Republik
Rakyat China adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh
kebudayaan, sejarah dan geografis yang dikenal sebagai China. Sejak
didirikan pada tahun 1949, RRC telah dipimpin oleh Partai Komunis China (PKC).
Walupun seringkali dilihat sebagai negara yang berhaluan komunis, kebanyakan
sektor ekonomi China telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang lalu. Walau
bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama
dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara
politik, China masih tetap menjadi pemerintahan satu partai. Dalam menangani
permasalahan, cara sentralistik didalam republik china ini masih berlaku secara
mendasar. Perubahan yang terjadi dalam lingkup pemerintahan lebih tepatnya
tentang penanaman sifat ideologis dalam pemerintahannya yakni ideologis
sosialis-komunis. Dalam upaya negara menjadi kewajiban negara untuk
mensejahterakan rakyatnya. Meskipun bersifat diktator pemerintah china tidak
kurangnya penekanan suatu aspek dari sistem berdemokrasi karena pada dasarnya
negara china adalah republik.
Menurut
definisi resminya, RRC merupakan suatu negara yang berhaluan komunis
dan hal itu memang karena China merupakan negara komunis abad ke-20 yang
lalu. Secara resmi China masih dikenal sebagai negara komunis, meskipun
sejumlah ahli tidak berpandangan bahwa China merupakan negara komunis
seutuhnya. Hingga saat ini tidak ada definisi yang tepat yang dapat diberikan
kepada jenis pemerintahan yang dilaksanakan oleh China, karena strukturnya
tidak dikenal pasti. Salah satu penyebab masalah ini adalah karena
sejarahnya, Cina merupakan negara yang diperintah oleh para kaisar selama 2000
tahun dengan sebuah pemerintahan pusat yang kuat dengan pengaruh Kong Hu Cu.
Setelah tahun 1911, Cina diperintah secara otokratis oleh KMT dan
beberapa panglima perang dan setelah 1949 didobrak partai komunis Cina.
RUNTUHNYA ERA KE
KAISARAN DI CHINA
Pada 10
oktober 1911, terjadi seuatu peristiwa besar yang ada di china yakni suatu
kudeta (makar) yang mengguncang negara china. Kudeta ini memicu revolusi yang
berujung pada penggulingan kaisar terakhir dari china yakni Pu Yi dari dinasti
Qing. Pada waktu itu pula era feodal di negeri china mulai runtuh. Feodalis
yang terjadi dichina selama 2.200 tahun lamanya akhirnya menjadi suatu republik
rakyat china. Revolusi ini jua disebut sebagai revolusi xinhai atau revolusi
1911 sebagai revolusi china.
Revolusi
xinhia ini dilatarbelakangi oleh beberapa aspek politis terkait suatu kekuasaan
dan masalah dalam negeri china sendiri. Masalah-masalah tersebut menjadi
tantangan tersendiri untuk kekaisaran Qing, hal tersebut pula mengancam
stabilitas dalam negeri china terkait adanya peristiwa besar yakni adanya
perang candu yang dilakukan oleh inggris sehingga lepasnya wilayah hongkong
dalam kekaisaran Qing serta kalahnya perang shino-jepang pertama 1894-1895
dalam china. Dari dua hel tersebut kang Youwei dan Liang Qichao mempropagandai
suatu gerakan dalam melahirkan suatu revolusi dalam gerakan pro-monarki
konstitusional namun hal tersebut juga mengalami kendala yang ditentang oleh
sun yat sen yang pro kepada kalangan buruh untuk menjadikan china sebagai
negara republik. Pada 1 januari 1912 republik china berdiri dengan presiden
sementara sun yat-sen.
IDEOLOGIS
SOSIALIS-KOMUNIS
Tahun
1840, sejarah mencatat sebagai awal era modern Tiongkok, ditandai dengan
dimulainya perjalanan dari abad tradisional menuju era modern. Sejak saat itu,
peradaban Tionghoa telah melalui lebih kurang empat episode tantangan dan
tanggapan. Tiga episode pertama meliputi penyerbuan Beijing oleh aliansi tentara
Inggris-Perancis pada awal 1860, perang
Tiongkok-Jepang (disebut juga “Perang Jiawu”) pada tahun 1894, dan perang
Rusia-Jepang di Timur Laut Tiongkok pada tahun 1906. Terhadap tiga episode
tantangan ini, tanggapan Tiongkok adalah memasukkan peralatan dan senjata
modern (yaitu pergerakan kebaratan), reformasi institusional melalui Gerakan
Reformasi pada tahun 1898 dan usaha memberlakukan hukum konstitusional pada
akhir Dinasti Qing, dan setelah itu, Revolusi Demokrasi pada tahun 1911.
Selesai perang dunia pertama,
kepentingan Tiongkok sebagai salah satu negara pemenang sama sekali tidak diperhitungkan
oleh negara-negara kuat, masyarakat Tiongkok saat itu menganggap bahwa
tanggapan terhadap ketiga episode di atas telah mengalami kekalahan, oleh sebab
itu muncullah “Gerakan 4 Mei”, gerakan episode keempat yang merupakan sebuah tanggapan
bidang terakhir, bidang lingkup kebudayaan yang secara menyeluruh berkiblat ke
Barat, setelah itu dimulai revolusi ekstrim yang disebut sebagai pergerakan
komunis.
Partai
Komunis Tiongkok (PKT) pertama kali didirikan sebagai cabang Komunisme
Internasional Ketiga yang dikendalikan oleh Partai Komunis Soviet, maka dengan
sendirinya telah mewarisi kekerasan seperti itu. Selama masa perang saudara
pertama antara Komunis dan Kuomintang dari tahun 1927 hingga 1936, jumlah
penduduk propinsi Jiangxi menurun dari 20 juta sampai 10 juta lebih. Kerusakan
yang timbul akibat menggunakan kekerasan dapat dilihat dari besarnya korban itu
sendiri. Bila dikatakan bahwa penggunaan kekerasan tidak dapat dihindarkan ketika
merebut kekuasaan politik, maka tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang
begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis
Tiongkok. Sejak tahun 1949, angka kematian akibat pembunuhan secara kejam oleh
PKT telah melebihi jumlah kematian selama masa perang 30 tahun sebelumnya. Pada
1949, ketika PKT berkuasa, hanya Mao Zedong (Mao Tse Tung) dan Dong Biwu yang
masih tersisa dari 13 anggota Partai semula. Tidak jelas pada waktu itu apakah
pendiri-pendiri PKT menyadari bahwa “dewa penyelamat” yang mereka perkenalkan
dari Uni Soviet sebenarnya adalah makhluk jahat, dan obat yang mereka dapatkan untuk
menguatkan negara sebenarnya adalah racun mematikan.
Selama
masa Revolusi Kebudayaan, orang tua dan anak saling menyakiti, suami dan istri
saling menyerang, guru dan murid saling melaporkan ke partai, ini adalah akibat
berperannya prinsip partai, konflik dan saling membenci. Pada periode awal,
jika ada anggota keluarga yang dikategorikan sebagai musuh kelas dan ditindas,
pejabat tinggi sekalipun tidak mampu berbuat apa-apa, contoh yang demikian
sangat banyak, semua karena berperannya
prinsip-prinsip partai. Saat ini, Partai Komunis Tiongkok telah merosot menjadi kelompok politik yang mempertahankan
keuntungan pribadi, sudah tidak ada lagi tujuan memperjuangkan hal yang menjadi
cita-cita komunis, namun prinsip organisasi tetap tidak berubah, tuntutan
terhadap sifat partai tidak berubah. Partai ini, dengan menempatkan dirinya di
atas semua umat manusia dan sifat manusiawinya, menyingkirkan semua organisasi
maupun perorangan yang dianggap mengganggu kekuasaan, meski orang itu adalah
masyarakat biasa atau pun pemimpin tingkat tinggi PKT. Ilmu pengetahuan politik
modern menganggap kekuasaan masyarakat datang dari tiga sumber, yaitu
kekerasan, kekayaan dan ilmu pengetahuan. Komunis memonopoli dan tidak
ragu-ragu menggunakan kekerasan untuk merampas harta masyarakat dan yang paling
penting adalah merampas kebebasan berpendapat dan pers, merampas kebebasan
spiritual dan kesadaran masyarakat, untuk mencapai tujuan mengendalikan
kekuasaan masyarakat secara mutlak. Dapat dikatakan, pengendalian secara ketat
oleh makhluk komunis Tiongkok ini sulit dibandingkan dengan rejim mana pun di
dunia ini.
1.
Landreform – Penghapusan Kelas Tuan Tanah
Saat baru tiga bulan berkuasa, Partai Komunis
langsung mengadakan landreform secara menyeluruh, dengan slogan “Tanah untuk
penggarap” telah membangkitkan sisi keserakahan para petani yang tidak memiliki
sawah, mendorong mereka untuk merampas dengan kekerasan dan tanpa mempertimbangkan
dampak moral yang diakibatkan oleh tindakan mereka, bahkan juga telah menghasut
para petani yang tidak mempunyai lahan untuk menyerang para petani yang memiliki
lahan pertanian. Cabangcabang lokal adalah perpanjangan mulut dari
instruksi-instruksi Komite Pusat PKT dan juga sebagai garis depan pertentangan
antar kelas, menghasut Petani untuk melawan tuan tanah. Hampir 100.000 orang
tuan tanah tewas Selama gerakan ini.
2.
Pembaharuan dalam Bidang Industri dan Perdagangan –
Menghapus Kelas Kapitalis
Kelas kapitalis yaitu
kelompok orang yang menguasai modal yang berada di kota-kota besar dan kecil,
juga tidak luput menghadapi kehancuran selama pemerintahan PKT. Ketika
mereformasi industri dan perdagangan, PKT mengatakan bahwa kelas kapitalis dan
kelas pekerja pada dasarnya tidak sama; yang satu adalah kelas pemeras, satunya
lagi adalah kelas nonpemeras atau buruh. Berdasarkan logika ini, kelas
kapitalis memang dilahirkan untuk memeras dan tidak akan bisa berhenti sampai
mereka dibinasakan; hanya bisa dibinasakan, tidak bisa direformasi. Atas Dasar
pemahaman ini, PKT menggunakan cara membunuh dan mencuci otak untuk mengubah
kaum kapitalis dan pedagang. Teror yang dilakukan pemerintah selama reformasi
ini, membuat kaum kapitalis dan pedagang menyerahkan seluruh asetnya. Banyak di
antara mereka tidak tahan menghadapi kenyataan ini dan melakukan bunuh diri Hal
ini menunjukkan bagaimana PKT dengan cepat memusnahkan kepemilikan swasta di
Tiongkok.
Tujuannya adalah
menjadikan komunisme sebagai satu-satunya kekuatan yang meliputi keseluruhan,
mengontrol penuh atas seluruh wilayah, tidak hanya tubuh akan tetapi juga
pikiran. Revolusi Kebudayaan memaksa pemujaan sepenuhnya terhadap PKT dan Mao
Zedong. Teori Mao digunakan untuk mendominasi segala bidang dan pandangan satu
orang harus ditanamkan di setiap pikiran puluhan juta orang. Yang unik dari Revolusi
Kebudayaan yaitu dengan sengaja tidak menjelaskan apa yang tidak boleh dikerjakan,
malah menegaskan “Apa yang dapat dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
Segala sesuatu di luar batasan ini tidak boleh dilakukan atau bahkan dipertimbangkan
pun tidak boleh. elama masa Revolusi Kebudayaan, setiap penduduk melakukan hal-hal
ritual seperti “menanyakan perintah-perintah di pagi hari dan membuat laporan
pada malam hari.” Setiap hari mengirim salam hormat kepada Pemimpin Mao
beberapa kali, “mendoakannya” berumur panjang. Hampir setiap orang terpelajar
pernah menulis pernyataan mengritik diri sendiri. Pernyataan Mao seperti
“berperang dengan buas melawan setiap pikiran egois” dan “melaksanakan perintah
meskipun paham atau tidak memahaminya, paham setelah proses pelaksanaan
berlangsung” seringkali diulang-ulang. Hanya ada satu “Tuhan” (Mao) yang boleh
disembah ; hanya ada satu kitab (ajaran Mao) yang boleh dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA.
Jiuping, 9
Komentar Mengenai Partai Komunis, Jakarta : The Epoch Times, 2005
Wibowo,
I., Berkaca Dari Pengalaman Republik Rakyat Cina: Negara Dan Masyarakat,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Dan Pusat Studi Cina, 2000.
__________,
Mao Dan Reformasi Praksis, Jakarta: Pusat Studi Cina, 2000.
Lin
Ji Tjou, Masalah Tani Dalam Revolusi Demokratis, Jakarta: Pembaruan,
1964.
Townsend,
James R., “Sistem Politik China”, Dalam Mohtar Mas‟Oed Dan Colin Macandrews, Perbandingan
Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997.
No comments:
Post a Comment