By Randy Prasetyo
Setelah mengalami berbagai penantian lama yang membuat menunggu, dengan harapan dia akan datang dan membuka hatinya. Berharap mengetuk dengan salam yang hangat dalam jiwa ini seraya menyambut mentari yang terbit kembali. Begitu besar harapan yang tertanam dalam jiwa dan hati ini membuat gundah dalam diri. Setelah kau ku jadikan genderang dala setiap langkah ini kau berdalih tentang suatu kebenaran dalam dirimu sendiri. Aku bertanya namun kau tetap tak berkata, yang ada hanyalah seribu pertanyaan dalam jiwa ini “mungkinkah engkau seperti itu ? dan apakah engkau mengerti ?”
Kedekatan yang mungkin sudah berbeda dari sebelumnya menjadikan kita berjalan di jalan yang tak beraturan. Engkau selalu berkata biasa saja namun aku selalu beranggapan itu tidak biasa. Mengerti dirimu bersama seseorang yang mungkin engkau anggap nyaman hanyalah sebatas teman sudah menimbulkan bermacam gundah jiwa dengan segelintir banyak pertanyaan dalam diri. Kau memang memiliki alasan yang tepat untuk mengelak dalam hubungan mu denganya, tetapi kau tak bisa menghindar dari segenap pendapat yang menyarankan agar engkau melanjutkan pada jenjang yang sudah bukan teman dengannya. hampa berselimut gundah di hati dan diri ini memikirkan pendapat yang melayang dalam diri pikiran ini. Tak mengapa aku menjadi seperti itu namun aku mempercayai diri mu lebih bahwa kamu masih memiliki sebuah batasan dalam diri.
Aku tak bisa berbuat apa-apa mengingat kau adalah orang yang menyimpan segala sesuatunya sendiri dalam diri. Namun aku mengerti dan paham akan apa yang kau rasakan karena aku juga seperti itu. Namun kita berbeda, kau tak terlihat untuk menyembunyikan berbagai misteri dalam hidup mu dan aku mudah dimengerti orang lain karena sikap ku yang begitu aneh bila menyikapi hidup. Aku tak ingin membatasi kesenangan mu.
Yang perlu kau tahu hanyalah seberapa besar aku menunggu mu. Aku berharap kau datang tak hanya berkata namun engkau datang dengan membawa lari tangan ku dengan senyuman dibibir mu.Masalah tak akan jadi masalah dalam dirimu karena kau masih tetap sama seperti dulu. Aku mengerti namun aku bingung harus berbuat apa. Jika saja kau meminta ku untuk melakukan sesuatu terhadap dirimu maka aku turuti kemauan mu. Bodoh, ya boleh dikatakan seperti itu namun aku melakukannya demi dirimu. Kau tak pernah terbuka pada diriku. Apakah karena aku menjadikan mu bintang dalam hati membuatmu takut akan memberikan harapan yang palsu pada aku. Ingat dan rasakan aku bukanlah seseorang yang terlalu membawa segala sesauatunya serius namun aku berusaha membantu dirimu mengatasi kesulitan dalam hati mu. Selama engaku merasa terselesaikan segala gundah yang datang aku pun merasa lega.
Melawan gundah dalam diri itu memang tidak nyaman. Merasakan apa yang kamu rasakan sangatlah mengganggu pikiran. Memang kau tak merasakan akan apa yang aku pikirkan namun itu menjadi nyata ketika aku melihat mu dan ternyata kamu baik-baik saja. Itu tak bisa nampak ketika kau berada dihadapan ku, dan akupun tahu sedang apa kau dibelakang ku menangis sendu dengan berbagai kekecewaan dalam dirimu. Kita bisa saja memesan segelas bir dalam suatu kafe untuk saling menuangkan kegundahan dalam diri kita masing-masing namun sekali lagi kita tidak bisa memesan takdir yang ada pada diri kita. Aku dengan jalanku dan kamu dengan prinsip mu. Terbesut dalam benak diri dan jiwa ini untuk mendatangimu saat engakau merasa gundah disana, namun biarkan lewat mimpi aku menemani tidurmu. Lewat mimpi pula aku bisa membelai rambut mu, lewat mimpi aku bisa ternsenyum ceria dengan mu, dan lewat mimpi kita bisa berjalan bersama.
Kini aku bukanlah siapa-siapa, hanya seseorang yang pernah ada dalam kehidupan mu. Aku hanya meratapi penyesalan dalam segenap tindakan yang pernah aku lakukan terhadap mu. Tak apa-apa meskipun itu adalah salah namun aku tetap merasa senang akan selalu berada disamping mu waktu itu. Biarkan ini menjadi kegundahan yang tersimpan dalam diri ini sendiri melihat kau berdekatan dengan teman yang pernah kau tolak perasaannya. Aku tak mau menjadi beban dalam dirimu meskipun kau menganggap ku hanya biasa saja. Jika kau mengatakan pada ku “kau membuatku tidak nyaman dengan menungguku, pergilah dan cari yang lebih daripada aku” maka aku tetap memegang prinsip yang kau berikan. Tetapi aku berjalan tak tentu dengan berbagai arah, mencari orang yang lebih seperti dirimu. Hampa yang ada, tak akan terganti dirimu dihatiku.
Biarkan ini menjadi kisah kita, bilamana nanti kita bertemu kembali aku akan memandang mu terus meskipun kau berjalan didepan ku. Aku tak takut lagi akan kehilangan dirimu namun yang aku takutkan adalah ketika kamu mulai melupakan aku yang pernah menyayangimu. Aku mencoba mengikuti arus, tergerus dengan derasnya aliran, terombang-ambing dengan karang disekitarnya. Terhempas seketika tanpa pegangan yang erat. Dengan hadirnya dirimu aku berharap kau menjadi landasan untuk aku berpegangan, yang selalu menemaniku dikala aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Apakah aku harus menyerah pada takdir ? tidak, aku tidak akan menyerah namun aku membutuhkan mu untuk memberiku ide dan sebagai penenang dalam kebingungan arah dalam hidup ini. kini kau tak lagi ada, namun asa ini menghadirkan dirimu ada. Ya bisa dikatakan aku ini hidup dengan banyak khayalan. Tak mengapa aku menjalaninya dengan kehampaan dalam hati namun pikiran ini tetap ada, meskipun engkau tak ada hanyalah asa belaka.
Waktu memang bisa berubah menjadi hal yang sangat berguna, tetapi waktu tetap tidak bisa merubah perasaannya pada diriku. Tentang perasaannya untuk membuka hatinya padaku, aku terus mengetuknya namun dengan suara pelan akankah engkau terbangun. Berpikir dengan keras bagaimana aku membuka pintu itu. Aku tak bisa berbuat banyak, jika aku dengan ego ku sendiri rusak pintu itu. Lantas aku harus apa pada dirimu agar kau menyadarinya ?
Kau begitu indah buat diriku tak bisa membuat aku memiliki hati dan perasaan mu. Seandainya kau itu adalah mutiara maka kau kan menjadi hal yang berharga satu-satunya untuk ku. Aku tak bisa menyentuh mu, namu asa ini menjadikan aku bisa menyentuh mu walaupun itu hanya lewat mimpi. Kau pernah mengatakan pada ku tentang arti sebuah pertemanan, dan betapa berharganya sesuatu yang paling engaku anggap penting. Asa ini sudha menjadi sebuah kebutuhan akan dirimu, membentuk sesuatu yang mampu memnyeangati hari-hari ku. Namun aku tak bisa mengungkapkan apa isi dalam hati ini tentang perasaan ini sesungguhnya pada mu. Ku pendam dalam-dalam, aku simpan keberadaan mu dalam pikiran, dan aku jadikan semua tentang dirimu sebagai pakaian untuk diriku.
Kau begitu bahagia bersama dengan dia yang pun aku tak tahu namanya. Aku mencoba mencari kebenaran tentang hubungan kalian, namun kau tetap tak mau menunjukannya pada ku yang ada hanyalah kata jangan mengklaim sesuatu yang kau tak tahu kebenarannya. Aku memang tak mengetahuinya namun ketika kau menjalin suatu hubungan dengan seseorang hati ini berkata beda, dan bertanya pada diri mu lewat pertempuran batin dengan melawan beribu pikiran mengapa aku tak bisa memiliki mu ? kenapa kau memilih dia ? dan apa kurangnya aku daripada dia ? ada hal memang yang tak harus kau jawab dan ada pula seuatu sebab mengapa dirimu melakukan itu semua.
Dirimu hanya tak mau aku mengisi hatimu, dirimu tak ingin aku berada dalam sisimu. Akankah kau memberiku suatu kesempatan untuk memiliki hatimu walaupun itu hanya 1 hari saja. Tak mengapa hanya sebentar saja aku akan akan begitu senang. Aku sadar aku tak begitu baik seperti dirinya yang selalu ada buat mu, aku bingung akan apa yang harus aku lakukan untuk dirimu. Aku begitu banyak kekurangan untuk dirimu namun kekurangan dalam diriku membuatku kecukupan untuk membahagiakan mu. Aku tidak sesempurna orang yang telah singgah dihatimu, namun ketidak sempurnaanku membuatku sempurna dengan bertemu dirimu. Aku berharap bila nanti kita menyatu kau bisa menerima kecukupan ku ini dan menyempurnakan hidupku yang tak begitu berarti.
Jln. Kembang Turi 18B, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, 18 Oktober 2015
No comments:
Post a Comment