. Kali ini kami sibuk dengan sendiri-sendiri untuk
memotret diri sendiri masing-masing, pecah belah tapi tak berdarah, berpisah
namun tak marah. Itulah kesenangan masing-masing. Saya, aldi, zezen, rozikin,
dan yordan memilih menaiki kokohnya karang untuk mengabadikan ke perawanan
pantai batu bengkung. Ketika mereka (yordan, rozikin, aldi dan zezen) untuk
memilih menaiki kokohnya karang lebih tinggi lagi saya menolak karena fasilitas
penyedia tangga tidak ada saya takut terjatuh. Saya memilih untuk berdiam diri
di jalan bawah kokohnya karang dengan menikmati deruan ombak yang menghantam
pasir membuat erosi yang terus menerus. Lama saya berdiam diri, terlihat
sesosok pasangan muda-mudi yakni rahmat dan erwin serta lisin dan zharfani
disusul dengan candra dan ifal. Candra dan ifal memilih menyusul ke 4 orang
tadi yang menaiki kokohnya karang lebih tinggi lagi. Saya tetap berdiam diri
dibawah sambil berbicara dengan erwin dan rahmat. Saya hanya mendengarkan
percakapan mereka. Saya memperhatikan rahmat menuturi suatu rayuan tentang
keindahan pada erwin tentang kehidupan dia berkata “hidup itu seperti air laut yang terus terombang-ambing tak jelas”. Saya
terseyum mendengarkan dia berkata itu. 30 menit saya berdiam diri dengan fani,
muklis, rahmat dan erwin. Saya sudah melihat raut kegembiraan mereka dengan
jelas tanpa adanya beban begitu dalam untuk mengurusi RAFIA KOBRA, akhirnya
saya memutuskan untuk turun. 4-3 langkah saya menuruni kokohnya karang saya
melihat kebersamaan kembali dibawah karang dan berderu seruan ombak yang
menyentuh kakinya dengan senyum dibias hembusan ombak karang. Setelah puas
dengan segala sesuatunya yang ada di pantai bengkung, kami melakukan foto
bersama-sama dengan mengibarkan bendera biru kuning.
Tak banyak saya mengabadikan moment dalam kedua
pantai ini. tak begitu cukup kemegahan mega ufuk barat membiaskan cahaya. keindahan
itu hal yang harus kita ingat, bukan kita bingkaikan. Kita bisa lupa akan semua
moment tersebut, namu kebersamaan kita tak akan pernah hilang dan terhapus.
INGATLAH !!!

2 comments:
Jika tangan dan kaki dipatahkan, mulut dihancurkan. Jika raga dan jiwa, lahir dan batin bagai sekarat. Atau jika hanya tersisa telinga dan mata, yang mendengar dan menyaksikan burung pemakan bangkai datang mengelilingi. Bahkan jika harapan pun diruntuhkan menjadi puing, tak ada alasan untuk menyerah dan tersenyum leber bersama kita. Karena masih ada dua pilihan sebagai senjata untuk tetap bertahan. Pilihan pertama; doa, atau pilihan kedua; kutukan. Dan disitulah perang antara Tuhan dan Iblis segara dimulai, tp ingat " disini ada kita, SAHABAT yg tak akan perna runtuh oleh apapun.
Randy....
Nama yg sungguh luarbiasa disini
(^_^)
Terimakasih Komentarnya Sahabat Zhumroni, alangkah lebih baiknya semua kita bisa melakukannya dengan maksimal tanpa adanya kutukan dan menyerahkannya semua pada do'a itu.
Post a Comment