Soal
1.
a. Mengidentifikasi kelemahan, kebaikan dari Situational
Theory (Sebutkan tokoh)
b.
Mengkritisi keburukan,kebaikan
2.
a. Bagaimana membangun
wibawa,kharisma dalam perspektif teori-teori
klasik,modern ?
b. Apakah ada
hubungan antara efektifitas kepemimpinan dengan
wibawa dan charisma ?
berikan Contoh empiris ?
3.
Mengemukakan pokok-pokok pikiran Tannen Baum ( how
to choose leadership) dan Fielder ?
4.
Apa bedanya teori-teori klasik dengan public sector
leadership ? Kemukakan teori-teori klasik, dan tokoh public
sector leadership ?
JAWAB________________________________________________________________
1
a. Pendekatan
situasional yang mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada
kesesuaian antara kepribadian, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendekatan
ini dianggap sebagai pendekatan paling ideal dalam menjelaskan hubungan antara
pemimpin, bawahan dan situasi (Horner, 1997 : 271). Menurut Horner (1997 :
271), inti dari teori situasional menggambarkan bahwa tipe yang digunakan oleh
pemimpin tergantung pada faktor-faktor seperti pemimpin itu sendiri, pengikut
serta situasi. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus mampu mengubah tipe
kepemimpinan secara cepat, tepat dan akurat sesuai dengan kebutuhan situasi.
Salah satu teori kepemimpinan yang menggunakan pendekatan
situasional adalah teori kepemimpinan kontingensi yang dikembangkan oleh
Fiedler pada tahun 1967 (Luthans, 2005 :649).
Teori kepemimpinan situasional lainnya dikemukakan oleh Vroom dan
Yetton pada tahun 1973 (Horner, 1997 : 271). Teori yang dinamakan teori
normatif Vroom-Yetton ini menjelaskan bagaimana seorang pemimpin harus memimpin
bawahan dalam berbagai situasi. Model ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun
tipe kepemimpinan yang dapat efektif diterapkan dalam berbagai situasi. Pilihan
mengenai tipe kepemimpinan yang akan dianut hanya efektif jika sesuai dengan
situasi yang dihadapi.
Selanjutnya House dan Mitchell pada tahun 1974 mengemukakan teori
situasional dengan berbasis pada hasil penelitian dari Universitas Ohio
(Robbins, 1996 : 52). Teori yang dinamakan sebagai teori path-goal ini mengungkapkan bahwa seorang
pemimpin mempunyai tugas untuk membantu bawahan dalam mencapai tujuan-tujuan (goal)
mereka dan menyediakan petunjuk (path) atau dukungan yang diperlukan
untuk memastikan bahwa tujuan tersebut sejalan dengan tujuan organisasi secara
keseluruhan. Namun Horner (1997 : 271) mengungkapkan bahwa dari sekian banyak
peneliti yang meneliti tentang teori situasional, ternyata diketahui bahwa
teori situasional sangat ambigu karena teori ini lebih menjelaskan
konsep-konsep manajerial, dengan kata lain teori tersebut seharusnya ditujukan
untuk manajer. Selain itu, teori situasional tidak mampu menjelaskan mengenai
konsep kepemimpinan itu sendiri. Kelemahan lain dari teori ini adalah tidak
menjelaskan perlu atau tidaknya pekerja mengubah perilaku, seperti yang
dilakukan pemimpin, sesuai dengan perubahan situasi pekerjaan.
Kelebihan
·
Hubungan pemimpin dengan anggota, berdasarkan kadar kepercayaan serta
respek dari bawahan terhadap pemimpin.
·
Kadar formalisasi dan prosedur operasional standar pada struktur
tugas yang diberikan oleh pemimpin.
·
Otoritas pada suatu situasi seperti penerimaan dan pemberhentian
pegawai, disiplin, promosi serta peningkatan upah.
·
Mengarahkan tentang apa yang harus dilakukan
dan bagaimana caranya, menjadwalkan pekerjaan, mempertahankan standar kinerja,
dan memperjelas peranan pemimpin dalam kelompok.
·
Melakukan berbagai usaha agar pekerjaan menjadi
lebih menyenangkan, memperlakukan pengikut dengan adil, bersahabat, dan mudah
bergaul serta memperhatikan kesejahteraan bawahannya.
·
Partisipatif, melibatkan bawahan, meminta saran
bawahan dan menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.
·
Berorientasi pada kinerja, menentukan
tujuan-tujuan yang menantang, mengharap kinerja yang tinggi, menekankan
pentingnya kinerja yang berkelanjutan, optimistik dan memenuhi standar-standar
yang tinggi.
Kelemahan
Ø Cenderung mempertimbangkan tujuan jangka pendek
Ø Bersikap sesuai dengan kekuasaan yang dimiliki
Ø Butuh waktu untuk memikirkan tindakan apa yang akan diambil
dan pada akhirnya berjalan diluar rencana.
Ø Lemahnya ketegasan dalam menyikapi permasalahan dalam suatu organisasi atau
instansi
b. Setiap tindakan
ataupun perbuatan tentunya memiliki dampak dari perbuatan tersebut. Teori
situasional ini memiliki kesan mendalam dalam menentukan arah dari setiap
keputusan yang dibuat dalam mencapai tujuannya dalam organisasi dan instansi.
Melihat kelebihan dan kekurangan yang ada pada soal 1.a tersebut bisa
disimpulkan bahwasanya kebaikan dari teori situasional ini sangatlah
mengesankan, terlebih lagi dari menyikapi permasalahan yang ada. Kebaikan dari
teori situasional yakni ;
- Masalah
dapat menjadi terkendali dengan memikirkan penyelesaian yang tepat,
tanggap, dan tidak merugikan pihak lain
- Dalam
segi pengambilan keputusan/kewenangan tidak terlalu tergesa-gesa, sehingga
keputusan itu tidak merugikan orang banyak
- Selalu
mendengar setiap aspirasi yang ada dalam lingkup internal maupun eksternal
dalam membuat keputusan yang diambil.
- Pemimpin
tidak egois dalam spesifikasi kerja, karena sistem dari teori ini berdasarkan
kepercayaan kepada bawahan
- Kinerja
bawaha menjadi baik, karena pemimpin selalu berkomunikasi secara intensiv
kepada bawah, dan sebaliknya bawahan dapat berkomunikasi pada pemimpin
permasalahan dalam instansi tersebut
Keburukan
- Masalah
menjadi banyak karena terlalu banyak pertimbangan yang diberikan
- Adanya
sifat inpersonal dalam ke-instansian karena hubungan menjadi baik
- Dari
segi kinerja kurangnya tanggung jawab sosial anggota terhadap atasan,
karena anggota dapat mencari alasan dengan mudahnya pada pemimpin
2 a.Dalam menghadapi perkembangan kemajuan teknologi
serta tuntutan dalam membuat suatu keputusan yang sesuai dengan perkembangan
tersebut secara mengglobal, pemimpin membutuhkan suatu cara agar
dalam segala tidakannya menjadi citra yang bagus dimata setiap orang. Untuk
membangun itu semua kita membutuhkan suatu kewibawaan dan kharismatic. Menurut Koentjaraningrat, kesakten
hanyalah salah satu syarat bagi pemimpin, tetapi bukan satu-satunya. Sebagai
jalan keluarnya Prof. Koentjaraningrat menawarkan model kepemimpinan yang lebih
universal dengan mengacu kepada data etnografi kebudayaan di Afrika, Asia dan
daerah lautan Pasifik. Dalam menyusun kerangka teoritisnya, Koentjaraningrat
mengkategorikan konsep kekuasaan dan kepemimpinan berdasarkan tingkat
perkembangan masyarakat, yaitu masyarakat kecil dan masyarakat sedang,
masyarakat negara-negara kuno, dan masyarakat negara kontemporer. Ada empat
komponen yang senantiasa ada dalam tiap jenis masyarakat: wibawa, kharisma,
wewenang dan kemampuan khusus.
Raven Duncan bahkan
menegaskan bahwa “Power probably is related most closely to the source
of leadership controversy.” Dari manakah seorang pemimpin ‘memperoleh’
kewibawaan? Ada beberapa sumber kewibawaan, yaitu:
- Coersive power: Sumber kewibawaan seseorang dapat berupa kekuasaan yang dimilikinya
untuk memaksakan kehendaknya. Raven Duncan mengatakan: “stems from
the ability to mediate punishment for the influence”.
- Reward power: Sumber kewibawaan seseorang dapat berasal dari kemampuannya
memberikan imbalan, kebalikan dari coersive power.
- Legitimate power: Ketentuan resmi dari pejabat yang berwenang merupakan salah satu
sumber yang menyebabkan seseorang memiliki kewibawaan untuk memengaruhi
perilaku anggota kelompoknya.
- Referent power: Kewibawaan karena pengaruh hubungan dalam kelompok. Dalam konteks
kepemimpinan Indonesia dikenal dengan teori keteladanan.
- Expert power: Kewibawaan karena keahlian. Seseorang memiliki kewibawaan karena ia
ahli di bidangnya.
- Charismatic power: Kewibawaan karena kharisma. Kendati sekarang kurang relevan, tetapi
masih banyak orang yang dianggap berwibawa karena kharisma yang
dimilikinya.
b. Ada, Caranya adalah dengan memberikan kesempatan luas kepada yang
bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui
berbagai kegiatan pendidikan dan latihan kepemimpinan. Sondang (1994) menyimpulkan
bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila : seseorang secara genetika telah
memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui
kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya, ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang
diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
menyangkut teori kepemimpinan. Contohnya
: steve job, seorang entrepreneur yang bergerak dalam bidang teknologi
smartphone yakni apple memiliki kefektifan dalam memberikan kenyamanan pada
costumer. Kharisma dan wibawa steve job memang tak nampak dalam kalangan
masyarakat secara luas, tetapi dalam perusahaan apple jiwa pemimpin yang
dimiliknya nampak, wibawa dan kharisma secara mendalam menjadi bagi entre
preneur ini. Memiliki ketegasan dalam mengambil keputusan dan mensosialisasikan
prodaknya.
3. Robert Tannenbaum, mengemukakan definisi kepemimpinan sebagai
pengaruh antar pribadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses
komunikasi, ke arah tercapainya suatu tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan. Model
Leadership Continuum merupakan hasil pemikiran Robbert Tannenbaum dan Warren H.
Schmidt. Seperti dikemukakan dalam perilaku atau disebut juga gaya pada
hakikatnya merupakan tingkah laku pemimpin sampai seberapa jauh hubungannya
dengan bawahan di dalam rangka pengambilan keputusan. Menurut teori
kontinum ada tujuh tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
a
Pemimpin membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan
(telling)
b
Pemimpin menjual dan menawarkan keputusan terhadap bawahan
(selling).
c
Pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan.
d
Pemimpin memberikan keputusan tentative, dan keputusan masih
dapat diubah.
e
Pemimpin memberikan problem dan minta saran pemecahannya
kepada bawahan (consulting).
f
Pemimpin menentukan
batasan-batasan dan minta kelompok untuk membuat keputusan.
g
Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi dalam batas-batas yang
ditentukan (joining).
Jadi, berdasrkan teori
kontinum, perilaku pemimpin pada dasarnya bertitik tolak dari dua pandangan
dasar :1. Berorientasi kepada pemimpin
2. Berorientasi pada bawahan
teori kontinum ini oleh Tannenbaum dan Schmidt dilukiskan
dengan model atau gambar sebagai berikut :
1.
Semakin bergeser ke kanan, semakin meluas kebebasan bawahan,
sehingga semakin nyata bawahan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Dan sebaliknya semakin sempit otoritas pemimpin. Jadi perilaku pemimpin
berorientasi kepada bawahan atau disebut kepemimpinan yang bergaya demokratis.
2.
Semakin bergeser ke kiri, semakin meluas otoritas pemimpin.
Sehingga semakin sempit atau semakin dibatasi kebebasan bawahan di dalam
keterlibatan pengambilan keputusan. Jadi, perilaku pemimpin berorientasi kepada
pemimpin atau dapat disebut pula kepemimpinan yang bergaya otoriter.
Model kepemimpinan Fiedler
(1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan
bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada
cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the
favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini
selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah
hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas
(the task structure) dan kekuatan posisi (position power).
Gambar tabel teori kepemimpinan kontingensi


Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas pemimpin
yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai Contingency
Approach. Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin
kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal
yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan
situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua
hal tersebut harus dipertimbangkan.
Teori kontingensi melihat pada aspek situasi dari kepemimpinan (organization
context). Fiedler mengatakan bahwa ada 2 tipe variabel kepemimpinan: Leader
Orientation dan Situation Favorability.
Ø Leader Orinetation adalah :
apakah pemimipin pada suatu organisasi berorinetasi pada relationship atau
beorintasi pada task. Leader Orientation diketahui dari Skala semantic
differential dari rekan yang paling tidak disenangi dalam organisasi (Least
preffered coworker = LPC) . LPC tinggi jika pemimpjn tidak menyenangi rekan
kerja, sedangkan LPC yang rendah menunjukkan pemimpin yang siap menerima rekan
kerja untuk bekerja sama. Skor LPC yang tinggi menujukkan bahwa pemimpin
berorientasi pada relationship, sebaliknya skor LPC yang rendah menunjukkan
bahwa pemimpin beroeintasi pada tugas. Fiedler memprediksi bahwa para pemimpin
dengan Low LPC yakni mereka yang mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih
efektif dibanding para pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang mengutamakan
orientasi kepada orang atau hubungan baik dengan orang apabila kontrol
situasinya sangat rendah ataupun sangat tinggi. Sebaliknya para pemimpin dengan
High LPC akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol
situasinya moderat.
Ø Situation favorability adalah :
sejauh mana pemimpin tersebut dapat mengendailikan suatu situasi, yang
ditentukan oeh 3 variabel situasi, yaitu :
- Leader-Member Orintation: hubungan pribadi antara pemimpin dengan para anggotanya.
- Task Structure: tingkat struktur tugas yang
diberikan oleh pemimpin untuk dikerjakan oleh anggota organisasi.
- Position Power: tingkat kekuasaan yang
diperoleh pemimpin organisasi karena kedudukan.
Situation favorability tinggi jika LMO baik, TS tinggi dan PP besar,
sebaliknya Situation Favoribility rendah jika LMO tidak baik, TS rendah dan PP
sedikit.
4. Kepemimpinan pada Sektor Publik : Kepemimpinan adalah
komponen penting dari tata kelola publik yang baik, mencari orang yang
akan mempromosikan adaptasi institusional dalam kepentingan publik (OECD,
2011).
A. Leader vs Manager
Ø Leader vs Manager
Leader : Seseorang dapat menjadi seorang pemimpin
tanpa menjadi seorang manajer.(contohnya: sorang ulama/tokoh agama), Manager :
Seseorang dapat menjadi seorang manajer tanpa menjadi pemimpin.(contohnya:
account manager yang tidak memiliki anak buah)
Ø Perbedaan Manager
dengan Leader:
Manager Melakukan perencanaan dan penganggaran, pengaturan, dan menemukan solusi atas suatu masalah dimana hal tersebut bertujuan untuk menciptakan
ketertiban (mempertahankan status quo karena menghindari resiko). Leader
Menentukan arah dan menyelaraskan melalui motivasi dan menginspirasi mereka melalui
pandanganya dimana hal tersebut bertujuan untuk menghasilkan perubahan (menghendaki
adanya perubahan karena menginginkan perbaikan terus-menerus).
§ Leaders:
1)Pemikir strategis
2)Melihat kedepan dan memiliki visi
3)Suka tantangan
4)Dapat memberi motivasi
5)Dapat menjadi sumber inspirasi
§ Managers:
1)Mempertahankan status quo
2)Memantau situasi
3)Mengalokasikan sumberdaya
4)Berkomunikasi pada target
5)Mengukur hasil yang akan diperoleh
6)Umpan balik pada trend
Teori mengenai kepemimpinan klasik menurut Doyle dan
Smith , dibagi dalam 4 teori klasik yang mendasari akan kepemimpinan
seseorang. Ke empat teori ini adalah :
1. Trait Approaches To
Leadership (Sifat Pendekatan Kepemimpinan) : Pemimpin adalah orang-orang,
yang mampu mengekspresikan dirinya secara penuh.
Mereka juga tahu apa yang mereka inginkan , dan mengapa mereka menginginkannya,
serta bagaimana mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan itu kepada
orang lain baik terhadapa anak buahnyaatau orang disekitarnya, dalam rangka
untuk mendapatkan kerjasama dan dukungan dari anak buahnya,
demikian penjelasan Wareen Bennis (Penulis dan pembicara seminar
leadership). Hal ini jelas dapat kita pelajaridari kehidupan orang-orang
yang telah di kenal sebagai pemimpin besar atau efektif, danjelas sudah
terbukti bahwa mereka memiliki kualitas kepemimpinan yang sangat berbeda.
Seperti hal nya tokoh politik dunia yang sudah kita kenal dengan baik seperti
Nelson Mandela, Margaret Thatcher dan Mao Zedong yang juga menganut akan teori
ini.
2. Behavioral Approaches To Leadership (Pendekatan Sikap/Behavior Kepemimpinan) : Dalam teori ini dikatakan bagaimana para pemimpin bekerja dan berinteraksi dengan anak buah/kryawannya untuk memimpin mereka dalam menyelesaikan tugas dengan memberikan contoh dalam menanganinya. Dengan tidak mengabaikan 4 hal yaitu: concern untuk menyelsaikan tugas yang menjadikan project utamanya, memperhatikan juga sumber daya manusia para anak buahnya apakah sanggup untuk melakukannya, jelas dalam memberikan arahan kepada bawahan/anak buahnya,dan yang paling penting lagi yang harus dilkukan oleh seorang pemimpin, cobalah untuk berbagi dalam pengambilan suatu keputusan, supya dengan begitu para karyawan/anak buahnya akan merasa menjadi bagian dari perusahaan tempat dimana ia bekerja.
3. Situational Or Contingency Approaches To Leadership (Situasional Atau Faktor Kemungkinan Pendekatan Kepemimpinan) : Dalam teori ini di katakan bahwa seorang pemimpin harus pandai dalam menggabungkan antara situasi dan gaya/pola kepemimpinannya. Jadi melihat pada sisi situasi yang terjadi. Dan efektivitas perusahaan tergantung pada bagaimana seorang pemimpin dapat menggabungkan dua faktor itu untuk dapat saling berinteraksi, yaitu antara gaya kepemimpinannya dan sejauh mana situasi memberikan kendali dan pengaruh nya.
4. Transformational Approaches To Leadership (Pendekatan Kepemimpinan Transformasional): Teori ini menyatakan bahwa pemimpin di sini harus merupakan sseorang pemimpin yang visioner dimana berusaha untuk menarik anak buah/karyawan mereka kembali dari diri mereka sendiri dan memindahkan mereka ke arah kebutuhan perusahaan yang lebih tinggi dan lebih universal dari sekedar tujuan mereka masing-masing. (Bolman dan Deal 1997: 314). Dengan kata lain, pemimpin dipandang sebagai model/panutan perubahan. Bagaimana cara sang pemimpin memotivasi bawahan/anak buahnya untuk patuh dan tunduk padanya serta menciptakan rasa intrinsik akuntabilitas antara bawahan dan dia sebagai atasannya.
2. Behavioral Approaches To Leadership (Pendekatan Sikap/Behavior Kepemimpinan) : Dalam teori ini dikatakan bagaimana para pemimpin bekerja dan berinteraksi dengan anak buah/kryawannya untuk memimpin mereka dalam menyelesaikan tugas dengan memberikan contoh dalam menanganinya. Dengan tidak mengabaikan 4 hal yaitu: concern untuk menyelsaikan tugas yang menjadikan project utamanya, memperhatikan juga sumber daya manusia para anak buahnya apakah sanggup untuk melakukannya, jelas dalam memberikan arahan kepada bawahan/anak buahnya,dan yang paling penting lagi yang harus dilkukan oleh seorang pemimpin, cobalah untuk berbagi dalam pengambilan suatu keputusan, supya dengan begitu para karyawan/anak buahnya akan merasa menjadi bagian dari perusahaan tempat dimana ia bekerja.
3. Situational Or Contingency Approaches To Leadership (Situasional Atau Faktor Kemungkinan Pendekatan Kepemimpinan) : Dalam teori ini di katakan bahwa seorang pemimpin harus pandai dalam menggabungkan antara situasi dan gaya/pola kepemimpinannya. Jadi melihat pada sisi situasi yang terjadi. Dan efektivitas perusahaan tergantung pada bagaimana seorang pemimpin dapat menggabungkan dua faktor itu untuk dapat saling berinteraksi, yaitu antara gaya kepemimpinannya dan sejauh mana situasi memberikan kendali dan pengaruh nya.
4. Transformational Approaches To Leadership (Pendekatan Kepemimpinan Transformasional): Teori ini menyatakan bahwa pemimpin di sini harus merupakan sseorang pemimpin yang visioner dimana berusaha untuk menarik anak buah/karyawan mereka kembali dari diri mereka sendiri dan memindahkan mereka ke arah kebutuhan perusahaan yang lebih tinggi dan lebih universal dari sekedar tujuan mereka masing-masing. (Bolman dan Deal 1997: 314). Dengan kata lain, pemimpin dipandang sebagai model/panutan perubahan. Bagaimana cara sang pemimpin memotivasi bawahan/anak buahnya untuk patuh dan tunduk padanya serta menciptakan rasa intrinsik akuntabilitas antara bawahan dan dia sebagai atasannya.
No comments:
Post a Comment