Tuesday, 4 March 2014
Saturday, 1 March 2014
Isu dan Potret Buram Birokrasi Pelayanan Publik
Bab 1
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Pada bagian akhir abad ke-20 ini kita telah menyaksikan
perubahan-perubahan besar yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik
di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun pertahanan dan keamanan. munculnya
tuntutan yang lebih besar ke arah demokratisasi, keterbukaan, dan pemberdayaan;
dibidang ekonomi hal yang sama juga terjadi seperti tuntutan pada perdagangan
bebas, hilangnya protectionism, adanya kelompokkelompok ekonomi, dan perdagangan
baru, demokratisasi bidang ekonomi dan sebagainya; di bidang sosial budaya
perubahan-perubahan besar juga sedang terjadi seperti makinkaburnya
nilai-nilai tradisional, mengendurnya nilai-nilai moral dan etika, tuntutan
terhadap kebebasan yang makin besar dan makin mengglobalnya kehidupan
masyarakat. Isue-isue penting maupun pandanganpandangan yang kontroversi setiap
Hari dapat dilihat di media cetak Atau di media elektronik. Kita memang Telah
tiba pada abad informasi sehingga aparatur pemerintah harus dapat menjawab
tantangan ini untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik pada
masyarakat.
Kualitas pelayanan publik telah lama menjadi
kajian di banyak negara. Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang
berkualitas hampir setiap hari dapat dibaca di media cetak atau dilihat dimedia
elektronik, juga digunjingkan oleh banyak orang di rumah maupun di
tempat-tempat umum.Sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian organisasi publik
masih harus meningkatkan pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Marzuki Usman
(1997) menyatakan bahwa: Dewasa ini
konsep kualitas telah menjadi suatu credo universal dan telah menjadi faktor
yang sangat dominan terhadap keberhasilan suatu organisasi. “Quality mindset”
ini tidak saja dihadapi lembaga penyelenggara jasa-jasa komersial, tetapi telah
menembus kelembaga-lembaga pemerintahan yang selama ini resisten terhadap tuntutan
kualitas pelayanan publik yang prima. Suatu data empiris di bidang marketing
menyebutkan bahwa sekitar 95% konsumen yang tidak puas memilih untuk tidak
melakukan pengaduan tetapi sebagian besar cukup menghentikan pembeliannya.
(Kotler,1997).
Citra buruk tersebut
semakin diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan, yang berhubungan
dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik, yakni korupsi dengan
beranekaragam bentuknya, serta lambatnya pelayanan, dan diikuti dengan prosedur
yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape).
Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan
konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan
unsur-unsur dalam proses pemerintahan. Birokrasi, dalam keadaan demikian, hanya
berfungsi sebagai pengendali, penegak disiplin, dan penyelenggara pemerintahan
dengan kekuasaan yang sangat besar, tetapi sangat mengabaikan fungsi pelayanan
masyarakat.
Buruk serta tidak
transparannya kinerja birokrasi bisa mendorong masyarakat untuk mencari ''jalan
pintas'' dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai
atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Situasi seperti ini pada gilirannya
seringkali mendorong para pejabat untuk mencari ''kesempatan'' dalam
''kesempitan'' agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya.
Apabila ditelusuri
lebih jauh, gejala patologi dalam birokrasi, menurut Sondang P. Siagian, bersumber
pada lima masalah pokok. Pertama, persepsi gaya manajerial para pejabat di
lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini
mengakibatkan bentuk patologi seperti: penyalahgunaan wewenang dan jabatan
menerima sogok, dan nepotisme. Kedua, rendahnya pengetahuan dan keterampilan
para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional, mengakibatkan
produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah, serta pegawai sering berbuat
kesalahan. Ketiga, tindakan pejabat yang melanggar hukum, dengan
''penggemukan'' pembiayaan, menerima sogok, korupsi dan sebagainya. Keempat,
manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif,
seperti: sewenang-wenang, pura-pura sibuk, dan diskriminatif. Kelima, akibat
situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap
birokrasi, seperti: imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai, ketiadaan
deskripsi dan indikator kerja, dan sistem pilih kasih.
1.2
Rumusan
masalah
1. Bagaimana
gambaran tentang pelayanan?
2. Permasalahan
apa saja yang terjadi dalam pelayanan publik ?
3. Apakah
yang di maksud patologi birokrasi pelayanan?
4. Apa
strategi yang digunakan untuk mengatasi semua permasalahan pelayanan?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui gambaran tentang pelayanan.
2. Memberitahukan
permasalahan setiap pelayanan publik
3. Untuk
mengetahui yang di maksud patologi birokrasi pelayanan.
4. Untuk
mengetahui strategi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan pelayanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)