Peran Pemimpin dalam
Mengendalikan
Konflik
Pemimpin adalah pemegang keberhasilan sebuah lembaga yang
dipimpinnya. Baik buruknya, maju mundurnya lembaga tersebut tergantung
bagaimana seorang pemimpin mampu mengupayakan dan berperan sebagai seorang
figur yang diteladani dan dihormati. Dan profesionalisme adalah kunci dari
keberhasilan peran itu, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu
mempengaruhi perilaku individu-individu, untuk menunaikan tugasnya dalam rangka
memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target jama’ah (kebersamaan),
mengembangkan, memegang teguh, dan menjaga kekuatan bangunannya.
Di satu sisi, prestasi kepemimpinan seseorang sangat dipengaruhi oleh
harapan-harapan dari anggota kelompok yang dipimpinnya. Harapan-harapan
tersebut bukan hanya berhubungan dengan pengaruh kepemimpinan sosiologi
pemimpin, tapi juga efektifitas, efisiensi dan kepuasan kerja staf.
Harapan-harapan itu menurut Soemanto dkk dalam terjemahannya kepemimpinan
dalam pendidikan, mengenai program pengajaran perlu diteliti tentang hakekat,
pentingnya, pengaruh dan cara-cara menggarapnya, dalam rangka membantu pimpinan
mengatasi tantangan-tantangan pengajaran. Dalam sebuah
organisasi, dapat saja terjadi konflik baik antara individu yang tergabung
dalam satu kelompok kerja, maupun antara berbagai kelompok yang terdapat dalam
organisasi. Mengatasi konflik tersebut, seorang pemimpin harus memiliki
kemampuan dalam menyelesaikan konflik atau sebagai mediator dalam penyelesaian
konflik tersebut.
Secara
etimologi, kata konflik berarti perbedaan, pertentangan dan perselisihan. Dalam
Al-Quran konflik disepadankan maknanya dengan kata ikhtilaf seperti termaktub
dalam surat Al-Baqarah ayat 164. Sedangkan secara terminologi adalah suasana
batin yang berisi kegelisahan karena pertentangan dua motif atau lebih, yang
mendorong seseorang berbuat dua atau lebih kegiatan yang saling bertentangan
pada waktu yang bersamaan. Adapun konflik organisasi adalah ketidaksesuaian
antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok-kelompok organisasi yang
timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber
daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja dan/atau kenyataan bahwa mereka
mempunyai perbedaan status, nilai, atau persepsi.
Teori
kepemimpinan memberikan petunjuk akan adanya lima teknik yang dapat digunakan
oleh seorang pemimpin dalam memediasi konflik yang terjadi, yaitu kompetisi;
kolaborasi; pengelakan; akomodasi; dan kompromi.
1) Kompetisi
Persaingan
yang sehat antara individu dalam satu kelompok kerja dan antar kelompok dapat
merupakan daya dorong yang kuat untuk meningkatkan prestasi kerja,
produktivitas dan inovasi. Hanya saja perlu ditekankan bahwa
satu-satunya alasan untuk mendorong persaingan itu adalah kepentingan organisasi,
bukan kepentingan orang per orang dan bukan pula kepentingan kelompok tertentu
dalam organisasi. Artinya kompetisi harus diartikan sebagai usaha
berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Ternyata teknik
ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi konflik. Cara ini dipandang
tepat apabila situasi yang dihadapi menunjukan tiga sifat, yaitu :
a. Organisai
menghadapi keadaan darurat dan oleh karenanya diperlukan tindakan cepat,
misalnya adanya keputusan segera;
b. Terdapat
hal-hal penting dalam menuntut diambilnya tindakan yang tidak populer, misalnya
pengurangan dana, penegakan disiplin secara ketat dan tindakan sejenis
lainnya;
c. Timbul
masalah yang menyangkut kelangsungan hidup organisasi sebagai keseluruhan.
Teknik
mengatasi konflik yang terwujud dalam bentuk dorongan pesaingan digunakan dalam
situasi kritis pada waktu mana para anggota organisasi diharapkan berbuat
segala sesuatu yang mungkin dilakukan demi teratasinya situasi krisis tersebut.
2) Kolaborasi
2) Kolaborasi
Peranan
seorang pemimpin selaku mediator dalam mengatasi konflik dengan mendorong
kolaborasi antara individu dan atau antara kelompok dalam organisasi ternyata
bermanfaat dan efektif jika situasi yang dihadapi mempunyai ciri-ciri :
a) Situasi
yang dihadapi memerlukan ditemukannya jalan keluar yang integratif dalam
terdapatnya dua kepentingan yang terlalu penting untuk dikompromikan;
b) Apabila
sasaran yang ingin dicapai adalah menumbuhkan keinginan belajar di kalangan
pihak-pihak yang terlibat;
c) Apabila
konflik yang dihadapi menuntut penggabungan dari pelbagai pandangan yang
bertolak dari perspektif yang berbeda;
d) Situasi
menuntut adanya komitmen berbagai pihak dengan menginkorporasikan berbagai
kepentingan menjadi kebersamaan;
3) Pengelakan
Teknik ini dipandang efektif apabila situasi konflik yang dihadapi mempunyai tujuh sifat sebagai berikut :
Teknik ini dipandang efektif apabila situasi konflik yang dihadapi mempunyai tujuh sifat sebagai berikut :
a) Apabila
diketahui bahwa pemasalahan yang menimbulkan situasi konflik sesungguhnya tidak
penting atau kalau dipandang ada permasalahan lain yang dianggap lebih penting
dan memerlukan penanganan segera;
b) Apabila
pimpinan merasa bahwa pihak-pihak yang terlibat berpendapat bahwa kecil
kemungkinan terjaminnya kepentingan mereka;
c) Apabila
disrupsi yang mungkin timbul lebih besar bobotnya dibandingkan dengan keuntungan
yang mungkin diperoleh apabila konflik tidak diatasi;
d) Apabila
pihak-pihak yang terlibat memerlukan waktu untuk menenangkan diri dan perlu
kesempatan berfikir dengan tenang guna memperoleh perspektif yang tepat;
e) Apabila
kebutuhan akan informasi tambahan lebih penting dari adanya tindakan segera;
f) Apabila
ada orang lain yang dapat menyelesaikan konflik itu dengan cara yang lebih
efektif di luar pihak-pihak yang sekarang terlibat;
Apabila
suatu konflik nampaknya hanya bersifat simptomatik dan konflik yang
sesungguhnya belum menampakan diri secara jelas. Dari ciri-ciri di atas,
terlihat bahwa ada jenis-jenis konflik tertentu yang tidak membahayakan
kelangsungan hidup organisasi dan tidak pula terlalu mempengaruhi iklim kerja
dalam organisasi apabila pimpinan selaku mediator mengambil keputusan untuk
menunda penanganan konflik tersebut. Inilah yang dimaksud dengan teknik
pengelakan.
4) Akomodasi
Teknik
ini mendorong timbulnya sikap yang akomodatif di antara pihak-pihak yang
terlibat dalam situasi konflik tertentu dan dipandang tepat digunakan apabila :
a) Pimpinan
selaku mediator melihat bahwa salah satu pihak merasa bahwa pihaknya memang
salah dan oleh karenanya perlu diberikan kesempatan untuk mendengar dan belajar
dari orang atau pihak lain;
b) Terdapat
perasaan di kalangan pihak-pihak yang terlibat bahwa ada hal-hal tertentu yang
dipandang lebih penting bagi pihak lain ketimbang pihak sendiri, yang berarti
bahwa mendahulukan kepuasan pihak lain itu harus menjadi pertimbangan utama;
c) Membina
iklim yang memungkinkan pihak lain menerima pandangan pihak sendiri jauh lebih
penting dari tindakan segera;
d) Terdapat
perasaan bahwa sangat penting memperkecil kerugian bagi diri sendiri karena
ternyata pihak lain lebih kuat;
e) Keserasian
dan stabilitas dipandang sangat penting bagi kehidupan organisasi;
Pimpinan
merasa perlu memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk belajar dari
pengalaman dan kesalahan yang diperbuatnya yang menimbulkan situasi konflik
tersebut. Terlihat dengan jelas bahwa cara penyelesaian situasi konflik yang
akomodatif merupakan kebalikan dari cara yang konfrontatif. Yang menonjol dalam
penggunaan teknik ini ialah usaha pimpinan untuk mendorong sikap mengalah di
kalangan pihak-pihak yang terlibat.
5) Kompromi
Dalam
usahanya mengatasi situasi konflik yang timbul di antara para anggotanya,
seorang pimpinan dapat menggunakan teknik yang mendorong sikap yang
kompromistis. Sebagaimana halnya dengan teknik-teknik lain yang dapat
digunakan dalam menghadapi berbagai situasi konflik, ketepatan teknik ini pun
sangat bergantung pada sifat situasi konflik yang dihadapi. Teknik ini tepat
digunakan apabila situasi konflik yang hendak diatasi mempunyai sifat, yaitu :
a. Pencapaian
sasaran tertentu memang penting, akan tetapi tidak sedemikian pentingnya
sehingga sikap yang tegas dan keras diperlukan;
b. Apabila
pihak “lawan” dengan kekuatan yang sama dengan kekuatan yang dimiliki oleh
pihak sendiri, sudah terikat pada tujuan tertentu yang sifatnya “mutually
exclusive” dengan tujuan-tujuan lainnya;
c. Apabila
pemecahan yang ingin dicapai bersifat sementara terhadap permasalahan yang
sesungguhnya kompleks karena pemecahan tuntas terhadap permasalahan yang
kompleks itu diperhitungkan justru akan mempertajam konflik yang telah ada;
d. Apabila
pemecahan harus ditemukan dengan segera sehingga asal saja pemecahan itu
memadai, pihak-pihak yang berkepentingan dapat menerimanya;
Apabila
yang diperlukan adalah tindakan pengamanan - mungkin bersifat sementara –
karena cara lain seperti kolaborasi atau kompetisi tidak mendatangkan hasil
yang diharapkan. Teknik kompromi ini hanya tepat untuk usaha mengatasi situasi
konflik apabila hasilnya dipandang memadai, yaitu bila status quo dapat
dipertahankan sambil melakukan upaya yang diharapkan mendatangkan hasil yang
relatif permanen.
Dari
teknik-teknik yang disajikan di atas, diperlukan kemampuan pimpinan dalam
membaca situasi konflik yang terjadi di dalam organisasinya, sehingga dapat
mengambil langkah mediasi atau penyelesaian konflik dengan teknik-teknik yang
disajikan.
Sejauh
mana keberhasilan pimpinan dalam menjalankan fungsinya selaku mediator konflik?
Ukuran satu-satunya ialah hasil yang dicapai. Seorang pimpinan dikatakan dapat
mengatasi konflik apabila terwujud : 1). Stimulasi bagi para bawahan untuk
semakin kreatif dan inovatif; 2). Timbulnya dorongan perhatian dan rasa ingin
tahu di kalangan para bawahannya; 3). Peningkatan kemampuan para bawahan untuk
mengemukakan dan merumuskan suatu permasalahan secara baik; 4). Penyaluran
ketegangan secara baik;
Menumbuhkan
situasi yang mendorong iklim dalam mana para bawahan mampu melakukan penilaian
atas diri sendiri yang mengarah pada mempermudah terjadinya perubahan di masa
yang akan datang, baik yang menyangkut persepsi, kemampuan kognitif, maupun
sikap dan perilaku di masa yang akan datang. Sebaliknya, seorang pimpinan
dikatakan kurang berhasil dalam memainkan peranannya selaku mediator, apabila
dalam menangani situasi konflik, yang terjadi ialah : a. Tidak terdorong timbul
dan berkembangnya iklim dimana komunikasi ke semua jurusan – yaitu vertikal ke
bawah, vertikal ke atas, secara horisontal dan diagonal – melalui mana berbagai
hal yang dapat menimbulkan situasi konflik dapat dihindarkan; b. Tidak
meningkatkan kekompakan di antara para bawahannya; c. Tetap menonjolkan
kepentingan pribadi di atas kepentingan organisasi.
Seorang pemimpin yang
efektif adalah seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat
bekerja sama untuk mencapai hasil yang memuaskan bagi terjadinya perubahan yang
bermanfaat. ada beberapa kepemimpinan yamg efektif antara lain menurut Ruth M.
Trapper membagi menjadi 6 komponen:
1. Menentukan tujuan yang jelas, cocok, dan bermakna bagi
kelompok.
2. Memilih pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan dan dalam bidang
profesinya.
3. Memiliki kesadaran diri dan menggunakannya untuk memahami
kebutuhan sendiri serta kebutuhan orang lain.
4. Berkomunikasi
dengan jelas dan efektif.
5. Mangarahkan energi yang cukup untuk kegiatan kepemimpinan
6. Mengambil tindakan
Bennis, mengidentifikasi empat kemampuan penting bagi seorang pemimpin,
yaitu:
1. Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem
manusia (hubumgan antar manusia)
2. Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan
bawahan.
3. Mempunyai kemampuan hubungan antar manusia, terutama
dalam mempemgaruhi orang lain.
4. Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan
seseorang mengenal orang lain dengan baik.
Menurut gibson, seseirang pemimpin harus mempertimbangkan:
1.
Kewaspadaan diri (self awarness)
kewaspadaan diri berarti menyadari bagai mana seorang
pemimpin mempengaruhi orang lain. kadang seorang pemimpin merasa ia sudah
membantu orang lain, tetapi sebenarnya justru telah menghambatnya.
2.
Karakteristik kelompok
Seorang pemimpin harus memahami karakteristik kelompok
meliputi : norma, nilai-nilai kemampuannya, pola komunikasi, tujuan, ekspresi,
dan keakraban kelompok.
3.
Karakteristik individu
Pemahaman tentang karakteristik individu juga sangat
penting karena setiap individu unik dan masing- masing mempunyai kontribusi
yang berbeda. (nurhidayah. 2012. manajemen keperawatan. makassar. alauddin university
press)
Lebih lanjut prestasi kepemimpinan tersebut juga sangat dipengaruhi oleh
seberapa besar seorang pemimpin dalam proses kepemimpinannya bisa mengendalikan
suatu masalah yang “terbungkus” dalam konflik. Dan oleh karena itu diperlukan
suatu ketrampilan tersendiri bagi seorang pemimpin dalam menangani dan
memecahkan sebuah konflik, baik konflik pribadi, konflik antar individu, maupun
konflik antar kelompok.
1. Memahami konflik sebagai sebuah fakta kehidupan.
Pada dasarnya “konflik” adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. Hal
ini disebabkan karena konflik melekat erat dalam jalinan kehidupan. Tak
terkecuali dalam proses kepemimpinan pendidikan Islam. Akan tetapi, sebuah kebimbangan
dalam menangani sebuah konflik muncul, bahwa ada beberapa mitos yang secara
umum terjadi terkait dengan konflik:
a)
Adanya konflik merupakan pertanda
kelemahan manajer (pemimpin)
Mitos ini berperan
dalam menimbulkan rendahnya rasa bangga terhadap diri sendiri dan rasa aman,
dan menarik seorang manajer (pemimpin) untuk berada pada “roda”
ketakutan, sehingga selalu merasa tergesa-gesa dan ketakutan. Namun
kenyatannya, konflik tetap ada dan terjadi. Seorang pemimpin yang efektif akan
dapat mengantisipasi konflik bila memungkinkan, siap mengahadapi konflik bila
kondisi tersebut muncul, dan menikmati ketidakadaannya. Hubungan itu demikian
beragam untuk menilai secara efektif mutu seorang pemimpin dengan ada atau
tidaknya konflik.
b)
Konflik merupakan pertanda rendahnya
perhatian pada organisasi (lembaga)
Ini menunjukkan bahwa
orang menggunakan waktu dan energinya yang sangat berharga untuk
masalah-masalah kecil. Umumnya, orang mempertahankan dan melindungi kawasan itu
dan tetap menaruh perhatian yang mendalam pada konflik, dengan demikian konflik
menunjukkan perhatian yang sebenarnya. Konflik dapat membantu mengklarifikasi
emosi seorang pemimpin, dan dapat dipakai sebagai alat untuk mengidentifikasi
nilai-nilai dasar yang dianut olehnya.
c)
Kemarahan adalah negatif dan merusak
Mitos ini mengabaikan
kemarahan sebagi suatu emosi, baik itu emosi positif maupun negatif, seperti
bentangan emosi manusia yang demikian luas yang mereka alami sehari-hari.
Energi diperlukan untuk memindahkan emosi yang berasal dari mereka yang menaruh
cukup perhatian pada suatu obyek yang terlibat di dalamya supaya berada dalam
arahan yang positif. Kemarahan hanya suatu pertanda dari bahaya, tapi kemarahan
dapat juga mengarahkan untuk tercapainya suatu kepuasan bila dilakukan dengan
tepat.
d)
Konflik, jika dibiarkan, akan reda
dengan sendirinya.
Mitos ini tidak
semuanya benar, karena intensitas sebuah konflik adalah beragam. Jika konflik
itu diabaikan, maka akan dapat meningkat menjadi konflik yang lebih besar.
e)
Konflik harus dipecahkan.
Mitos ini menghambat
kreatifitas, menyebabkan seorang pemimpin menjadi berorientasi pada solusi.
Beberapa konflik paling baik dikelola dengan sabar, sementara yang lainnya
menghendaki dengan cara pemecahan. Gerak cepat untuk menyelesaikan konflik
dapat membatasi keberhasilan. Fokus yang berlebihan pada pemecahan masalah
dapat menjadi tidak produktif. Pemikiran yang berfokus tunggal, yang
kadang-kadang terjadi bila seorang pemimpin merasa yakin bahwa dirinya harus
menemukan sebuah solusi, dapat menyebabkan dirinya kehilangan perspektif.
Kegagalan untuk melihat gambar yang besar sementara bertahan dengan masalah
yang khusus, dapat menjadi suatu perangkap yang besar pada waktu terjadi
konflik.
Teori intraksi pada tahun 1970 mengumumkan bahwa
konflik merupakan suatu hal yang penting, dan secara aktif mengajak organisasi
untuk menjadikan konflik sabagai salah satu pertumbuhan produksi. Teori ini
menekankan bahwa konflik dapat mangakibatkan pertumbuhan produksi sekaligus
kehancuran organisasi, keduanya tergantung bagai mana manajel mengelolahnya.
Mengingat konflik adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam organisasi,
maka manajer harus dapat mengelolahnya dengan baik.
2. Karakteristik konflik
Ada beberapa karakter
yang dipunyai oleh konflik, yaitu:
a.
Dengan meningkatnya konflik, perhatian
terhadap konflik itu sendiri juga meningkat.
b.
Keinginan untuk menang seiring dengan
meningkatnya keinginan pribadi.
c.
Orang yang menyenangkan dapat menjadi
berbahaya bagi yang lain seiring dengan meningkatnya konflik.
d.
Strategi manajemen konflik yang bekerja
pada tingkat konflik yang rendah, pada konflik tingkat tinggi sering tidak
efektif, dan kadang-kadang menjadi tidak ada artinya.
e.
Konflik dapat melampaui dari tahapan
yang lazim.
f.
Orang tampaknya menjadi seperti individu
yang berbeda selama berada dalam konflik, tapi konflik yang terjadi pada
seluruh tingkat organsisasi dapat diidentifikasikan.
3. Mengidentifikasi Tahap-tahap konflik
Sebagaimana dinyatakan
oleh Hendrick, bahwa secara umum ada tiga tahapan konflik yang pada dasarnya
merupakan suatu rangakaian yang dapat dikelola. Tiga tahapan konflik itu antara
lain:
a)
Konflik sebagai peristiwa sehari-hari.
Konflik ini terjadi
secara terus menerus dan biasanya memerlukan sedikit perhatian. Umumnya
individu tanpa menyadari menerapkan strategi pengelolaan konflik dengan cermat.
Keahlian mengelola konflik secara telaten adalah piranti yang canggih untuk
menyelesaikan konflik pada tahap ini. Strategi pengelolaan konflik yang cermat
dan penuh kesabaran, seperti membiarkan tindakan mitra kerja, adalah paling
efektif apabila mitara kerja itu menyadarinya.
Konflik tahap ini
ditandai oleh perasaan jengkel sehari-hari. Perasaan jengkel ini dapat berlalu
begitu saja, kadang-kadang muncul tidak menentu. Tapi rasa jengkel dapat
menjadi masalah. Strategi manajemen konflik pada tingkat ini harus
memeperhatikan apakah rasa jengkel itu berganti menjadi masalah. Menghindari
adalah salah satu strategi manajemen konflik yang efektif untuk menagangani
kejengkelan sehari-hari. Kita lebih baik melupakan kejengkelan daripada
menghadapinya, sebab itu adalah masalah kecil. Dan strategi manajemen konflik
yang hati-hati dan penuh kesabaran dipakai untuk menghindari konflik yang
terbuka, juga dilakukan bila seorang pemimpin tidak mempunyai waktu yang cukup
dan motivasi untuk mengubah kebiasaan orang lain.
Konflik pada tahap
satu ini adalah nyata, meskipun intensitasnya rendah. Ketika orang bekerja
sama, ada perbedaan dalam tujuan, nilai-nilai yang dianut dan kebutuhan. Pada
tahap satu ini kelompok merasa tidak cocok dan mungkin marah, pasti emosinya
“cepat mereda”. Individu biasanya sadar dan bersedia membuat solusi selama
tahap konflik satu, seiring dengan perasaan optimis merasa bahwa penyelesaian
itu dapat disusun.
Mendengarkan serta
berpartisipasi adalah sesuatu yang essential pada penyelesaian konflik tahap
ini. Seperti seorang pemimpin yang menyelesaiakn konflik, berinisiatif untuk
belajar dan bekerja sama dengan menekankan pada tanggung jawab bersama pada tim
kerja. Strategi ini menfokuskan pada semua partisipan untuk berada pada arahan
umum dan membolehkan setiap orang memberikan kontribusi. Ada beberapa cara
dalam menangani konflik pada tahap satu ini, yaitu:
- Membuat suatu proses yang
menguji dari dua sisi. Dapatkah suatu kerangka dibuat sehingga mampu meningkatkan
pemahaman satu sama lain.
- Bertanyalah jika reaksi itu
proporsional dengan keadaan. Apakah kelompok ini membawa sisa emosi dan
peristiwa lain ?
- Identifikasikan poin-poin
kesepakatan dan bekerjalah menurut poin-poin tersebut, kemudian baru
mengidentifikasikan poin-poin ketidaksepakatan.
b)
Konflik sebagai tantangan.
Pada tahap ini,
konflik dipahami sebagai unsur kompetisi yang ditandai dengan “sikap kalah
menang”. Kekalahan tampaknya lebih besar pada tahap ini sebab orang diikat oleh
masalah. Kepentingan pribadi dan bagaimana seseorang melihat menjadi sangat
penting.
Pada tahap dua ini,
orang menjaga dan mempertahankan kemenangan verbal dan merekam kesalahan, dan
melihat dari satu sisi. Dan tingkat komitmen diperlukan untuk bekerja kendati
konflik juga meningkat. Karena konflik pada tahap dua ini lebih kompleks,
masalah tidak dapat lebih lama dikelola dengan strategi penanganan konflik
secara sabar dan hati-hati. Pada tahap ini orang adalah masalah. Mendiskusikan
dan menjawab isu kadang-kadang tidaik ada menfaatnya sebab orang dan masalah
yang dihadapi menjadi rumit. Untuk melakukan strategi pada pengelolaan konflik
yang efektif pada tahap dua adalah seorang pemimpin harus melakukan strategi
mengelola orang.
Seperti seorang
pemimipin yang bekerj dengan bawahan, perhatikan kata-kata untuk memaparkan
sebuah konflik atau ketidaksetujuan. Pada tahap kedua bahasa menjadi kurang
spesifik, karena orang berbIcara secara umum. Dan kelompok kurang suka mencari
fakta yang akurat tentang lawan dalam konfliknya sebab tingkat kepercayaan
sudah menurun. Di bawah ini beberapa gagasan dalam menangani konflik tahap dua,
antara lain:
- Buatlah suasana yang aman dan
ciptakan suatu lingkungan di mana setiap orang merasa aman.
- Tegaslah terhadap fakta, tapi
lunak terhadap orang. Ambillah penambahan waktu untuk mendapatkan setiap
detail.
- Buatlah pekerjaan resmi sebagai
pekerjaan tim, dan bagilah tanggung jawab sehingga setiap orang mempunyai
alternatif untuk dapat menyesuaikan diri. Tekankan pentingnya kesatuan
tanggung jawab.
- Carilah kesepakatan minimal,
tapi tidak dianjurkan membuat kompromi. Karena kompromi secara tidak
langsung akan mengorbankan poin yang menjadi harapan.
- Berikan waktu untuk menarik
kelompok yang bersaing menerima kesepakatan tanpa memberikan konsesi atau
mengeluarkan tekanan.
- Ingat, ini adalah upaya keras
dan susah untuik mendudukkan orang yang sedang bersaing untk berada dalam
satu meja.
Dan konflik tahap dua
ini, jika diabaikan akan memeperdayai seorang pemimpin dan menjadi masalah yang
besar.
c)
Konflik sebagai pertentangan.
Konflik pada tahap
tiga tujuannya mengubah keinginan untukmenang menjadi keinginan untuk
mencederai. Motivasinya adalah untuk “menghilangkan” kelompok lain. Perubahan
situasi dan pemecahan masalah tidak lagi dapat memuaskan sehingg akhirnya ke
konflik tahap tiga.
Pemimpin yang muncul
dari kelompok yang berkonflik bertindak sebagai juru bicara. Pihak luar dituduh
sebagai pihak yang menyebabkan timbulnya konflik. Jika konsensus tidak dapat
dicapai, arbitrase dapat digunakan untuk tahap berikutnya. Masing-masing
kelompok akan memaparkan kasusnya dengan cara yang paling baik, dan salah satu
sisi dipilih. Negosiasi dan arbitrase adalah sebagai alat yang diperlukan oleh
seorang pemimpin. Ada beberapa cara untuk menangani konflik tahap tiga, yaitu:
- Detail adalah penting, arinya
bahwa campur tangan tim dari luar harus mau memperhatikan setiap detail.
- Lembaga harus menyediakan waktu
tambahan untuk mewawancarai semua orang yang terlibat dalam konflik.
- Alasan dan logika tidak efektif
untuk menyadarkan kelompok yang sedang bertikai untuk mengakhiri konflik.
- Jelaskan tujuan dari lembaga
dan ciptakan suasana yang menumbuhkan rasa dituntun sehingga individu yang
terlibat konflik itu akan mundur sebagi pemenang.
4. Lima Gaya dalam Manajemen Konflik
Menurut Hendricks, ada
lima gaya dalam manajemen konflik yaitu:
a.
Gaya penyelesaian konflik dengan
mempersatukan (intregating).
Adalah salah satu dari gaya konflik, yang mana individu yang memilih gaya
ini melakukan tukar menukar informasi. Di sini ada keinginan untuk mengamati
perbedaan dan mencari solusi yang dapat diterima oleh semua kelompok. Gaya
penyelesaian konflik jenis ini secara tipikal diasosiasikan dengan pemecahan
masalah, ini efektif bila isu konflik adalah kompleks.
b.
Gaya penyelesaian konflik dengan kerelaan
untuk membantu (obliging)
Kerelaan membantu menempatkan nilai yang tinggi untuk orang lain sementara
dirinya sendiri dinilai rendah. Gaya ini mungkin mencerminkan rendahnya
penghargaan terhadap diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Gaya ini juga
dapat dipakai sebagi strategi yang sengaja digunakan untuk mengangkat atau
menghargai orang lain, membuat mereka merasa lebih baik dan senang terhadap
suatu isu.
c.
Gaya penyelesaian konflik dengan
mendominasi (dominating)
Adalah salah satu gaya dalam manajemen konflik yang menekankan pada diri
sendiri. Di mana kewajiban bisa diabaikan oleh keinginan pribadi, gaya
mendominasi ini meremehkan kepentingan orang lain.
d.
Gaya penyelesaian konflik dengan
menghindar (avoiding)
Adalah suatu gaya penyelesaian konflik dengan cara menghindar dari
permasalahan. Aspek negatif dari gaya menghindar adalah termasuk
diantaranya menghindar dari tanggung jawab. Seorang pemimpin yang menggunakan
gaya ini akan lari dari perisrtiwa yang dihadapi, meninggalkan pertarungan untuk
mendapatkan hasil.
e.
Gaya penyelesaian konflik dengan
kompromi (compromis).
Dalam gaya ini perhatian pada diri sendiri maupun pada orang lain berada
dalam tingkat sedang. Ini adalah orientasi jalan tengah. Dalam kompromi, setiap
orang memiliki sesuatu untuk diberikan dan menerima sesuatu.
5. Kategori Konflik
Konflik dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu, konflik
intrapersonal, interpersonal, dan antar kelompok.
a)
Intrapersonal.
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Keadaan ini merupakan masalah
internal untuk mengklarifikasi nilai dan keinginan dari konflik yang terjadi.
b)
Interpersonal.
Konflik interpersonal terjadi antara dua orang atau lebih di mana nilai,
tujuan dan keyakinan berbeda. Konflik ini sering terjadi karena seseorang
secara konstan berinteraksi dengan orang lain, sehingga ditemukan
perbedaan-perbedaan.
c)
Antar kelompok.
Konflik terjadi antar dua atau lebih dari kelompok orang, departemen, atau
organisasi. Sumber konflik jenis ini adalah hambatan dalam mencapai kekuasaan
dan otoritas (kualitas jasa layanan), serta keterbatasan prasarana.
6.
Komponen
konflik
Secara
umum konflik terbagi atas tiga jenis seperti:
1. Kepentingan
(interest), yaitu sesuatu yang memotivasi orang untuk melakukan atau tidak
melakukan seuatu
2. Emosi
(emotion), yaitu sesuatu yang sering diwujudkan melalui perasaan yang menyertai
sebagian besar interaksi manusia seperti marah, benci, takut, dan lain-lain
3. Nilai
( values ), yaitu komponen konflik yang paling susah untuk dipecahkan
sebab nilai merupakan hal yang tidak bisa diraba dan dinyatakan secara nyata.
7.
Sumber
konflik
Sumber-sumber
konflik dapat dibagi menjadi lima, seperti:
a) Biososial,
pakar manajemen menempatkan frustasi-agresi sebagai sumber konflik.
Berdasarkan pendekatan ini, frustasi sering menghasilkan agresi yang
mengarah pada terjadinya konflik
b) Kepribadian
dan Interaksi, termasuk di dalamnya adalah kepribadian yang abrasive (suka
menghasut), gangguan psikologi, kemiskinan, keterampilan interpersional,
kejengkelan, persaingan (rivalitas), perbedaan gaya interaksi, ketidaksederajatan
hubungan
c) Struktural,
konflik yang melekat pada struktur organisasi dan masyarakat seperti yang
disulut oleh kekuasaan, status, dan kelas sosial
d) Budaya
dan Ideologi, intensitas konflik dari sumber ini sering dihasilkan dari
perbedaan politik, sosial, agama, dan budaya
e) Konvergensi
(gabungan), dalam situasi tertentu sumber-sumber konflik itu menjadi satu,
sehingga menimbulkan kompleksitas konflik itu sendiri.
Peran Pimpinan Dalam Penyelesaian Konflik
1.
Pemimpin perlu menganalisa jumlah dan tipe konflik yang terjadi dalam
organisasi sehingga bias focus mengatasinya.
2.
Manajer kesehatan seharusnya mengevaluasi setiap level konflik yang terjadi
dan melihat apakah organisasinya kuat dalam menghadapi konflik.
3.
Ketika manajer terlibat konflik seharusnya berpikir eksplisit tentang
sejauhmana perhatian mereka terhadap organisasi. Ini menjadi salah satu kunci
untuk menentukan strategi pengelolaan konflik.
4.
Dalam negosiasi, manajer perlu menentukan dan mengidentifikasi isu yang
pasti akan dinegosiasikan.
5.
Manajer seharusnya hati-hati menentukan apakah sikap dalam negosiasi telah
memenuhi standar normal sebelum bernegosiasi.
6.
Manajer seharusnya tidak terlalu tertekan dalam mempersiapkan sebuah
negosiasi.
7.
Jika seorang manajer melibatkan pihak ketiga dalam penanganan konflik
mereka harus mengontrol proses dan hasil dari perdebatan/diskusi. (Nurhidayah ,
2012:181)
KESIMPULAN
Menurut Henry Mentzberg, peran pemimpin adalah:
1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini
fungsinya sebagai pemimpin yang di contoh, pembangun tim, pelatih, direktur,
mentor kunsultasi.
2. Fungsi peran informl sebagai monitor, penyebar
informasi dan juru bicara.
3. peran pembuat keputusan pengusaha, penanganan
gangguan, sumbel alokasi, dan negosiator.
Menurut james A.f stinen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
1. Pemimpin bekerja dengan orang lain.
2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggung jawabkan
(akuntabilita).
3. Pemimpin menyeimbangkan pancapaian tujuan dan prioritas
4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual
5. Manajer adalah seorang mediator
6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat
7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit
Strategi penyelesaian konflik dapat dibedakan menjadi 6, yakni:
1. Kompromi atau negosiasi, Suatu strategi penyelesaian konflik dimana semua yang
terlibat saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama.
2. Kompetensi, Strategi ini dapat diartikan sebagai “win/lose”
penyelesaian konflik.
3. Akomodasi, Ketika salah satu pihak berusaha menyenangkan hati
lawannya, pihak tersebut kiranya akan bersedia menempatkan kepentingan lawan
diatas kepentingannya sendiri.
4. Smootting, Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara
mengurangi komponen emosional dalam konflik.
5. Menghindar, Semua yang terlibat dalam konflik, pada strategi ini
menyadari tentang masalah yang dihadapi, tetapi memilih untuk menghindar atau
tidak menyelesaikan masalah.
6. Kolaborasi, Strategi ini merupakan strategi “win-win solution”.
SARAN
Mengembangkan kekuatan pribadi, peningkatan diri dalam pengetahuan,
keterampilan dan sikap sangat dibutuhkan untuk menciptakan seorang pemimpin
yang berprinsip karena seorang pemimpin seharusnya tidak hanya cerdas
intelektual, tetapi juga emosional dan spiritual (IQ, EQ, dan SQ).
Daftar Pustaka
Jamal Mahdhi, menjadi
pemimpin yang efektif dan berpengaruh ; tinjauan manajemen kepemimpinan islam,
hal. 2
Wasty Soemanto dkk., kepemimpinan
dalam pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1999), hal. 36
Nursalam, M. Nurs, (Hons). 2009. Manajemen
Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan profesional Edisi kedua,
Jakarta: Salemba medika.
Hidayah nur. 2012. Manajemen
keperawatan. Makassar. Alauddin University Press.
No comments:
Post a Comment