Thursday, 3 December 2015

REFORMASI SISTEM PEMERINTAHAN CHINA DARI FEODAL MENJADI REPUBLIK

Republik Rakyat China adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh kebudayaan, sejarah dan geografis yang dikenal sebagai China.  Sejak didirikan pada tahun 1949, RRC telah dipimpin oleh Partai Komunis China (PKC). Walupun seringkali dilihat sebagai negara yang berhaluan komunis, kebanyakan sektor ekonomi China telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang lalu. Walau bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara politik, China masih tetap menjadi pemerintahan satu partai. Dalam menangani permasalahan, cara sentralistik didalam republik china ini masih berlaku secara mendasar. Perubahan yang terjadi dalam lingkup pemerintahan lebih tepatnya tentang penanaman sifat ideologis dalam pemerintahannya yakni ideologis sosialis-komunis. Dalam upaya negara menjadi kewajiban negara untuk mensejahterakan rakyatnya. Meskipun bersifat diktator pemerintah china tidak kurangnya penekanan suatu aspek dari sistem berdemokrasi karena pada dasarnya negara china adalah republik.

Menurut definisi resminya,  RRC merupakan suatu negara yang berhaluan komunis dan hal itu memang karena China merupakan negara komunis abad ke-20 yang lalu. Secara resmi China masih dikenal sebagai negara komunis, meskipun sejumlah ahli tidak berpandangan bahwa China merupakan negara komunis seutuhnya. Hingga saat ini tidak ada definisi yang tepat yang dapat diberikan kepada jenis pemerintahan yang dilaksanakan oleh China, karena strukturnya tidak dikenal pasti. Salah satu penyebab masalah ini  adalah karena sejarahnya, Cina merupakan negara yang diperintah oleh para kaisar selama 2000 tahun dengan sebuah pemerintahan pusat yang kuat dengan pengaruh Kong Hu Cu. Setelah tahun 1911, Cina diperintah secara otokratis  oleh KMT dan beberapa panglima perang dan setelah 1949 didobrak partai komunis Cina.

RUNTUHNYA ERA KE KAISARAN DI CHINA
Pada 10 oktober 1911, terjadi seuatu peristiwa besar yang ada di china yakni suatu kudeta (makar) yang mengguncang negara china. Kudeta ini memicu revolusi yang berujung pada penggulingan kaisar terakhir dari china yakni Pu Yi dari dinasti Qing. Pada waktu itu pula era feodal di negeri china mulai runtuh. Feodalis yang terjadi dichina selama 2.200 tahun lamanya akhirnya menjadi suatu republik rakyat china. Revolusi ini jua disebut sebagai revolusi xinhai atau revolusi 1911 sebagai revolusi china.
Revolusi xinhia ini dilatarbelakangi oleh beberapa aspek politis terkait suatu kekuasaan dan masalah dalam negeri china sendiri. Masalah-masalah tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk kekaisaran Qing, hal tersebut pula mengancam stabilitas dalam negeri china terkait adanya peristiwa besar yakni adanya perang candu yang dilakukan oleh inggris sehingga lepasnya wilayah hongkong dalam kekaisaran Qing serta kalahnya perang shino-jepang pertama 1894-1895 dalam china. Dari dua hel tersebut kang Youwei dan Liang Qichao mempropagandai suatu gerakan dalam melahirkan suatu revolusi dalam gerakan pro-monarki konstitusional namun hal tersebut juga mengalami kendala yang ditentang oleh sun yat sen yang pro kepada kalangan buruh untuk menjadikan china sebagai negara republik. Pada 1 januari 1912 republik china berdiri dengan presiden sementara sun yat-sen.

IDEOLOGIS SOSIALIS-KOMUNIS
Tahun 1840, sejarah mencatat sebagai awal era modern Tiongkok, ditandai dengan dimulainya perjalanan dari abad tradisional menuju era modern. Sejak saat itu, peradaban Tionghoa telah melalui lebih kurang empat episode tantangan dan tanggapan. Tiga episode pertama meliputi penyerbuan Beijing oleh aliansi tentara Inggris-Perancis  pada awal 1860, perang Tiongkok-Jepang (disebut juga “Perang Jiawu”) pada tahun 1894, dan perang Rusia-Jepang di Timur Laut Tiongkok pada tahun 1906. Terhadap tiga episode tantangan ini, tanggapan Tiongkok adalah memasukkan peralatan dan senjata modern (yaitu pergerakan kebaratan), reformasi institusional melalui Gerakan Reformasi pada tahun 1898 dan usaha memberlakukan hukum konstitusional pada akhir Dinasti Qing, dan setelah itu, Revolusi Demokrasi pada tahun 1911. Selesai perang dunia pertama, kepentingan Tiongkok sebagai salah satu negara pemenang sama sekali tidak diperhitungkan oleh negara-negara kuat, masyarakat Tiongkok saat itu menganggap bahwa tanggapan terhadap ketiga episode di atas telah mengalami kekalahan, oleh sebab itu muncullah “Gerakan 4 Mei”, gerakan episode keempat yang merupakan sebuah tanggapan bidang terakhir, bidang lingkup kebudayaan yang secara menyeluruh berkiblat ke Barat, setelah itu dimulai revolusi ekstrim yang disebut sebagai pergerakan komunis.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) pertama kali didirikan sebagai cabang Komunisme Internasional Ketiga yang dikendalikan oleh Partai Komunis Soviet, maka dengan sendirinya telah mewarisi kekerasan seperti itu. Selama masa perang saudara pertama antara Komunis dan Kuomintang dari tahun 1927 hingga 1936, jumlah penduduk propinsi Jiangxi menurun dari 20 juta sampai 10 juta lebih. Kerusakan yang timbul akibat menggunakan kekerasan dapat dilihat dari besarnya korban itu sendiri. Bila dikatakan bahwa penggunaan kekerasan tidak dapat dihindarkan ketika merebut kekuasaan politik, maka tidak pernah ada sebelumnya sebuah rejim yang begitu bernafsu melakukan pembunuhan dalam masa damai seperti Partai Komunis Tiongkok. Sejak tahun 1949, angka kematian akibat pembunuhan secara kejam oleh PKT telah melebihi jumlah kematian selama masa perang 30 tahun sebelumnya. Pada 1949, ketika PKT berkuasa, hanya Mao Zedong (Mao Tse Tung) dan Dong Biwu yang masih tersisa dari 13 anggota Partai semula. Tidak jelas pada waktu itu apakah pendiri-pendiri PKT menyadari bahwa “dewa penyelamat” yang mereka perkenalkan dari Uni Soviet sebenarnya adalah makhluk jahat, dan obat yang mereka dapatkan untuk menguatkan negara sebenarnya adalah racun mematikan.
Selama masa Revolusi Kebudayaan, orang tua dan anak saling menyakiti, suami dan istri saling menyerang, guru dan murid saling melaporkan ke partai, ini adalah akibat berperannya prinsip partai, konflik dan saling membenci. Pada periode awal, jika ada anggota keluarga yang dikategorikan sebagai musuh kelas dan ditindas, pejabat tinggi sekalipun tidak mampu berbuat apa-apa, contoh yang demikian sangat banyak,  semua karena berperannya prinsip-prinsip partai. Saat ini, Partai Komunis Tiongkok telah merosot  menjadi kelompok politik yang mempertahankan keuntungan pribadi, sudah tidak ada lagi tujuan memperjuangkan hal yang menjadi cita-cita komunis, namun prinsip organisasi tetap tidak berubah, tuntutan terhadap sifat partai tidak berubah. Partai ini, dengan menempatkan dirinya di atas semua umat manusia dan sifat manusiawinya, menyingkirkan semua organisasi maupun perorangan yang dianggap mengganggu kekuasaan, meski orang itu adalah masyarakat biasa atau pun pemimpin tingkat tinggi PKT. Ilmu pengetahuan politik modern menganggap kekuasaan masyarakat datang dari tiga sumber, yaitu kekerasan, kekayaan dan ilmu pengetahuan. Komunis memonopoli dan tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan untuk merampas harta masyarakat dan yang paling penting adalah merampas kebebasan berpendapat dan pers, merampas kebebasan spiritual dan kesadaran masyarakat, untuk mencapai tujuan mengendalikan kekuasaan masyarakat secara mutlak. Dapat dikatakan, pengendalian secara ketat oleh makhluk komunis Tiongkok ini sulit dibandingkan dengan rejim mana pun di dunia ini.
1.      Landreform – Penghapusan Kelas Tuan Tanah
Saat baru tiga bulan berkuasa, Partai Komunis langsung mengadakan landreform secara menyeluruh, dengan slogan “Tanah untuk penggarap” telah membangkitkan sisi keserakahan para petani yang tidak memiliki sawah, mendorong mereka untuk merampas dengan kekerasan dan tanpa mempertimbangkan dampak moral yang diakibatkan oleh tindakan mereka, bahkan juga telah menghasut para petani yang tidak mempunyai lahan untuk menyerang para petani yang memiliki lahan pertanian. Cabangcabang lokal adalah perpanjangan mulut dari instruksi-instruksi Komite Pusat PKT dan juga sebagai garis depan pertentangan antar kelas, menghasut Petani untuk melawan tuan tanah. Hampir 100.000 orang tuan tanah tewas Selama gerakan ini.
2.      Pembaharuan dalam Bidang Industri dan Perdagangan – Menghapus Kelas Kapitalis
Kelas kapitalis yaitu kelompok orang yang menguasai modal yang berada di kota-kota besar dan kecil, juga tidak luput menghadapi kehancuran selama pemerintahan PKT. Ketika mereformasi industri dan perdagangan, PKT mengatakan bahwa kelas kapitalis dan kelas pekerja pada dasarnya tidak sama; yang satu adalah kelas pemeras, satunya lagi adalah kelas nonpemeras atau buruh. Berdasarkan logika ini, kelas kapitalis memang dilahirkan untuk memeras dan tidak akan bisa berhenti sampai mereka dibinasakan; hanya bisa dibinasakan, tidak bisa direformasi. Atas Dasar pemahaman ini, PKT menggunakan cara membunuh dan mencuci otak untuk mengubah kaum kapitalis dan pedagang. Teror yang dilakukan pemerintah selama reformasi ini, membuat kaum kapitalis dan pedagang menyerahkan seluruh asetnya. Banyak di antara mereka tidak tahan menghadapi kenyataan ini dan melakukan bunuh diri Hal ini menunjukkan bagaimana PKT dengan cepat memusnahkan kepemilikan swasta di Tiongkok.
Tujuannya adalah menjadikan komunisme sebagai satu-satunya kekuatan yang meliputi keseluruhan, mengontrol penuh atas seluruh wilayah, tidak hanya tubuh akan tetapi juga pikiran. Revolusi Kebudayaan memaksa pemujaan sepenuhnya terhadap PKT dan Mao Zedong. Teori Mao digunakan untuk mendominasi segala bidang dan pandangan satu orang harus ditanamkan di setiap pikiran puluhan juta orang. Yang unik dari Revolusi Kebudayaan yaitu dengan sengaja tidak menjelaskan apa yang tidak boleh dikerjakan, malah menegaskan “Apa yang dapat dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Segala sesuatu di luar batasan ini tidak boleh dilakukan atau bahkan dipertimbangkan pun tidak boleh. elama masa Revolusi Kebudayaan, setiap penduduk melakukan hal-hal ritual seperti “menanyakan perintah-perintah di pagi hari dan membuat laporan pada malam hari.” Setiap hari mengirim salam hormat kepada Pemimpin Mao beberapa kali, “mendoakannya” berumur panjang. Hampir setiap orang terpelajar pernah menulis pernyataan mengritik diri sendiri. Pernyataan Mao seperti “berperang dengan buas melawan setiap pikiran egois” dan “melaksanakan perintah meskipun paham atau tidak memahaminya, paham setelah proses pelaksanaan berlangsung” seringkali diulang-ulang. Hanya ada satu “Tuhan” (Mao) yang boleh disembah ; hanya ada satu kitab (ajaran Mao) yang boleh dipelajari.


DAFTAR PUSTAKA.
Jiuping, 9 Komentar Mengenai Partai Komunis, Jakarta : The Epoch Times, 2005
Wibowo, I., Berkaca Dari Pengalaman Republik Rakyat Cina: Negara Dan Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Dan Pusat Studi Cina, 2000.
__________, Mao Dan Reformasi Praksis, Jakarta: Pusat Studi Cina, 2000.
Lin Ji Tjou, Masalah Tani Dalam Revolusi Demokratis, Jakarta: Pembaruan, 1964.

Townsend, James R., “Sistem Politik China”, Dalam Mohtar Mas‟Oed Dan Colin Macandrews, Perbandingan Sistem Politik, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1997.

No comments: