Kebijakan Pembenahan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
Dilema Krisis Moneter Tahun 1997-2000
Dilema Krisis Moneter Tahun 1997-2000
1.
PENDAHULUAN
Bermula
dari turunnya nilai mata uang bath thailand, kemudian berlanjut kepada mata
uang negara malaysia ringgit, perekonomian indonesia yang sejak semula sudah
kurang sehata, masuk kedalam krisis. Sementara negara-negara lain yang
mengalami masalah yang sama sudah normal kembali, namun indonesia masih
meringkuk lemah tak berdaya, dan belum ada tanda-tanda untuk sembuh sejak era
krisis moneter tahun 1999-2000.
Pemerintah melalui
BPPN melakukan langkah-langkah sebagai
tindak. Lanjut dalam
industri perbankan yaitu
dengan menutup kegiatan
usaha atau melikuidasi 16 bank swasta (tanggal 24 November 1997), pembekuan operasi 7 bank swasta serta pengambilalihan 7 bank swasta
dan BUM:N oleh BPPN pada tanggal 4 April 1998, selanjutnya pada
bulan Agustus 1998
pemerintah membekukan 8 bank (BBO) dan mengambil
alih 7 bank (Lukman, 2000; 160).
Sebagai akibat dari likuidasi 16
bank swasta nasional
tersebut di atas mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap
industri perbankan berkurang
sehingga terjadi rush atau
penarikan dana masyarakat secara
besar-besaran. Rush tersebut menyebabkan
bank- bank mengalami kesulitan
likuiditas yang sangat parah
dan tidak bisa
diatasi. Kesulitan tersebut dapat
diatasi dengan bantuan dari
Bank Indonesia (Bl)
berupa bantuan likuiditas yang
kemudian lebih dikenaJ dengan istilah BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).
Sebenarnya
stabilitas moneter dunia telah menjadi masalah krusial sejak pertengahan
1980-an. Ketidak stabilan ini mengakibatkan suatu turbulensi yang bahkan
menerjang negara-negara industri besar. perkembangan ekonomi era 1999-an,
tampak menglami indikator perbaikan saat mengalami guncangan sebelumnya ditahun
1998. Turbulensi yang menerjang negara industri mengakibatkan indonesia masuk
ke dalam ranah tersebut. Pada tahun 1999 beberapa indikator makro ekonomi yang
mengalami perbaikan cukup berarti mesku=ipun kondisi sosial-politik masih belum
sembuh total. Indikator-indikator yang membaik tersebut dapat kita golongkan
yakni : perbaikan angka inflasi (terhindar dari jebakan hyperinflasi), perkembangan tingkat suku bunga, cadangan devisa,
perbaikan harga minya dan gas alam di pasar internasional, perkembangan BUMN
yang terus digalakan dan lain sebagainya.