Monday, 9 November 2015

SUMPAH PEMUDA, PILAR KOKOH PANCASILA DAN PENGGERAK MASA DEPAN INDONESIA

Oleh Randy Prasetyo
Tantangan terhadap masa depan indonesia kini makin terasa semakin berat, bila fanatisme setiap daerah semakin terasa di setiap wilayah di indonesia khususnya pemuda dan pemudi yang ada di negeri nusantara kita. Sesuai dengan pengaruh perkembangan lifestyle alam kehidupan sehari-hari membuat kita akan lupa pentingnya suatu proses sosial yang saling berbagi dalam ragam budaya, bahasa, dan tanah air kita. Sikap apatis yang terjadi seiring berjalannya waktu mengubah tatanan sosial yang ada dimasyarakat, khususnya menyerang mental pemuda dan pemudi negara indonesia. Ketidak sadaran juga merebah dalam segenap pemuda akan apa yang ia lakukan pada abad 21. Hal tersebut mengganggu kelanjutan kelangsungan kehidupan suatu negara tidak hanya dari segi mental, totalitas, dan kepedulian pemuda untuk melakukan suatu aspek penting dalam sifat nasionalisme dan patriotisme dalam mengembangkan negeri ini.
Primordialisme merembah kesetiap pelosok di wilayah negeri seribu pulau. Menjadi ruang pembeda/sekat antara khatulistiwa yang ada dalam nusantara kita. Tidak saling mengenal satu sama lain antar pemuda dan pemudi dalam negeri, yang ada hanya sikap acuh dan tak acuh untuk menikmati diri sesuai dengan keinginan hidupnya saja. Menjelang perkembangan teknologi yang kian maju secara efektif dan efisien harusnya membuat kita saling mengenal satu sama lain antar lintas budaya yang kita miliki. Namun hal tersebut enggan kita lakukan yang ada hanyalah ucapan dalam lisan semata. Tak semua pemuda yang sadar akan itu semua, namun sikap mereka yang apatis membuat nusantara kian diambang kepunahan budaya dalam negeri sendiri. Begitu mengertinya mereka tentang permasalahan dalam negeri ini namun mereka (pemuda-pemudi) tidak tahun akan sikap yang harus mereka lakukan. Tidak ada cerminan tindakan dalam diri mereka selain berkata “......ah sudahlah itu urusan pemerintah saja......”. begitulah ucapan yang sering saya dengar dari mulut pemuda pemudi indonesia untuk menyikapi permasalahan di indonesia. Saya tidak pernah mengerti apakah mereka tahu untuk menyikapinya tetapi mereka acuh tak acuh dalam sumbang asihnya atau mereka memang benar-benar tidak mengetahui permasalahan dalam negeri ini.
Kepedulian pemuda dan pemudi di indonesia hanya bersifat ilusi dan mimpi belaka. Sekian banyak jumlah mereka masih memikirkan tentang materi dan kepuasan yang didapat untuk dirinya sendiri tanpa peduli pada lingkungan sosial mereka sendiri. Kondisilah yang membuat suatu keadaan mereka berubah. ketika kondisi mereka dihadapkan dengan urusan kesenangan dan kenikmatan dalam diri, mereka langsung bersikap spontan dan sebaliknya ketika mereka dihadapkan dengan urusan yang tidak nyaman mereka tuli dengan menyimak segala sesuatunya. Harusnya mereka tidak seperti itu setidaknya mereka tahu apa yang harus melakukan untuk kedepannya demi kemajuan tanah pusaka negeri kita.

SUMPAH PEMUDA, PILAR KOKOH PANCASILA
Sumpah pemuda adalah sesuatu yang lahir sebelum pancasila dicetuskan oleh Founding father negara kita. Sumpah pemuda merupakan unsur terdalam dalam menghayati persatuan dan kesatuan dalam negara kita yang telah tertuang dalam sila ke 3 dalam butir-butir pancasila. Sumpah pemuda merupakan ikrar janji pemuda dan pemudi indonesia untuk menegakan nilai budaya, nasionalisme, bahasa, dan patriotisme diri bangsa indonesia. Namun nilai itu kian luntur tergerus dinamika perkembangan teknologi. Pendidikan bela negara kembali diterapkan dalam negeri untuk memperkokoh pondasi keluhuran nilai-nilai pancasila. Hal yang utam dilakukan dimulai dengan membangun karakter lewat mentalitas pemuda.
Momentum kebangkitan bangsa indonesia dimulai lewat peran aktiv pemuda dalam memperthankan nilai dan aspek bela negara sesuai budi luhur pancasila dan keragaman budaya dalam semangat BHINEKA TUNGGAL IKA. Langgam tersebut tidak hanya tercengkram dalam kaki burung garuda sebagai lambang negara kita, melainkan sebagai pengingat kepada kita bahwa kita indonesia tidak terdiri dari satu suku, satu budaya, satu ras, dan satu agama. Langgam tersebut mengandung semiotika yang sangat luas dengan mempersatukannya dalam negara kita ini, karena berbeda itu indah, berbeda itu kuat dan tangguh. Memontum ini-lah yang menghilangkan sekat pembeda kesukuan dan kebudayaan dalam bangsa indonesia saat membangun dan memperjuangkan proklamasi indonesia. Kita melihat seluruh suku di negara kita menjadi satu dalam apa yang kemudian kita sebut NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Jika kita tarik kebelakang, cikal bakalnya terpahat pada gerakan pertama yakni gerakan boedi oetomo tahun 1908 dan sumpah pemuda tahun 1928. Keseluruhan tahapannya hingga kemudian indonesia menjadi merdeka, merupakan kerangka nasionalisme dalam membentuk karakter lewat diri patriotisma dalam jiwa antar suku, dan pemuda pemudinya. Keragaman itu terikat dalam semangat untuk menyelamatkan kepentingan bersama sebagai suatu bangsa.
Sekian puluh tahun kemudian, perbedaan suku menjadi persoalan baru. Silang-pendapat maupun pertikaian di suatu daerah semakin sering kiat terdengar. Salah satu contohnya adalah konflik di sambas kalimantan barat maupun sampit di kalimantan tengah, mengaskan adanya persolana-persoalan tersebut yang secara kasat mata terlihat dan menjadi masalah dalam indonesia. Disebagian daerah mungin tidak mempermasalahkan apakah tetangganya jawa, sunda, batak, atau ambon, namun didaerah lain hal ini menjadi penting. Perbedaan agama juga menjadi alasan untuk bertika seperti halnya diposo maupun ambon terlebihlagi di sampang madura, mengapa dahulu entitas bisa menyatukan bangsa namun kini menjadi alasan untuk saling bercerai berai ?
Tanah air kita menjadi tumpah darah yang bisa dikorbankan kembali mengingat bagaiman kita hidup dalam bayangan orang dahulu. Apakah pemuda sekarang sadar akan sumpah itu ? ya tentu mereka sadar namun itu hanya hiasan belaka dalam ilmu pengetahuan. Bangsa indonesia itulah sumpah kedua dalam teks tulisan sumpah pemuda. Bagaimana bangsa ini masih bisa disebut bangsa dengan keadaan kondisi seperti ini. waktu telah berubah zaman pun kian berubah menjadi globalisasi yang ada hanyalah sikap pragmatis dalam setiap pemuda-pemudi dalam bangsa indonesia. Teks yang ketiga dalam sumpah pemuda adalah berbahasa satu bahasa indonesia. Bagaimana bangsa ini mencoba menjadi tren kekinian ditengah arus globalisasi ? negara kita ini mulai terhanyut akan arus tersebut ketika para pemudanya memakai bahasa yang tidak sesuai dengan teks ke tiga dalam sumpah pemuda dan lebih mengagungkan bahasa inggris agar tidak kalah saing dengan bangsa lainnya. Lihatlah pula bagaimana bangsa ini memaduan budaya bahasa kita dengan bahasa yang katanya gaul dan menjadi trend dikalangan pemuda dan pemudinya. Hanya kelucuan jika kita mendengar bahasa tersebut. itu sama saja saya mengartikan bahwa bahasa kita satu bahasa indonesia yang alay pada zaman sekarang ini.
Pancasila yang kata orang sebagi nilai dasar dalam berbangsa bernegara menjadi mengkerut seketika ketika kita kaitkan dengan sumpah pemuda. Sumpah pemuda adalah sumpah yang melekat kepada seluruh pemuda di indonesia tanpa mengenal zaman. Sumpah pemuda kini tidak lebih sekedar hiasan belaka di setiap sekolah-sekolah. Para pemuda lupa akan sumpah yang tidak pernah mereka ucapakan dan pancasila juga menjadi kesesatan pengetahuan bagi pemuda pemudi pada zaman sekarang. Terlepas dari sumpah pemuda dan makna pancasila dalam sila ke tiga, sumpah pemuda menjadi harapan akan indonesia untuk bersatu. Indonesia yang melupakan label-label kedaerahannya dan menyatu menjadi sebuah masyarakat yang satu. Primordialisme yang tinggi membuat kita mengagung-agungkan dan lupa dengan kata kita satu. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri, dimana indonesia di diami oleh bermacam-macam bangsa yang berbeda. Terlebih lagi di zaman globalisasi, dimana keragaman semakin diperkuat hingga menciptak primordial yang kuat akhirnya menjadi suatu pertikaian dalam setiap daerah. Ini menjadi ironis ketika sumpah pemuda tak menjadi sumpah pemuda lagi, dan gajah mada telah menjadi gajah duduk lagi.
Harusnya sumpah pemuda menyadarkan kita mengapa indonesia harus menjadi negara kesatuan dalam cengkraman pancasila seperti yang saya jelaskan diatas. Harusnya mereka semua sadar akan persatuan itu semua, harusnya mereka mengetahui itu semua bahwa kita tidak lagi menjadi kedaerahan seperti halnya desentrasilasi otonomi daerah, tetapi kita menjadi suatu negara yang memiliki budaya pada setiap darah. Disanalah kita kan menyatu dengan menghayati nilai dari sumpah pemuda untuk menciptakan persatuan indonesia bukan negara serikat indonesia.
Perlunya memahami arti nasionalisme dan patriotisme dalam meningkatkan pemahaman dalam etika pancasila merupakan langkah awal bagi pemuda untuk menumbuhkan rasa dalam jiwa dan raga. Dengan cara itu mungkin kita tak akan melupakan suatu nilai dalam budaya kita, nilai dalam kepemudaan kita dan peranan pemuda dalam masa depan indonesia. Kepekaan dalam membaca peluang dan permasalahan dalam negeri untuk menciptakan penyelesaian dalam setiap permasalahan yang ada. Kita tidak tahu kapan kita berperang lagi untuk menjadi satu seperti dahulu, tapi setidaknya kita bisa memahami satu sama lain dengan prinsip gotong royong dalam nilai pancasila dalam menghadapi globalisasi pada zaman sekarang.

PEMUDA SEBAGAI PENGGERAK MASA DEPAN INDONESIA
Awal mula dari segala peristiwa pergerakan dalam negeri ini membuat dramatika yang sangat haru dirasakan oleh kalangan pejuang dan sampai sekarang dirasakan dalam kenangan hanya bagi segelintir orang. Pergerakan itu dimulai dari awal mula terbentuknya organisasis Boedi oetomo yang dipelopori oleh 9 pemuda indonesia yang belajar di STOVIA. 9 pemuda ini menyadari akan arti senasib sepenanggungan, kebutuhan untuk pendidikan rakyat, dan sebagai pemersatu kalangan dijawa pada waktu. Namun seiring berjalannya waktu hal tersebut menjadi kesadaran bagi seluruh kalangan, tidak hanya jawa, melainkan seluruh pemuda yang ada di nusantara ada jong sumtra, jong celebes, jong ambon, dan lain-lain. Kesadaran inilah membuat seluruh pemuda yang senasib sepenanggungan untuk membebaskan negeri ini dari tirani kolonialisme yang ada di indonesia. Pemuda sadar arti pentingnya suatu kebebasan untuk kedepannya, bagimana tidak nyamannya tertindas. Namun dalam konteks zaman sekarang apa yang menjadikan pemuda kita sadar akan persatuan indonesia sedangkan kita tidak lagi memiliki nasib yang sama yakni nasib yang tersakiti ?
Pada 30 April – 2 Mei 1926, para pemuda diseluruh nusantara melakukan pertemuan untuk mengadakan kongres yang pertama yang terdiri dari pelajar-pelajar yang pada waktu itu memiliki pendidikan dari kalangan priyai. Tema dalam kongres 1 ini merupakan membahas tentang bahasa-bahasa dan kesusastraan indonesia di zaman mendatang. Mengapa sidang ini membahas tentang bahasa ? karena perbedaan bahasa yang membuat setiap daerah tidak paham akan komunikasi pada waktu itu. Untuk itulah perlunya suatu bahasa yang menyatukan mereka.
Pada 27 oktober 1928, kongres pemuda kembali diadakan untuk yang kedua kalinya. Hal ini membahas tentang persatuan dan kebangsaan indonesia guna mempererat rasa yang dimiliki suatu rasa yang senasib dan sepenanggungan akan penjajahan kolonialisme. Pada tanggal 28 Oktober 1928, munculnya suatu teks sumpah pemuda yang mempersatukan seluruh pemuda di indonesia untuk bersama membebaskan diri dari penjajahan kolonialisme belanda dan mengatasnamakan satu bangsa, tanah air, dan bahasa. Kerapatan-kerapatan inilah yang memperkuat dan menjadikan lahirnya teks sumpah pemuda untuk menjadi komitmen pergeran pemuda dalam menggapai masa depan indonesia yang bebas merdeka, bebas dari penjajahan, mendapatkan pendidikan bagi seluruh kalangan.
Bila kita bandingkan apa yang menjadi langkah awal sampai sekarang mengalami suatu kemunduran dalam diri pemuda dan pemudi. Berangkat dari senasib sepenanggungan yang menghilangkan sisi etnosentrisme dan primordialime kedaerahannya menjadikan bangsa ini mampu bebas dari penindasan kolonialisme belanda. Sedangkan sekarang merupakan kondisi yang berbeda dari dahulu, sekarang tidak ada lagi yang namanya senasib sepenanggungan yang ada hanyalah kenyamanan diri sendiri.
Kurangnya rasa empati dalam setiap diri pemuda menjadikan pemuda enggan untuk saling membantu dan toleransi dalam sesama. Terkadang kita semua sadar apa yang terjadi di luar sana tidak menjadi beban dalam diri kita, tidak-kah kita harus bisa merasakan apa yang mereka rasakan harusnya ? bila mana itu terjadi kepada kita bagaimana ? contoh yang paling nyata dalam masalah ini adalah kebakaran hutan di riau, masyarakat sana sangatlah bingung harus sperti apa menindak lanjuti asap yang sangat tebal dan mengganggu pernapasan, sedangkan kita didaerah kita sedang menikmati sebatang rokok yang keluar asap dari dalam mulut kita. Tidak kah kita merasakan kesesakan dalam masyaraat riau ? lantas apa yang harus kita lakukan ? mungkin jika kita berempati lebih maka kita akan merasakan apa yang mereka rasakan. Namun pada akhirnya kita akan melakukan suatu tindakan untuk membantu sahabat kita di Riau sana.
Kesadaran dalam diri atas tindakan. Mungkin ini yang menjadi kurang oleh pemuda indonesia saat ini. mereka hanya sadar akan dirinya sendiri tanpa sadar kita harus berbuat apa. Jika semua pemuda sadar akan pentingnya persatuan maka mereka akan menjadi pemuda yang saling tolong-menolong, kritis dalam menyikapi permasalahan, dan memiliki hati yang bermental baja. Kesadaran merupakan langkah awal untuk menggapai masa depan indonesia. Tanpa adanya kesadaran tidak mungkin pemuda dahulu melakukan gerakan radikal dan perlawanan kepada kolonialisme belanda. Kesadaran akan memotivasi kita dari rasa takut untuk melawan hal yang menindas. Melalui kesadaran menjadikan kita mengerti harus berbuat apa. Sadar menjadi aksi, tindakan menjadi suatu reaksi tanpa berpangku tangan menunggu ajal datang.
Jangalah lari dari permasalahan. Pemuda sekarang banyak yang menghindar dari beberapa masalah untuk menjadikan dirinya nyaman dan takut untuk susah. Menyikapi itu semua mereka terlalu menjadi instan untuk segala urusan yang ada. Sekarang pertanyaannya adalah, bisakah pemuda sekarang untuk hidup dari kenyamanan beralih pada ketidaknyamanan, ketergantungan menjadi kemandirian, dan ketidak pedulian menjadi peduli ? saya rasa itu mungkin bisa kita lakukan, coba kita ingat pancasila selaku nilai dasar fundamentalis negara kita yang menjadi cermin jati diri bangsa. Hal tersebut tidak juga menjadi cermin negara, melainkan cermin jati diri seorang manusia yang tinggal dalam jati diri indonesia itu sendiri. Kasaran yang saya katakan adalah kita harus menjadi pancasila untuk menjadi indonesia. Takut akan mengambil resiko dalam kehidupan pemuda membuat pemuda sekarang menjadi sesuatu yang beda dan melakukan sesuatu hanya setengah-setengah dengan kata lain pembelajaran dan pengetahuan mereka hanya bersifat multitask tanpa mempelajari secara spesifikasi tertentu. Ketika dihadapkan dalam suatu masalah dalam masalah mereka pada mulanya bersemangat dalam proses penyelesaiannya, namun lambat laun ketika mereka sudah mengalami titik jenuh dalam permasalahan tersebut mereka enggan menghadapinya malahan mereka mencari suatu kesenangan sehingga terlupa akan permasalahan awal. Lagi-lagi idealisme pemuda di uji dalam semangatnya.
Lalu apakah yang membuat pemuda sekarang enggan bersatu ? hal apa yang akan mempersatukan mereka pada sekarang ini ?
Kita enggan bersatu karena kita bersifat idealisme kita sendiri-sendiri, bukan kita menjadi dalam satu kesatuan paham. Berat memang kalau kita berbicara isme-isme, dan paham-paham itu semua hanya menjadi konflik dan pertentangan dalam penerapannya dan tidak akan saling bersatu ibarat minyak dan air. Idealis hanya merupakan kulit terluar dalam pandangan secara luas, bila kita telusuri secara mendalam tentang suatu kesatuan dan persatuan maka itu kita berbicara tentang kepentingan itu sendiri. Dimana kepentingan itu bersifat sama, dan memiliki keuntungan satu sama lain. Kepentingan setiap orang berbeda-beda dalam memenuhi hasrat dan nafsunya. Ini yang membuat kita enggan untuk bersatu dan saling memahami satu sama lain. Beda pula konteksnya ketika kita ingin membantu sesuatu hanya menginginkan suatu imbalan, itu karena kadang pemikiran setiap orang tidak selalu idealis tetapi pragmatis-pun juga. Jika kita melihat pemaparan saya diatas tentang kaitan sumpah pemuda dan pancasila maka dahulu memang pemuda memiliki suatu kepentingan bersama yakni ingin merdeka dan berdaulat sendiri dari penjajahan kolonialisme. Ini hal yang sulit untuk ditemukan, hipotesa saya untuk menyatukan pemuda sekarang apakah dengan menindas mereka sehingga menimbulkan suatu konflik ?
Saya teringat tentang beberapa kalimat yang di ucapkan bapak proklamator kita “perjuangan kalian lebih berat daripada kami, kami hanya mengusir musuh kita yakni para penjajah, sedangkan kalian adalah dihadapkan dengan imprealisme membuat perang dengan saudara sendri”. Tidak kalimat tersebut sudah jelas, namun bagaiman membuat mereka sadar akan itu semua ? mereka terlalu berperilaku non-empati, konsumtif, interdependensi, dan membeda-bedakan kepentingan secara pragmatis.



Kita harus berubah, baik secara fisik dan mental kita. Kalau tidak kita akan menjadi tercerai berai kembali seperti awal mula kita belum memiliki suatu yang namanya SUMPAH PEMUDA. Kita perlu mencari dan menggali kembali jati diri kita sendiri. Siapa kita ? apa yang terjadi dalam diri kita ? mengapa kita seperti ini ? dimana kita tinggal ? kapan kita akan berubah ? dan bagaiman kita menyikapinya ? hal itu jelas dimulai dari kita sendiri sebagai pemuda untuk mengerti jati diri sendir sehingga kita tahu apa yang akan kita lakukan kedepannya pada bangsa ini. setidaknya kita menjadi suatu pondasi yang kuat untuk tanah air, bangsa dan bahasa kita yaitu indonesia.

No comments: