Thursday, 18 September 2014

Faktor Penghambat Perekonomian dan Geografis dalam Ekologi Administrasi sebagai Tantangan yang Menguntungkan



NAMA    : Randy Prasetyo
NIM         : 125030100111183
A.1 Perekonomian
Faktor Penghambat
1.      Korupsi
Angka Indeks Persepsi Korupsi Indonesia naik dari 2,6 tahun 2008 menjadi 2,8 tahun 2009, disertai kenaikan 15 peringkat dari tahun lalu dimata dunia tentang tingkat korupsi Tingkat korupsi di indonesia kian semakin bertambah, ini mengakibatkan para investor asing enggan menanamkan modalnya dinegeri kesejahteraan kita ini.
2.      Kegiatan Impor yang semakin besar
Tuntutan kebutuhan dalam negeri yang besar mengakibatkan semakin gencar produk-produk impor datang menyerbu pasar negara jika kondisi daya saing produknya lemah dan tidak mampu berkompetisi di kancah perdagangan Internasional. Rakyat juga merasa dirugaikan dalam hal ini, mengingat negara kita adalah negara yang penduduknya bergerak dalam kegiatan agrikultur sehingga masyarakat tidak bisa bersaing.
3.      Pembangunan yang tak seimbang
Kurangnya pemerataan tingkat ekonomi dinegara kita mengakibatkan pembangunan dalam negara kita tidak seimbang. Adanya pembedaan tingkat pendapatan perkapita dari tiap daerah menjadi indikator dalam segi pembangunan terutama dalam kegiatan manufaktur. Ini mengakibatkan laju kesejahteraan tingkat ekonomi rakyat tidak seimbang dan mobilisasi masyarakat tidak selaras dalam penerapan perekonomian
4.      Kemiskinan
Kemiskinan dinegara kita ini sangat besar, meskipun kita menduduki peringkat 10 perekonomian terbaik dimata dunia. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemerataan tingkat pendapatan yang ada. Bagi kawasan yang kaya pendapatan lebih besar dari kawasan yang kurang kaya.

Mengukur Kualitas dan Kuantitas Kinerja Pelayanan Sektor Publik



2.1 Kualitas Kinerja Pelayanan Publik
Dalam aspek mensejahterakan kehidupan rayat dari segi memanusiakan manusia dalam teologisnya, hakikat pelayanan publik harus menjadi indikator terpenting dalam kinerjanya. Kualitas layanan adalah penawaran nilai tambah yang menyediakan rasa kepuasan yang lebih sehingga membuat customer/user ingin kembali untuk merasakan kepuasan yang lebih dari kinerja pelayanan publik.
Kualitas layanan dengan berbagai indikator atau parameter yang melekat, pada akhirnya harus teritegrasi pada totalitas sistem pelayanan suatu organisasi. Kualitas layanan harus terefleksikan atau tercermin dalam setiap dokumen dan tindakan konkrit organisasi dalam rangka penyelenggaraan layanan. Integrasi dan operasionalisasi kualitas layanan dan indikator-indikator yang digunakan dalam penyelenggaraan layanan oleh organisasi, umumnya dituangkan secara resmi ke dalam standar pelayanan. Standar pelayanan berisikan panduan, pedoman, prinsip, janji dan garansi pemberian layanan yang berkualitas yang berhak diperoleh oleh pengguna jasa layanan.
Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi pengguna jasa layanan, sehingga pihak pengguna jasa layanan mendapatkan pelayanan yang sama dan objektif dari organisasi pemberi jasa layanan. Menurut Terry (1977) standar merupakan suatu hal yang diterapkan untuk  menjadi ukuran atau acuan dalam bertindak atau melaksanakan pekerjaan.Standar pelayanan publik sebagai ketetapan dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat  dan memberikan perlindungan atas hak-hak publik yang seharusnya diterima.
Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penelitian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur. Dalam setiap penyelenggaraan pelayanan harus didasarkan pada standar pelayanan sebagai ukuran yang dibakukan dan wajib ditaati oleh penyelenggara pelayanan maupun penerima pelayanan.

Resume Gerakan Red Queen dan Inovasi Pembaharuan di Sektor Publik


Nama      : Randy Prasetyo
NIM        : 125030100111183
Resume Jurnal
Pembangunan Kapasitas dan Kelembagaan Sektor Publik
A.    Ratu Merah dalam Evolusi Organisasi (The Red Queen In Organizatuonal Evolution)
Sebuah organisasi menghadapi persaingan kemungkinan untuk terlibat dalam pencarian cara untuk meningkatkan kinerja. Ketika berhasil, hasil pencarian dalam pembelajaran di para pesaingnya sehingga membuat mereka  pesaing yang kuat dan jadi sekali lagi memicu pembelajaran di dalam organisasi pertama. Kita menguraikan kondisi dimana proses memperkuat diri, dikenal dalam teori evolusi sebagai “Red Queen” atau Ratu Merah, seperti kesesuaian atau ketidaksesuaian. Kita memprediksi kosekuensi ketidaksesuaian ketika organisasi menghadapi banyak pengikut yang bervariasi dari saingan. kita secara empiris membedakan efek ini menggunakan Model Ekologi dari kompetisi. Perkiraan  tingkat kegagalan organisasi mengungkapkan Ratu Merah antar bank lilinois dan dukungan prediksi kita.
Kompetisi organisasi sering terlibat dalam interaksi strategis yang kompleks, dengan hasil tergantung tidak hanya pada apa yang perusahaan yang tidak, tapi pada apa suatu perusahaan tidak diberikan apa lain yang akan melakukan, memberikan apa yang akan dilakukan, dan lain-lain (Dixit and Nalebuff, 1991; Saloner, 1991). Di sisi lain, kita tahu bahwa organisasi sangat terbatas dalam kemampuan mereka untuk mengatasi dengan kompleksitas tersebut. Pengembangan strategi dari waktu ke waktu melalui proses organisasi (Barnard, 1930; Bower, 1970; Burgelman, 1994), dan manajer dibatasi oleh praktik oragnizational masa lalu saat mereka menghadapi setiap hari dengan keadaan sering melebihi pemahaman dan kontrol mereka (Sayles, 1964). akibatnya, banyak aspek dari strategi organisasi muncul dari hari ke hari dalam penyesuaian rutinitas organisasi, sering menyimpang jauh dari rencana strategis yang formal (Mintzberg and McHugh, 1985). model kami memungkinkan untuk interaksi yang kompetitif antara organisasi yang terbatas dalam kemampuan mereka untuk menyusun strategi.  khususnya, kita berasumsi bahwa suatu organisasi menghadapi persaingan cenderung untuk merespon, tetapi respon yang kemungkinan akan dibatasi hanya "kepuasan" melalui pencarian lokal dan proses pengambilan keputusan (March and Simon, 1958).
Tanggapan ini kemudian sedikit meningkatkan kompetisi yang dihadapi oleh saingan organisasi, memicu di dalamnya proses yang serupa pencarian dan keputusan yang pada akhirnya meningkatkan tekanan persaingan yang dihadapi oleh organisasi pertama. Ini lagi memicu pencarian untuk perbaikan dalam organisasi pertama, sehingga siklus berkelanjutan. Kita berpikir bahwa sistem ini kebalikan dari kausalitas, yang dikenal dalam teori evolusi sebagai "Ratu Merah" (Van Valen, 1973) , adalah pusat, kekuatan pendorong di balik evolusi keberhasilan kompetitif dan kegagalan. Tujuan kami adalah untuk menunjukkan ini secara teoritis dan empiris.
Teori evolusi telah mencatat bahwa "kebugaran" organisasi paling baik dipahami sebagai relatif terhadap organisasi lain (Alchian, 1950; Nelson and Winter, 1982; Hannan and Freeman, 1984), atau sebagai sesuatu yang “coevolves” antar organisasi (Fombrun, 1988). Selain itu  mengklaim bahwa keberhasilan dan kegagalan dari seluruh industri nasional dapat ditelusuri, setidaknya sebagian, apakah atau tidak mereka telah mengalami persaingan (Lawrence and Dyer, 1983; Porter, 1990). Klaim tersebut menyiratkan bahwa evolusi Ratu Merah di mana-mana, tapi bagaimana dengan keterbatasan proses strategi? Bagaimana organisasi dibatasi ketika mereka menanggapi persaingan, dan apa konsekuensi dari kendala ini untuk evolusi Ratu Merah? Kita perlu model prediktif yang menghubungkan persaingan dan pembelajaran organisasi, tetapi yang memungkinkan bagi organisasi untuk dibatasi dalam kemampuan mereka untuk beradaptasi.

Revolusi Teori Karl Marx



Karl Marx
Kritik terhadap Hukum Kapital dan Perwakilan Politik
oleh Fadlilah Putra

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sampai hari ini di setiap sudut diskusi yang berkembang di masyarakat, nama dan gagasan-gagasan besar Karl Marx tidak pernah luput menjadi kutipan. Bahkan dengan bahasa yang sangat malu-malu pun, ide-ide radikalnya selalu menjadi pelatuk bagi setiap perdebatan yang mengemuka. Tak pelak, seorang Giddens dengan Teori Strukturasinya juga harus menelan kritik dari mereka yang berbasis pada logika-logika dasar Marxisme.
Kendati hari ini dunia mulai terasa sepi, akan tetapi hiruk pikuk perlawanan emansipatorik tokoh-tokoh dari Amerika Latin, Frankfurt, Italia, Blitar dan Payakumbuh masih segar mengiang hingga kini. Marx juga turut hadir pada tiap lembar poster yang diusung mahasiswa dalam penggulingan sebuah rezim penumpuk harta di Mei 1998 tempo hari. Marx telah menjelma menjadi sebuah energi. Energi yang menembus millenium, dan mendetakkan jantung tokoh-tokoh besar lintas regional mulai Gramsci sampai Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Tulisan ini bermaksud sekali lagi memaparkan riwayat hidup pemikiran Marx hingga menghasilkan gagasan-gagasan besar itu, dan seperti apa konsep-konsep orisinal Marx terhadap ekonomi dan politiknya itu. Dalam banyak hal, tulisan ini diinspirasikan, sekaligus book review, buku karya Anthony Brewer yang berjudul Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx, di samping beberapa literatur lainnya sebagai pelengkap. Buku Brewer sendiri adalah buku yang baik untuk kita memahami lebih jauh mengenai ide-ide Marx di seputar wilayah ekonomi, dalam hal ini karya besar Das Kapital, asalkan kita bersedia membacanya secara runtut dan sabar. Sementara untuk ide-ide Marx pada wilayah politik, pembaca dapat melihatnya pada literatur-literatur lainnya yang banyak jumlahnya.

Dasar-dasar Pikiran Karl Marx

 

Orang-orang di Sekitar Marx

Gagasan-gagasan besar Marx bukanlah sesuatu yang serta-merta ada. Tapi lebih merupakan suatu perjalanan belajar yang panjang, dan melibatkan banyak pihak yang menjadi sumber inspirasinya. Untuk menghasilkan karya besarnya, ia harus bergumul dengan sederet pemikir berkelas dunia. Paling tidak ada tujuh ornag yang namanya selau menyertai perjalanan intelektual Marx, yaitu: Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, George Wilhelm Friedrich Hegel, Henri de Saint Simon, Ludwig Feurbach, Bruno Bauer dan Friedrich Engels tentunya.

Masa muda Marx banyak diwarnai oleh bayang-bayang Kant dan Fichte yang memang banyak digandrungi kamum muda waktu itu. Oleh karenanya masa muda Marx banyak bergelut dengan dunia yang puitis. Pengaruh dua tokoh besar itu pula yang menuntunnya di waktu muda untuk menulis sebuah esai yang berjudul “Renungan Seorang Pemuda tentang Pemilihan Karier” (Reflections of a Young Man on Choosing a Carrier), yang menelaah kewajiban-kewajiban moral dan jangkauan kebebasan yang tersedia bagi seseorang dalam memilih suatu profesi yang akan ditelusuri dalam hidup. “Prinsip Utama”, demikian disimpulkan Marx, dalam sekelumit bait dari esai romantik- nya itu dapat kita lihat berikut ini:

...yang harus menjadi pedoman bagi kita dalam memilih suatu profesi, ialah kesejahteraan manusia, penyempurnaan kita sendiri. Orang janganlah berpikir, bahwa kedua kepentingan ini saling beradu, bahwa orang yang satu harus menghancurkan orang yang lain. Lebih tepat ialah bahwa sifat manusia itu membuat ia mungkin mencapai penyelesaian hanya dengan bekerja bagi penyempurnaan dan kesejahteraan masyarakatnya… Sejarah akan menyebut mereka sebagai orang-orang terakbar, bila mereka itu menyempurnakan diri dengan bekerja bagi masyarakat semesta.[1]

Membaca sebait esai tersebut tentunya kita dapat merasakan bagaimana ia bermaksud untuk memperingatkan pada semua orang bahwa kita tidak boleh lepas dari sesuatu yang berada dalam akal budi sebagai sebuah pengendali. Kita dapat menemukan kesempuranaan diri itu dengan berorientasi pada suatu perbuatan nyata atas perbaikan masyarakat, tidak semata berhenti pada tingkatan subtansi saja. Pikiran seperti itu sangat dekat dengan apa yang dimaksud oleh Kant dan Fichte.

Ramalan Joyoboyo Nusantara


Jangka Jayabaya

tulisan oleh:
Kandjeng Pangeran Karyonagoro, 2001

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal -usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabaya-lah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.
“Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu Beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan”. Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun, demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JAYABAYA” dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Saturday, 1 March 2014

Desentralisasi Public Service dalam era Otonomi daerah

power point Isu dan potret buram pelayanan administrasi birokrasi publik

Isu dan Potret Buram Birokrasi Pelayanan Publik



Bab 1
Pendahuluan
1.1            Latar Belakang
Pada bagian akhir abad ke-20 ini kita telah menyaksikan perubahan-perubahan besar yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun pertahanan dan keamanan. munculnya tuntutan yang lebih besar ke arah demokratisasi, keterbukaan, dan pemberdayaan; dibidang ekonomi hal yang sama juga terjadi seperti tuntutan pada perdagangan bebas, hilangnya protectionism, adanya kelompokkelompok ekonomi, dan perdagangan baru, demokratisasi bidang ekonomi dan sebagainya; di bidang sosial budaya perubahan-perubahan besar juga sedang terjadi seperti makinkaburnya nilai-nilai tradisional, mengendurnya nilai-nilai moral dan etika, tuntutan terhadap kebebasan  yang makin besar dan makin mengglobalnya kehidupan masyarakat. Isue-isue penting maupun pandanganpandangan yang kontroversi setiap Hari dapat dilihat di media cetak Atau di media elektronik. Kita memang Telah tiba pada abad informasi sehingga aparatur pemerintah harus dapat menjawab  tantangan ini untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik pada masyarakat.
Kualitas  pelayanan  publik telah lama  menjadi kajian  di banyak negara. Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas hampir  setiap hari dapat dibaca di media cetak atau dilihat dimedia elektronik, juga digunjingkan oleh banyak orang di rumah maupun di tempat-tempat umum.Sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian organisasi publik masih harus meningkatkan pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Marzuki Usman (1997) menyatakan bahwa: Dewasa  ini konsep kualitas telah menjadi suatu credo universal dan telah menjadi faktor yang sangat dominan terhadap keberhasilan suatu organisasi. “Quality mindset” ini tidak saja dihadapi lembaga penyelenggara jasa-jasa komersial, tetapi telah menembus kelembaga-lembaga pemerintahan yang selama ini resisten terhadap tuntutan kualitas pelayanan publik yang prima. Suatu data empiris di bidang marketing menyebutkan bahwa sekitar 95% konsumen yang tidak puas memilih untuk tidak melakukan pengaduan tetapi sebagian besar cukup menghentikan pembeliannya. (Kotler,1997).
Citra buruk tersebut semakin diperparah dengan isu yang sering muncul ke permukaan, yang berhubungan dengan kedudukan dan kewenangan pejabat publik, yakni korupsi dengan beranekaragam bentuknya, serta lambatnya pelayanan, dan diikuti dengan prosedur yang berbelit-belit atau yang lebih dikenal dengan efek pita merah (red-tape). Keseluruhan kondisi empirik yang terjadi secara akumulatif telah meruntuhkan konsep birokrasi Hegelian dan Weberian yang memfungsikan birokasi untuk mengkoordinasikan unsur-unsur dalam proses pemerintahan. Birokrasi, dalam keadaan demikian, hanya berfungsi sebagai pengendali, penegak disiplin, dan penyelenggara pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar, tetapi sangat mengabaikan fungsi pelayanan masyarakat.
Buruk serta tidak transparannya kinerja birokrasi bisa mendorong masyarakat untuk mencari ''jalan pintas'' dengan suap atau berkolusi dengan para pejabat dalam rekrutmen pegawai atau untuk memperoleh pelayanan yang cepat. Situasi seperti ini pada gilirannya seringkali mendorong para pejabat untuk mencari ''kesempatan'' dalam ''kesempitan'' agar mereka dapat menciptakan rente dari pelayanan berikutnya.
Apabila ditelusuri lebih jauh, gejala patologi dalam birokrasi, menurut Sondang P. Siagian, bersumber pada lima masalah pokok. Pertama, persepsi gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini mengakibatkan bentuk patologi seperti: penyalahgunaan wewenang dan jabatan menerima sogok, dan nepotisme. Kedua, rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional, mengakibatkan produktivitas dan mutu pelayanan yang rendah, serta pegawai sering berbuat kesalahan. Ketiga, tindakan pejabat yang melanggar hukum, dengan ''penggemukan'' pembiayaan, menerima sogok, korupsi dan sebagainya. Keempat, manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional atau negatif, seperti: sewenang-wenang, pura-pura sibuk, dan diskriminatif. Kelima, akibat situasi internal berbagai instansi pemerintahan yang berakibat negatif terhadap birokrasi, seperti: imbalan dan kondisi kerja yang kurang memadai, ketiadaan deskripsi dan indikator kerja, dan sistem pilih kasih.
1.2             Rumusan masalah
1.      Bagaimana gambaran tentang pelayanan?
2.      Permasalahan apa saja yang terjadi dalam pelayanan publik ?
3.      Apakah yang di maksud patologi birokrasi pelayanan?
4.      Apa strategi yang digunakan untuk mengatasi semua permasalahan pelayanan?
1.3             Tujuan
1.      Untuk mengetahui gambaran tentang pelayanan.
2.      Memberitahukan permasalahan setiap pelayanan publik
3.      Untuk mengetahui yang di maksud patologi birokrasi pelayanan.
4.      Untuk mengetahui strategi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan pelayanan.

Friday, 28 February 2014

PENGERTIAN, PERANAN, RUANG LINGKUP DAN FUNGSI EKONOMI SEKTOR PUBLIK


A.   Pengertian Ekonomi Sektor Publik 
Istilah ekonomi sector public itu sendiri juga bermacam-macam.hal tersebut dilihat dari luasnya wilayah public,sehingga setiap disiplin ilmu memiliki cara pandang dan definisi yang berbeda-beda.dari sudut pandang ekonomi itu sendiri “ekonomi sector public”diartikan sebagai suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan dengan usaha untuk menghasilkan barang dan pelayanan public dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hak public yang terbatas. Ekonomi sektor publik berkaitan dengan membenarkan keberadaan pemerintah dan menjelaskan bagaimana mereka dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi
Dari setiap pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa “Ekonomi Sektor Publik” adalah studi tentang isu ekonomi yang terjadi pada sector public(termasuk pemerintahan) dan antar muka dengan sector swasta dalam ekonomi campuran.serta sektor publik ekonomi telah berkaitan dengan studi tentang bagaimana pemerintah dapat menangani kegagalan pasar untuk mencapai hasil yang efisien. Contoh aktivitas sektor publik dari kisaran memberikan jaminan sosial, administrasi perencanaan kota dan mengorganisir pertahanan nasional.
Montesqieu, seorang ahli tata Negara, menyebutkan bahwa kekuasaan negara dapat dipisahkan menjadi kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh pemerintah yaitu presiden dan para pembantunya, pada umumnya paling berpengaruh terhadap suatu perekonomian. Hal ini karena eksekutif paling banyak bersinggungan secara langsung dengan aktivitas ekonomi melalui pembelanjaan dan kebijakan ekonominya.
Peran Pemerintah dalam Ekonomi
Pemerintah sebagai pelaku (yang umumnya mendominasi, terutama pada ekonomi di Negara berkembang) memiliki peran sebagai berikut:
·         menetapkan kerangka hukum (legal framework) yang melandasi suatu perekonomian;
·         mengatur/meregulasi perekonomian dengan alat subsidi dan pajak;
·         memproduksi komoditas tertentu dan menyediakan berbagai fasilitas seperti kredit, penjaminan simpanan, dan asuransi;
·         membeli komoditas tertentu termasuk yang dihasilkan oleh perusahaan swasta, misalnya persenjataan;
·         meredistribusikan (membagi ulang) pendapatan dari suatu kelompok ke kelompok lainnya, dan
·         menyelenggarakan sistem jaminan sosial, misalnya memelihara anak-anak terlantar, menyantuni fakir miskin, dan sebagainya.
Beberapa Landasan Ekonomi Publik
Timbulnya disiplin ilmu ekonomi publik didasarkan beberapa landasan pikir sebagai berikut:

Saturday, 22 February 2014

Rumitnya Sistem Akademik Kampus dan Administrator

Saya hanya sekedar memberitahukan pada setiap pengunjung, pembaca, dan bagi yang bersangkutan dalam artikel ini jangan pernah sekali-kali terkena masalah dalam dunia perkuliahan ataupun terkena masalah dalam urusan kampus. Kalo kalian terkena masalah bakalan jadi rumit dan berbelit-belit dalam penanganannya terutam bagi staf yang sangat menyebalkan dan tidak mau mengalah saat ber-statement. saya mengatakan hal ini karena saya berpengalaman dalam urusan ini dan sering keluar masuk bagian pengajaran kampus (akademik) dalam hal bukan bermasalah, tetapi mengurusi masalah surat menyurat dalam kegiatan kampus. kalo kalian terkena masalah dalam urusan kampus dan civitas akademik kampus kalian cukup hanya diam saja dan menerima apa yang terjadi pada masalah kalian meskipun kalian itu tidak salah apa-apa.