Oleh Randy Prasetyo
Tantangan terhadap masa depan indonesia
kini makin terasa semakin berat, bila fanatisme setiap daerah semakin terasa di
setiap wilayah di indonesia khususnya pemuda dan pemudi yang ada di negeri
nusantara kita. Sesuai dengan pengaruh perkembangan lifestyle alam kehidupan sehari-hari membuat kita akan lupa
pentingnya suatu proses sosial yang saling berbagi dalam ragam budaya, bahasa,
dan tanah air kita. Sikap apatis yang terjadi seiring berjalannya waktu
mengubah tatanan sosial yang ada dimasyarakat, khususnya menyerang mental
pemuda dan pemudi negara indonesia. Ketidak sadaran juga merebah dalam segenap
pemuda akan apa yang ia lakukan pada abad 21. Hal tersebut mengganggu
kelanjutan kelangsungan kehidupan suatu negara tidak hanya dari segi mental,
totalitas, dan kepedulian pemuda untuk melakukan suatu aspek penting dalam
sifat nasionalisme dan patriotisme dalam mengembangkan negeri ini.
Primordialisme merembah kesetiap pelosok
di wilayah negeri seribu pulau. Menjadi ruang pembeda/sekat antara khatulistiwa
yang ada dalam nusantara kita. Tidak saling mengenal satu sama lain antar
pemuda dan pemudi dalam negeri, yang ada hanya sikap acuh dan tak acuh untuk
menikmati diri sesuai dengan keinginan hidupnya saja. Menjelang perkembangan
teknologi yang kian maju secara efektif dan efisien harusnya membuat kita
saling mengenal satu sama lain antar lintas budaya yang kita miliki. Namun hal
tersebut enggan kita lakukan yang ada hanyalah ucapan dalam lisan semata. Tak
semua pemuda yang sadar akan itu semua, namun sikap mereka yang apatis membuat
nusantara kian diambang kepunahan budaya dalam negeri sendiri. Begitu
mengertinya mereka tentang permasalahan dalam negeri ini namun mereka
(pemuda-pemudi) tidak tahun akan sikap yang harus mereka lakukan. Tidak ada
cerminan tindakan dalam diri mereka selain berkata “......ah sudahlah itu urusan pemerintah saja......”. begitulah
ucapan yang sering saya dengar dari mulut pemuda pemudi indonesia untuk
menyikapi permasalahan di indonesia. Saya tidak pernah mengerti apakah mereka
tahu untuk menyikapinya tetapi mereka acuh tak acuh dalam sumbang asihnya atau
mereka memang benar-benar tidak mengetahui permasalahan dalam negeri ini.
Kepedulian pemuda dan pemudi di
indonesia hanya bersifat ilusi dan mimpi belaka. Sekian banyak jumlah mereka
masih memikirkan tentang materi dan kepuasan yang didapat untuk dirinya sendiri
tanpa peduli pada lingkungan sosial mereka sendiri. Kondisilah yang membuat
suatu keadaan mereka berubah. ketika kondisi mereka dihadapkan dengan urusan
kesenangan dan kenikmatan dalam diri, mereka langsung bersikap spontan dan
sebaliknya ketika mereka dihadapkan dengan urusan yang tidak nyaman mereka tuli
dengan menyimak segala sesuatunya. Harusnya mereka tidak seperti itu setidaknya
mereka tahu apa yang harus melakukan untuk kedepannya demi kemajuan tanah
pusaka negeri kita.
SUMPAH PEMUDA, PILAR
KOKOH PANCASILA
Sumpah pemuda adalah sesuatu yang lahir
sebelum pancasila dicetuskan oleh Founding
father negara kita. Sumpah pemuda merupakan unsur terdalam dalam menghayati
persatuan dan kesatuan dalam negara kita yang telah tertuang dalam sila ke 3
dalam butir-butir pancasila. Sumpah pemuda merupakan ikrar janji pemuda dan
pemudi indonesia untuk menegakan nilai budaya, nasionalisme, bahasa, dan
patriotisme diri bangsa indonesia. Namun nilai itu kian luntur tergerus
dinamika perkembangan teknologi. Pendidikan bela negara kembali diterapkan
dalam negeri untuk memperkokoh pondasi keluhuran nilai-nilai pancasila. Hal
yang utam dilakukan dimulai dengan membangun karakter lewat mentalitas pemuda.
Momentum kebangkitan bangsa indonesia
dimulai lewat peran aktiv pemuda dalam memperthankan nilai dan aspek bela
negara sesuai budi luhur pancasila dan keragaman budaya dalam semangat BHINEKA TUNGGAL IKA. Langgam tersebut
tidak hanya tercengkram dalam kaki burung garuda sebagai lambang negara kita,
melainkan sebagai pengingat kepada kita bahwa kita indonesia tidak terdiri dari
satu suku, satu budaya, satu ras, dan satu agama. Langgam tersebut mengandung
semiotika yang sangat luas dengan mempersatukannya dalam negara kita ini,
karena berbeda itu indah, berbeda itu kuat dan tangguh. Memontum ini-lah yang
menghilangkan sekat pembeda kesukuan dan kebudayaan dalam bangsa indonesia saat
membangun dan memperjuangkan proklamasi indonesia. Kita melihat seluruh suku di
negara kita menjadi satu dalam apa yang kemudian kita sebut NKRI (Negara Kesatuan
Republik Indonesia). Jika kita tarik kebelakang, cikal bakalnya terpahat pada
gerakan pertama yakni gerakan boedi oetomo tahun 1908 dan sumpah pemuda tahun
1928. Keseluruhan tahapannya hingga kemudian indonesia menjadi merdeka,
merupakan kerangka nasionalisme dalam membentuk karakter lewat diri patriotisma
dalam jiwa antar suku, dan pemuda pemudinya. Keragaman itu terikat dalam
semangat untuk menyelamatkan kepentingan bersama sebagai suatu bangsa.
Sekian puluh tahun kemudian, perbedaan
suku menjadi persoalan baru. Silang-pendapat maupun pertikaian di suatu daerah
semakin sering kiat terdengar. Salah satu contohnya adalah konflik di sambas
kalimantan barat maupun sampit di kalimantan tengah, mengaskan adanya
persolana-persoalan tersebut yang secara kasat mata terlihat dan menjadi
masalah dalam indonesia. Disebagian daerah mungin tidak mempermasalahkan apakah
tetangganya jawa, sunda, batak, atau ambon, namun didaerah lain hal ini menjadi
penting. Perbedaan agama juga menjadi alasan untuk bertika seperti halnya
diposo maupun ambon terlebihlagi di sampang madura, mengapa dahulu entitas bisa
menyatukan bangsa namun kini menjadi alasan untuk saling bercerai berai ?
Tanah air kita menjadi tumpah darah yang
bisa dikorbankan kembali mengingat bagaiman kita hidup dalam bayangan orang
dahulu. Apakah pemuda sekarang sadar akan sumpah itu ? ya tentu mereka sadar
namun itu hanya hiasan belaka dalam ilmu pengetahuan. Bangsa indonesia itulah
sumpah kedua dalam teks tulisan sumpah pemuda. Bagaimana bangsa ini masih bisa
disebut bangsa dengan keadaan kondisi seperti ini. waktu telah berubah zaman
pun kian berubah menjadi globalisasi yang ada hanyalah sikap pragmatis dalam
setiap pemuda-pemudi dalam bangsa indonesia. Teks yang ketiga dalam sumpah
pemuda adalah berbahasa satu bahasa indonesia. Bagaimana bangsa ini mencoba
menjadi tren kekinian ditengah arus globalisasi ? negara kita ini mulai
terhanyut akan arus tersebut ketika para pemudanya memakai bahasa yang tidak
sesuai dengan teks ke tiga dalam sumpah pemuda dan lebih mengagungkan bahasa
inggris agar tidak kalah saing dengan bangsa lainnya. Lihatlah pula bagaimana
bangsa ini memaduan budaya bahasa kita dengan bahasa yang katanya gaul dan
menjadi trend dikalangan pemuda dan pemudinya. Hanya kelucuan jika kita
mendengar bahasa tersebut. itu sama saja saya mengartikan bahwa bahasa kita
satu bahasa indonesia yang alay pada zaman sekarang ini.
Pancasila yang kata orang sebagi nilai
dasar dalam berbangsa bernegara menjadi mengkerut seketika ketika kita kaitkan
dengan sumpah pemuda. Sumpah pemuda adalah sumpah yang melekat kepada seluruh
pemuda di indonesia tanpa mengenal zaman. Sumpah pemuda kini tidak lebih
sekedar hiasan belaka di setiap sekolah-sekolah. Para pemuda lupa akan sumpah
yang tidak pernah mereka ucapakan dan pancasila juga menjadi kesesatan
pengetahuan bagi pemuda pemudi pada zaman sekarang. Terlepas dari sumpah pemuda
dan makna pancasila dalam sila ke tiga, sumpah pemuda menjadi harapan akan
indonesia untuk bersatu. Indonesia yang melupakan label-label kedaerahannya dan
menyatu menjadi sebuah masyarakat yang satu. Primordialisme yang tinggi membuat
kita mengagung-agungkan dan lupa dengan kata kita satu. Hal tersebut menjadi
tantangan tersendiri, dimana indonesia di diami oleh bermacam-macam bangsa yang
berbeda. Terlebih lagi di zaman globalisasi, dimana keragaman semakin diperkuat
hingga menciptak primordial yang kuat akhirnya menjadi suatu pertikaian dalam
setiap daerah. Ini menjadi ironis ketika sumpah pemuda tak menjadi sumpah
pemuda lagi, dan gajah mada telah menjadi gajah duduk lagi.
Harusnya sumpah pemuda menyadarkan kita
mengapa indonesia harus menjadi negara kesatuan dalam cengkraman pancasila
seperti yang saya jelaskan diatas. Harusnya mereka semua sadar akan persatuan
itu semua, harusnya mereka mengetahui itu semua bahwa kita tidak lagi menjadi
kedaerahan seperti halnya desentrasilasi otonomi daerah, tetapi kita menjadi
suatu negara yang memiliki budaya pada setiap darah. Disanalah kita kan menyatu
dengan menghayati nilai dari sumpah pemuda untuk menciptakan persatuan
indonesia bukan negara serikat indonesia.
Perlunya memahami arti nasionalisme dan
patriotisme dalam meningkatkan pemahaman dalam etika pancasila merupakan
langkah awal bagi pemuda untuk menumbuhkan rasa dalam jiwa dan raga. Dengan
cara itu mungkin kita tak akan melupakan suatu nilai dalam budaya kita, nilai
dalam kepemudaan kita dan peranan pemuda dalam masa depan indonesia. Kepekaan
dalam membaca peluang dan permasalahan dalam negeri untuk menciptakan
penyelesaian dalam setiap permasalahan yang ada. Kita tidak tahu kapan kita
berperang lagi untuk menjadi satu seperti dahulu, tapi setidaknya kita bisa
memahami satu sama lain dengan prinsip gotong royong dalam nilai pancasila
dalam menghadapi globalisasi pada zaman sekarang.
PEMUDA SEBAGAI PENGGERAK
MASA DEPAN INDONESIA
Awal mula dari segala peristiwa
pergerakan dalam negeri ini membuat dramatika yang sangat haru dirasakan oleh
kalangan pejuang dan sampai sekarang dirasakan dalam kenangan hanya bagi
segelintir orang. Pergerakan itu dimulai dari awal mula terbentuknya
organisasis Boedi oetomo yang
dipelopori oleh 9 pemuda indonesia yang belajar di STOVIA. 9 pemuda ini
menyadari akan arti senasib sepenanggungan, kebutuhan untuk pendidikan rakyat,
dan sebagai pemersatu kalangan dijawa pada waktu. Namun seiring berjalannya
waktu hal tersebut menjadi kesadaran bagi seluruh kalangan, tidak hanya jawa,
melainkan seluruh pemuda yang ada di nusantara ada jong sumtra, jong celebes,
jong ambon, dan lain-lain. Kesadaran inilah membuat seluruh pemuda yang senasib
sepenanggungan untuk membebaskan negeri ini dari tirani kolonialisme yang ada
di indonesia. Pemuda sadar arti pentingnya suatu kebebasan untuk kedepannya,
bagimana tidak nyamannya tertindas. Namun dalam konteks zaman sekarang apa yang
menjadikan pemuda kita sadar akan persatuan indonesia sedangkan kita tidak lagi
memiliki nasib yang sama yakni nasib yang tersakiti ?
Pada 30 April – 2 Mei 1926, para pemuda
diseluruh nusantara melakukan pertemuan untuk mengadakan kongres yang pertama
yang terdiri dari pelajar-pelajar yang pada waktu itu memiliki pendidikan dari
kalangan priyai. Tema dalam kongres 1 ini merupakan membahas tentang
bahasa-bahasa dan kesusastraan indonesia di zaman mendatang. Mengapa sidang ini
membahas tentang bahasa ? karena perbedaan bahasa yang membuat setiap daerah
tidak paham akan komunikasi pada waktu itu. Untuk itulah perlunya suatu bahasa
yang menyatukan mereka.
Pada 27 oktober 1928, kongres pemuda
kembali diadakan untuk yang kedua kalinya. Hal ini membahas tentang persatuan
dan kebangsaan indonesia guna mempererat rasa yang dimiliki suatu rasa yang
senasib dan sepenanggungan akan penjajahan kolonialisme. Pada tanggal 28
Oktober 1928, munculnya suatu teks sumpah pemuda yang mempersatukan seluruh
pemuda di indonesia untuk bersama membebaskan diri dari penjajahan kolonialisme
belanda dan mengatasnamakan satu bangsa, tanah air, dan bahasa. Kerapatan-kerapatan
inilah yang memperkuat dan menjadikan lahirnya teks sumpah pemuda untuk menjadi
komitmen pergeran pemuda dalam menggapai masa depan indonesia yang bebas
merdeka, bebas dari penjajahan, mendapatkan pendidikan bagi seluruh kalangan.
Bila kita bandingkan apa yang menjadi
langkah awal sampai sekarang mengalami suatu kemunduran dalam diri pemuda dan
pemudi. Berangkat dari senasib sepenanggungan yang menghilangkan sisi
etnosentrisme dan primordialime kedaerahannya menjadikan bangsa ini mampu bebas
dari penindasan kolonialisme belanda. Sedangkan sekarang merupakan kondisi yang
berbeda dari dahulu, sekarang tidak ada lagi yang namanya senasib sepenanggungan
yang ada hanyalah kenyamanan diri sendiri.
Kurangnya rasa empati dalam setiap diri
pemuda menjadikan pemuda enggan untuk saling membantu dan toleransi dalam
sesama. Terkadang kita semua sadar apa yang terjadi di luar sana tidak menjadi
beban dalam diri kita, tidak-kah kita harus bisa merasakan apa yang mereka
rasakan harusnya ? bila mana itu terjadi kepada kita bagaimana ? contoh yang
paling nyata dalam masalah ini adalah kebakaran hutan di riau, masyarakat sana
sangatlah bingung harus sperti apa menindak lanjuti asap yang sangat tebal dan
mengganggu pernapasan, sedangkan kita didaerah kita sedang menikmati sebatang
rokok yang keluar asap dari dalam mulut kita. Tidak kah kita merasakan
kesesakan dalam masyaraat riau ? lantas apa yang harus kita lakukan ? mungkin
jika kita berempati lebih maka kita akan merasakan apa yang mereka rasakan. Namun
pada akhirnya kita akan melakukan suatu tindakan untuk membantu sahabat kita di
Riau sana.
Kesadaran dalam diri atas tindakan.
Mungkin ini yang menjadi kurang oleh pemuda indonesia saat ini. mereka hanya
sadar akan dirinya sendiri tanpa sadar kita harus berbuat apa. Jika semua
pemuda sadar akan pentingnya persatuan maka mereka akan menjadi pemuda yang
saling tolong-menolong, kritis dalam menyikapi permasalahan, dan memiliki hati
yang bermental baja. Kesadaran merupakan langkah awal untuk menggapai masa
depan indonesia. Tanpa adanya kesadaran tidak mungkin pemuda dahulu melakukan
gerakan radikal dan perlawanan kepada kolonialisme belanda. Kesadaran akan
memotivasi kita dari rasa takut untuk melawan hal yang menindas. Melalui
kesadaran menjadikan kita mengerti harus berbuat apa. Sadar menjadi aksi,
tindakan menjadi suatu reaksi tanpa berpangku tangan menunggu ajal datang.
Jangalah lari dari permasalahan. Pemuda
sekarang banyak yang menghindar dari beberapa masalah untuk menjadikan dirinya
nyaman dan takut untuk susah. Menyikapi itu semua mereka terlalu menjadi instan
untuk segala urusan yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, bisakah pemuda
sekarang untuk hidup dari kenyamanan beralih pada ketidaknyamanan,
ketergantungan menjadi kemandirian, dan ketidak pedulian menjadi peduli ? saya
rasa itu mungkin bisa kita lakukan, coba kita ingat pancasila selaku nilai
dasar fundamentalis negara kita yang menjadi cermin jati diri bangsa. Hal
tersebut tidak juga menjadi cermin negara, melainkan cermin jati diri seorang
manusia yang tinggal dalam jati diri indonesia itu sendiri. Kasaran yang saya
katakan adalah kita harus menjadi pancasila untuk menjadi indonesia. Takut akan
mengambil resiko dalam kehidupan pemuda membuat pemuda sekarang menjadi sesuatu
yang beda dan melakukan sesuatu hanya setengah-setengah dengan kata lain
pembelajaran dan pengetahuan mereka hanya bersifat multitask tanpa mempelajari
secara spesifikasi tertentu. Ketika dihadapkan dalam suatu masalah dalam
masalah mereka pada mulanya bersemangat dalam proses penyelesaiannya, namun
lambat laun ketika mereka sudah mengalami titik jenuh dalam permasalahan
tersebut mereka enggan menghadapinya malahan mereka mencari suatu kesenangan
sehingga terlupa akan permasalahan awal. Lagi-lagi idealisme pemuda di uji
dalam semangatnya.
Lalu apakah yang membuat pemuda sekarang
enggan bersatu ? hal apa yang akan mempersatukan mereka pada sekarang ini ?
Kita enggan bersatu karena kita bersifat
idealisme kita sendiri-sendiri, bukan kita menjadi dalam satu kesatuan paham.
Berat memang kalau kita berbicara isme-isme, dan paham-paham itu semua hanya
menjadi konflik dan pertentangan dalam penerapannya dan tidak akan saling
bersatu ibarat minyak dan air. Idealis hanya merupakan kulit terluar dalam
pandangan secara luas, bila kita telusuri secara mendalam tentang suatu
kesatuan dan persatuan maka itu kita berbicara tentang kepentingan itu sendiri.
Dimana kepentingan itu bersifat sama, dan memiliki keuntungan satu sama lain.
Kepentingan setiap orang berbeda-beda dalam memenuhi hasrat dan nafsunya. Ini
yang membuat kita enggan untuk bersatu dan saling memahami satu sama lain. Beda
pula konteksnya ketika kita ingin membantu sesuatu hanya menginginkan suatu
imbalan, itu karena kadang pemikiran setiap orang tidak selalu idealis tetapi
pragmatis-pun juga. Jika kita melihat pemaparan saya diatas tentang kaitan
sumpah pemuda dan pancasila maka dahulu memang pemuda memiliki suatu
kepentingan bersama yakni ingin merdeka dan berdaulat sendiri dari penjajahan
kolonialisme. Ini hal yang sulit untuk ditemukan, hipotesa saya untuk
menyatukan pemuda sekarang apakah dengan menindas mereka sehingga menimbulkan
suatu konflik ?
Saya teringat tentang beberapa kalimat
yang di ucapkan bapak proklamator kita “perjuangan
kalian lebih berat daripada kami, kami hanya mengusir musuh kita yakni para
penjajah, sedangkan kalian adalah dihadapkan dengan imprealisme membuat perang
dengan saudara sendri”. Tidak kalimat tersebut sudah jelas, namun bagaiman
membuat mereka sadar akan itu semua ? mereka terlalu berperilaku non-empati,
konsumtif, interdependensi, dan membeda-bedakan kepentingan secara pragmatis.
Kita harus berubah, baik secara fisik dan
mental kita. Kalau tidak kita akan menjadi tercerai berai kembali seperti awal
mula kita belum memiliki suatu yang namanya SUMPAH PEMUDA. Kita perlu mencari
dan menggali kembali jati diri kita sendiri. Siapa kita ? apa yang terjadi
dalam diri kita ? mengapa kita seperti ini ? dimana kita tinggal ? kapan kita
akan berubah ? dan bagaiman kita menyikapinya ? hal itu jelas dimulai dari kita
sendiri sebagai pemuda untuk mengerti jati diri sendir sehingga kita tahu apa
yang akan kita lakukan kedepannya pada bangsa ini. setidaknya kita menjadi
suatu pondasi yang kuat untuk tanah air, bangsa dan bahasa kita yaitu
indonesia.
No comments:
Post a Comment