Saturday, 17 January 2015

Soal Pendeskripsi Analisis Kepemimpinan

Soal
1.      a. Mengidentifikasi kelemahan, kebaikan dari Situational Theory (Sebutkan tokoh)
b.    Mengkritisi keburukan,kebaikan
2.        a. Bagaimana membangun wibawa,kharisma dalam perspektif teori-teori
  klasik,modern ?
b. Apakah ada hubungan antara efektifitas kepemimpinan dengan
wibawa dan charisma ? berikan Contoh empiris ?
3.        Mengemukakan pokok-pokok pikiran Tannen Baum ( how to choose leadership) dan Fielder ?
4.        Apa bedanya teori-teori klasik dengan public sector leadership ? Kemukakan teori-teori klasik, dan tokoh public sector leadership ?


JAWAB________________________________________________________________
1 a. Pendekatan situasional yang mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada kesesuaian antara kepribadian, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendekatan ini dianggap sebagai pendekatan paling ideal dalam menjelaskan hubungan antara pemimpin, bawahan dan situasi (Horner, 1997 : 271). Menurut Horner (1997 : 271), inti dari teori situasional menggambarkan bahwa tipe yang digunakan oleh pemimpin tergantung pada faktor-faktor seperti pemimpin itu sendiri, pengikut serta situasi. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus mampu mengubah tipe kepemimpinan secara cepat, tepat dan akurat sesuai dengan kebutuhan situasi.
Salah satu teori kepemimpinan yang menggunakan pendekatan situasional adalah teori kepemimpinan kontingensi yang dikembangkan oleh Fiedler pada tahun 1967 (Luthans, 2005 :649).
Teori kepemimpinan situasional lainnya dikemukakan oleh Vroom dan Yetton pada tahun 1973 (Horner, 1997 : 271). Teori yang dinamakan teori normatif Vroom-Yetton ini menjelaskan bagaimana seorang pemimpin harus memimpin bawahan dalam berbagai situasi. Model ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun tipe kepemimpinan yang dapat efektif diterapkan dalam berbagai situasi. Pilihan mengenai tipe kepemimpinan yang akan dianut hanya efektif jika sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Selanjutnya House dan Mitchell pada tahun 1974 mengemukakan teori situasional dengan berbasis pada hasil penelitian dari Universitas Ohio (Robbins, 1996 : 52). Teori yang dinamakan sebagai teori path-goal ini mengungkapkan bahwa seorang pemimpin mempunyai tugas untuk membantu bawahan dalam mencapai tujuan-tujuan (goal) mereka dan menyediakan petunjuk (path) atau dukungan yang diperlukan untuk memastikan bahwa tujuan tersebut sejalan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. Namun Horner (1997 : 271) mengungkapkan bahwa dari sekian banyak peneliti yang meneliti tentang teori situasional, ternyata diketahui bahwa teori situasional sangat ambigu karena teori ini lebih menjelaskan konsep-konsep manajerial, dengan kata lain teori tersebut seharusnya ditujukan untuk manajer. Selain itu, teori situasional tidak mampu menjelaskan mengenai konsep kepemimpinan itu sendiri. Kelemahan lain dari teori ini adalah tidak menjelaskan perlu atau tidaknya pekerja mengubah perilaku, seperti yang dilakukan pemimpin, sesuai dengan perubahan situasi pekerjaan. 
Kelebihan
·         Hubungan pemimpin dengan anggota, berdasarkan kadar kepercayaan serta respek dari bawahan terhadap pemimpin.
·         Kadar formalisasi dan prosedur operasional standar pada struktur tugas yang diberikan oleh pemimpin.
·         Otoritas pada suatu situasi seperti penerimaan dan pemberhentian pegawai, disiplin, promosi serta peningkatan upah.
·         Mengarahkan tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya, menjadwalkan pekerjaan, mempertahankan standar kinerja, dan memperjelas peranan pemimpin dalam kelompok.
·         Melakukan berbagai usaha agar pekerjaan menjadi lebih menyenangkan, memperlakukan pengikut dengan adil, bersahabat, dan mudah bergaul serta memperhatikan kesejahteraan bawahannya.
·         Partisipatif, melibatkan bawahan, meminta saran bawahan dan menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.
·         Berorientasi pada kinerja, menentukan tujuan-tujuan yang menantang, mengharap kinerja yang tinggi, menekankan pentingnya kinerja yang berkelanjutan, optimistik dan memenuhi standar-standar yang tinggi.
Kelemahan
Ø  Cenderung mempertimbangkan tujuan jangka pendek
Ø  Bersikap sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki
Ø  Butuh waktu untuk memikirkan tindakan apa yang akan diambil dan pada akhirnya berjalan diluar rencana.
Ø  Lemahnya ketegasan dalam menyikapi permasalahan dalam suatu organisasi atau instansi
b. Setiap tindakan ataupun perbuatan tentunya memiliki dampak dari perbuatan tersebut. Teori situasional ini memiliki kesan mendalam dalam menentukan arah dari setiap keputusan yang dibuat dalam mencapai tujuannya dalam organisasi dan instansi. Melihat kelebihan dan kekurangan yang ada pada soal 1.a tersebut bisa disimpulkan bahwasanya kebaikan dari teori situasional ini sangatlah mengesankan, terlebih lagi dari menyikapi permasalahan yang ada. Kebaikan dari teori situasional yakni ;
  • Masalah dapat menjadi terkendali dengan memikirkan penyelesaian yang tepat, tanggap, dan tidak merugikan pihak lain
  • Dalam segi pengambilan keputusan/kewenangan tidak terlalu tergesa-gesa, sehingga keputusan itu tidak merugikan orang banyak
  • Selalu mendengar setiap aspirasi yang ada dalam lingkup internal maupun eksternal dalam membuat keputusan yang diambil.
  • Pemimpin tidak egois dalam spesifikasi kerja, karena sistem dari teori ini berdasarkan kepercayaan kepada bawahan
  • Kinerja bawaha menjadi baik, karena pemimpin selalu berkomunikasi secara intensiv kepada bawah, dan sebaliknya bawahan dapat berkomunikasi pada pemimpin permasalahan dalam instansi tersebut
Keburukan
  • Masalah menjadi banyak karena terlalu banyak pertimbangan yang diberikan
  • Adanya sifat inpersonal dalam ke-instansian karena hubungan menjadi baik
  • Dari segi kinerja kurangnya tanggung jawab sosial anggota terhadap atasan, karena anggota dapat mencari alasan dengan mudahnya pada pemimpin

2 a.Dalam menghadapi perkembangan kemajuan teknologi serta tuntutan dalam membuat suatu keputusan yang sesuai dengan perkembangan tersebut secara mengglobal, pemimpin membutuhkan suatu cara agar dalam segala tidakannya menjadi citra yang bagus dimata setiap orang. Untuk membangun itu semua kita membutuhkan suatu kewibawaan dan kharismatic. Menurut Koentjaraningrat, kesakten hanyalah salah satu syarat bagi pemimpin, tetapi bukan satu-satunya. Sebagai jalan keluarnya Prof. Koentjaraningrat menawarkan model kepemimpinan yang lebih universal dengan mengacu kepada data etnografi kebudayaan di Afrika, Asia dan daerah lautan Pasifik. Dalam menyusun kerangka teoritisnya, Koentjaraningrat mengkategorikan konsep kekuasaan dan kepemimpinan berdasarkan tingkat perkembangan masyarakat, yaitu masyarakat kecil dan masyarakat sedang, masyarakat negara-negara kuno, dan masyarakat negara kontemporer. Ada empat komponen yang senantiasa ada dalam tiap jenis masyarakat: wibawa, kharisma, wewenang dan kemampuan khusus.
Raven Duncan bahkan menegaskan bahwa “Power probably is related most closely to the source of leadership controversy.” Dari manakah seorang pemimpin ‘memperoleh’ kewibawaan? Ada beberapa sumber kewibawaan, yaitu:
  • Coersive power: Sumber kewibawaan seseorang dapat berupa kekuasaan yang dimilikinya untuk memaksakan kehendaknya. Raven Duncan mengatakan: “stems from the ability to mediate punishment for the influence”.
  • Reward power: Sumber kewibawaan seseorang dapat berasal dari kemampuannya memberikan imbalan, kebalikan dari coersive power.
  • Legitimate power: Ketentuan resmi dari pejabat yang berwenang merupakan salah satu sumber yang menyebabkan seseorang memiliki kewibawaan untuk memengaruhi perilaku anggota kelompoknya.
  • Referent power: Kewibawaan karena pengaruh hubungan dalam kelompok. Dalam konteks kepemimpinan Indonesia dikenal dengan teori keteladanan.
  • Expert power: Kewibawaan karena keahlian. Seseorang memiliki kewibawaan karena ia ahli di bidangnya.
  • Charismatic power: Kewibawaan karena kharisma. Kendati sekarang kurang relevan, tetapi masih banyak orang yang dianggap berwibawa karena kharisma yang dimilikinya.
b. Ada, Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan. Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila : seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya, ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan. Contohnya : steve job, seorang entrepreneur yang bergerak dalam bidang teknologi smartphone yakni apple memiliki kefektifan dalam memberikan kenyamanan pada costumer. Kharisma dan wibawa steve job memang tak nampak dalam kalangan masyarakat secara luas, tetapi dalam perusahaan apple jiwa pemimpin yang dimiliknya nampak, wibawa dan kharisma secara mendalam menjadi bagi entre preneur ini. Memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan dan mensosialisasikan prodaknya.
3. Robert Tannenbaum, mengemukakan definisi kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah tercapainya suatu tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan. Model Leadership Continuum merupakan hasil pemikiran Robbert Tannenbaum dan Warren H. Schmidt. Seperti dikemukakan dalam perilaku atau disebut juga gaya pada hakikatnya merupakan tingkah laku pemimpin sampai seberapa jauh hubungannya dengan bawahan di dalam rangka pengambilan keputusan. Menurut teori kontinum ada tujuh tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
a         Pemimpin membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan (telling)
b        Pemimpin menjual dan menawarkan keputusan terhadap bawahan (selling).
c         Pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan.
d        Pemimpin memberikan keputusan tentative, dan keputusan masih dapat diubah.
e         Pemimpin memberikan problem dan minta saran pemecahannya kepada bawahan (consulting).
f         Pemimpin menentukan batasan-batasan dan minta kelompok untuk membuat keputusan.
g        Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan (joining).
Jadi, berdasrkan teori kontinum, perilaku pemimpin pada dasarnya bertitik tolak dari dua pandangan dasar :
1. Berorientasi kepada pemimpin
2. Berorientasi pada bawahan
teori kontinum ini oleh Tannenbaum dan Schmidt dilukiskan dengan model atau gambar sebagai berikut :
1.      Semakin bergeser ke kanan, semakin meluas kebebasan bawahan, sehingga semakin nyata bawahan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Dan sebaliknya semakin sempit otoritas pemimpin. Jadi perilaku pemimpin berorientasi kepada bawahan atau disebut kepemimpinan yang bergaya demokratis.
2.      Semakin bergeser ke kiri, semakin meluas otoritas pemimpin. Sehingga semakin sempit atau semakin dibatasi kebebasan bawahan di dalam keterlibatan pengambilan keputusan. Jadi, perilaku pemimpin berorientasi kepada pemimpin atau dapat disebut pula kepemimpinan yang bergaya otoriter.
Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).
Gambar tabel teori kepemimpinan kontingensi
Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency Approach. Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi.  Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal tersebut harus dipertimbangkan.
Teori kontingensi melihat pada aspek situasi dari kepemimpinan (organization context). Fiedler mengatakan bahwa ada 2 tipe variabel kepemimpinan: Leader Orientation dan Situation Favorability.
Ø  Leader Orinetation adalah : apakah pemimipin pada suatu organisasi berorinetasi pada relationship atau beorintasi pada task. Leader Orientation diketahui dari Skala semantic differential dari rekan yang paling tidak disenangi dalam organisasi (Least preffered coworker = LPC) . LPC tinggi jika pemimpjn tidak menyenangi rekan kerja, sedangkan LPC yang rendah menunjukkan pemimpin yang siap menerima rekan kerja untuk bekerja sama. Skor LPC yang tinggi menujukkan bahwa pemimpin berorientasi pada relationship, sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan bahwa pemimpin beroeintasi pada tugas. Fiedler memprediksi bahwa para pemimpin dengan Low LPC yakni mereka yang mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih efektif dibanding para pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang mengutamakan orientasi kepada orang atau hubungan baik dengan orang apabila kontrol situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi. Sebaliknya para pemimpin dengan High LPC akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol situasinya moderat.
Ø  Situation favorability adalah : sejauh mana pemimpin tersebut dapat mengendailikan suatu situasi, yang ditentukan oeh 3 variabel situasi, yaitu :
  1. Leader-Member Orintation: hubungan pribadi antara pemimpin dengan para anggotanya.
  2. Task Structure: tingkat struktur tugas yang diberikan oleh pemimpin untuk dikerjakan oleh anggota organisasi.
  3. Position Power: tingkat kekuasaan yang diperoleh pemimpin organisasi karena kedudukan.
Situation favorability tinggi jika LMO baik, TS tinggi dan PP besar, sebaliknya Situation Favoribility rendah jika LMO tidak baik, TS rendah dan PP sedikit.

4. Kepemimpinan pada Sektor Publik : Kepemimpinan adalah komponen penting dari tata kelola publik yang baik, mencari orang yang akan mempromosikan adaptasi institusional dalam kepentingan publik (OECD, 2011).
A. Leader vs Manager
Ø  Leader vs Manager
Leader : Seseorang dapat menjadi seorang pemimpin tanpa menjadi seorang manajer.(contohnya: sorang ulama/tokoh agama), Manager : Seseorang dapat menjadi seorang manajer tanpa menjadi pemimpin.(contohnya: account manager yang tidak memiliki anak buah)
Ø  Perbedaan Manager dengan Leader:
Manager Melakukan perencanaan dan penganggaran, pengaturan, dan menemukan solusi atas suatu masalah dimana hal tersebut bertujuan untuk menciptakan ketertiban (mempertahankan status quo karena menghindari resiko). Leader  Menentukan arah dan menyelaraskan melalui motivasi dan menginspirasi mereka melalui pandanganya dimana hal tersebut bertujuan untuk menghasilkan perubahan (menghendaki adanya perubahan karena menginginkan perbaikan terus-menerus).



§  Leaders:
1)Pemikir strategis
2)Melihat kedepan dan memiliki visi
3)Suka tantangan
4)Dapat memberi motivasi
5)Dapat menjadi sumber inspirasi

§  Managers:
1)Mempertahankan status quo
2)Memantau situasi
3)Mengalokasikan sumberdaya
4)Berkomunikasi pada target
5)Mengukur hasil yang akan diperoleh
6)Umpan balik pada trend



Teori mengenai kepemimpinan klasik menurut Doyle dan Smith , dibagi dalam  4 teori klasik yang mendasari akan kepemimpinan seseorang. Ke empat  teori ini adalah :


1. Trait Approaches To Leadership (Sifat Pendekatan Kepemimpinan) : Pemimpin adalah orang-orang, yang mampu mengekspresikan dirinya secara  penuh.  Mereka juga tahu apa yang mereka inginkan , dan mengapa mereka menginginkannya, serta bagaimana  mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan itu kepada orang lain baik terhadapa anak buahnyaatau orang disekitarnya, dalam rangka untuk mendapatkan kerjasama  dan dukungan dari  anak buahnya, demikian penjelasan Wareen Bennis (Penulis dan pembicara seminar leadership).  Hal ini jelas dapat kita pelajaridari kehidupan orang-orang yang telah di kenal sebagai pemimpin besar atau efektif, danjelas sudah terbukti bahwa mereka memiliki kualitas kepemimpinan yang sangat berbeda. Seperti hal nya tokoh politik dunia yang sudah kita kenal dengan baik seperti Nelson Mandela, Margaret Thatcher dan Mao Zedong yang juga menganut akan teori ini.

2.
Behavioral Approaches To Leadership (Pendekatan Sikap/Behavior Kepemimpinan) :   Dalam teori ini dikatakan bagaimana para pemimpin bekerja dan berinteraksi dengan anak buah/kryawannya  untuk memimpin mereka  dalam  menyelesaikan tugas dengan memberikan contoh dalam menanganinya. Dengan  tidak mengabaikan 4 hal yaitu: concern untuk menyelsaikan tugas yang menjadikan project utamanya, memperhatikan juga sumber daya manusia para anak buahnya apakah sanggup untuk melakukannya, jelas dalam memberikan arahan kepada bawahan/anak buahnya,dan yang paling penting lagi yang harus dilkukan oleh seorang pemimpin, cobalah untuk berbagi dalam pengambilan suatu keputusan, supya dengan begitu para karyawan/anak buahnya akan merasa menjadi bagian dari perusahaan tempat dimana ia bekerja.
3. Situational Or Contingency Approaches To Leadership (Situasional Atau Faktor
Kemungkinan Pendekatan Kepemimpinan) :  Dalam  teori ini di katakan bahwa seorang pemimpin harus pandai dalam menggabungkan antara situasi dan gaya/pola kepemimpinannya. Jadi melihat pada sisi situasi yang terjadi. Dan efektivitas perusahaan tergantung pada bagaimana seorang pemimpin dapat menggabungkan dua  faktor  itu untuk dapat saling berinteraksi, yaitu antara gaya kepemimpinannya  dan sejauh mana situasi memberikan kendali dan pengaruh nya.
4
. Transformational Approaches To Leadership (Pendekatan Kepemimpinan Transformasional): Teori ini menyatakan bahwa pemimpin di sini harus merupakan sseorang pemimpin yang visioner  dimana berusaha untuk menarik  anak buah/karyawan mereka kembali  dari diri mereka sendiri  dan memindahkan mereka ke arah kebutuhan perusahaan yang lebih tinggi dan lebih universal  dari sekedar tujuan mereka masing-masing. (Bolman dan Deal 1997: 314). Dengan kata lain, pemimpin dipandang sebagai model/panutan perubahan. Bagaimana cara sang pemimpin memotivasi bawahan/anak buahnya untuk patuh dan tunduk padanya serta menciptakan rasa intrinsik akuntabilitas antara bawahan dan dia sebagai atasannya.

No comments: