Saturday, 17 January 2015

Soal Pendeskripsi Analisis Kepemimpinan

Soal
1.      a. Mengidentifikasi kelemahan, kebaikan dari Situational Theory (Sebutkan tokoh)
b.    Mengkritisi keburukan,kebaikan
2.        a. Bagaimana membangun wibawa,kharisma dalam perspektif teori-teori
  klasik,modern ?
b. Apakah ada hubungan antara efektifitas kepemimpinan dengan
wibawa dan charisma ? berikan Contoh empiris ?
3.        Mengemukakan pokok-pokok pikiran Tannen Baum ( how to choose leadership) dan Fielder ?
4.        Apa bedanya teori-teori klasik dengan public sector leadership ? Kemukakan teori-teori klasik, dan tokoh public sector leadership ?

Thursday, 18 September 2014

Faktor Penghambat Perekonomian dan Geografis dalam Ekologi Administrasi sebagai Tantangan yang Menguntungkan



NAMA    : Randy Prasetyo
NIM         : 125030100111183
A.1 Perekonomian
Faktor Penghambat
1.      Korupsi
Angka Indeks Persepsi Korupsi Indonesia naik dari 2,6 tahun 2008 menjadi 2,8 tahun 2009, disertai kenaikan 15 peringkat dari tahun lalu dimata dunia tentang tingkat korupsi Tingkat korupsi di indonesia kian semakin bertambah, ini mengakibatkan para investor asing enggan menanamkan modalnya dinegeri kesejahteraan kita ini.
2.      Kegiatan Impor yang semakin besar
Tuntutan kebutuhan dalam negeri yang besar mengakibatkan semakin gencar produk-produk impor datang menyerbu pasar negara jika kondisi daya saing produknya lemah dan tidak mampu berkompetisi di kancah perdagangan Internasional. Rakyat juga merasa dirugaikan dalam hal ini, mengingat negara kita adalah negara yang penduduknya bergerak dalam kegiatan agrikultur sehingga masyarakat tidak bisa bersaing.
3.      Pembangunan yang tak seimbang
Kurangnya pemerataan tingkat ekonomi dinegara kita mengakibatkan pembangunan dalam negara kita tidak seimbang. Adanya pembedaan tingkat pendapatan perkapita dari tiap daerah menjadi indikator dalam segi pembangunan terutama dalam kegiatan manufaktur. Ini mengakibatkan laju kesejahteraan tingkat ekonomi rakyat tidak seimbang dan mobilisasi masyarakat tidak selaras dalam penerapan perekonomian
4.      Kemiskinan
Kemiskinan dinegara kita ini sangat besar, meskipun kita menduduki peringkat 10 perekonomian terbaik dimata dunia. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemerataan tingkat pendapatan yang ada. Bagi kawasan yang kaya pendapatan lebih besar dari kawasan yang kurang kaya.

Mengukur Kualitas dan Kuantitas Kinerja Pelayanan Sektor Publik



2.1 Kualitas Kinerja Pelayanan Publik
Dalam aspek mensejahterakan kehidupan rayat dari segi memanusiakan manusia dalam teologisnya, hakikat pelayanan publik harus menjadi indikator terpenting dalam kinerjanya. Kualitas layanan adalah penawaran nilai tambah yang menyediakan rasa kepuasan yang lebih sehingga membuat customer/user ingin kembali untuk merasakan kepuasan yang lebih dari kinerja pelayanan publik.
Kualitas layanan dengan berbagai indikator atau parameter yang melekat, pada akhirnya harus teritegrasi pada totalitas sistem pelayanan suatu organisasi. Kualitas layanan harus terefleksikan atau tercermin dalam setiap dokumen dan tindakan konkrit organisasi dalam rangka penyelenggaraan layanan. Integrasi dan operasionalisasi kualitas layanan dan indikator-indikator yang digunakan dalam penyelenggaraan layanan oleh organisasi, umumnya dituangkan secara resmi ke dalam standar pelayanan. Standar pelayanan berisikan panduan, pedoman, prinsip, janji dan garansi pemberian layanan yang berkualitas yang berhak diperoleh oleh pengguna jasa layanan.
Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi pengguna jasa layanan, sehingga pihak pengguna jasa layanan mendapatkan pelayanan yang sama dan objektif dari organisasi pemberi jasa layanan. Menurut Terry (1977) standar merupakan suatu hal yang diterapkan untuk  menjadi ukuran atau acuan dalam bertindak atau melaksanakan pekerjaan.Standar pelayanan publik sebagai ketetapan dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat  dan memberikan perlindungan atas hak-hak publik yang seharusnya diterima.
Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penelitian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau dan terukur. Dalam setiap penyelenggaraan pelayanan harus didasarkan pada standar pelayanan sebagai ukuran yang dibakukan dan wajib ditaati oleh penyelenggara pelayanan maupun penerima pelayanan.

Resume Gerakan Red Queen dan Inovasi Pembaharuan di Sektor Publik


Nama      : Randy Prasetyo
NIM        : 125030100111183
Resume Jurnal
Pembangunan Kapasitas dan Kelembagaan Sektor Publik
A.    Ratu Merah dalam Evolusi Organisasi (The Red Queen In Organizatuonal Evolution)
Sebuah organisasi menghadapi persaingan kemungkinan untuk terlibat dalam pencarian cara untuk meningkatkan kinerja. Ketika berhasil, hasil pencarian dalam pembelajaran di para pesaingnya sehingga membuat mereka  pesaing yang kuat dan jadi sekali lagi memicu pembelajaran di dalam organisasi pertama. Kita menguraikan kondisi dimana proses memperkuat diri, dikenal dalam teori evolusi sebagai “Red Queen” atau Ratu Merah, seperti kesesuaian atau ketidaksesuaian. Kita memprediksi kosekuensi ketidaksesuaian ketika organisasi menghadapi banyak pengikut yang bervariasi dari saingan. kita secara empiris membedakan efek ini menggunakan Model Ekologi dari kompetisi. Perkiraan  tingkat kegagalan organisasi mengungkapkan Ratu Merah antar bank lilinois dan dukungan prediksi kita.
Kompetisi organisasi sering terlibat dalam interaksi strategis yang kompleks, dengan hasil tergantung tidak hanya pada apa yang perusahaan yang tidak, tapi pada apa suatu perusahaan tidak diberikan apa lain yang akan melakukan, memberikan apa yang akan dilakukan, dan lain-lain (Dixit and Nalebuff, 1991; Saloner, 1991). Di sisi lain, kita tahu bahwa organisasi sangat terbatas dalam kemampuan mereka untuk mengatasi dengan kompleksitas tersebut. Pengembangan strategi dari waktu ke waktu melalui proses organisasi (Barnard, 1930; Bower, 1970; Burgelman, 1994), dan manajer dibatasi oleh praktik oragnizational masa lalu saat mereka menghadapi setiap hari dengan keadaan sering melebihi pemahaman dan kontrol mereka (Sayles, 1964). akibatnya, banyak aspek dari strategi organisasi muncul dari hari ke hari dalam penyesuaian rutinitas organisasi, sering menyimpang jauh dari rencana strategis yang formal (Mintzberg and McHugh, 1985). model kami memungkinkan untuk interaksi yang kompetitif antara organisasi yang terbatas dalam kemampuan mereka untuk menyusun strategi.  khususnya, kita berasumsi bahwa suatu organisasi menghadapi persaingan cenderung untuk merespon, tetapi respon yang kemungkinan akan dibatasi hanya "kepuasan" melalui pencarian lokal dan proses pengambilan keputusan (March and Simon, 1958).
Tanggapan ini kemudian sedikit meningkatkan kompetisi yang dihadapi oleh saingan organisasi, memicu di dalamnya proses yang serupa pencarian dan keputusan yang pada akhirnya meningkatkan tekanan persaingan yang dihadapi oleh organisasi pertama. Ini lagi memicu pencarian untuk perbaikan dalam organisasi pertama, sehingga siklus berkelanjutan. Kita berpikir bahwa sistem ini kebalikan dari kausalitas, yang dikenal dalam teori evolusi sebagai "Ratu Merah" (Van Valen, 1973) , adalah pusat, kekuatan pendorong di balik evolusi keberhasilan kompetitif dan kegagalan. Tujuan kami adalah untuk menunjukkan ini secara teoritis dan empiris.
Teori evolusi telah mencatat bahwa "kebugaran" organisasi paling baik dipahami sebagai relatif terhadap organisasi lain (Alchian, 1950; Nelson and Winter, 1982; Hannan and Freeman, 1984), atau sebagai sesuatu yang “coevolves” antar organisasi (Fombrun, 1988). Selain itu  mengklaim bahwa keberhasilan dan kegagalan dari seluruh industri nasional dapat ditelusuri, setidaknya sebagian, apakah atau tidak mereka telah mengalami persaingan (Lawrence and Dyer, 1983; Porter, 1990). Klaim tersebut menyiratkan bahwa evolusi Ratu Merah di mana-mana, tapi bagaimana dengan keterbatasan proses strategi? Bagaimana organisasi dibatasi ketika mereka menanggapi persaingan, dan apa konsekuensi dari kendala ini untuk evolusi Ratu Merah? Kita perlu model prediktif yang menghubungkan persaingan dan pembelajaran organisasi, tetapi yang memungkinkan bagi organisasi untuk dibatasi dalam kemampuan mereka untuk beradaptasi.

Revolusi Teori Karl Marx



Karl Marx
Kritik terhadap Hukum Kapital dan Perwakilan Politik
oleh Fadlilah Putra

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sampai hari ini di setiap sudut diskusi yang berkembang di masyarakat, nama dan gagasan-gagasan besar Karl Marx tidak pernah luput menjadi kutipan. Bahkan dengan bahasa yang sangat malu-malu pun, ide-ide radikalnya selalu menjadi pelatuk bagi setiap perdebatan yang mengemuka. Tak pelak, seorang Giddens dengan Teori Strukturasinya juga harus menelan kritik dari mereka yang berbasis pada logika-logika dasar Marxisme.
Kendati hari ini dunia mulai terasa sepi, akan tetapi hiruk pikuk perlawanan emansipatorik tokoh-tokoh dari Amerika Latin, Frankfurt, Italia, Blitar dan Payakumbuh masih segar mengiang hingga kini. Marx juga turut hadir pada tiap lembar poster yang diusung mahasiswa dalam penggulingan sebuah rezim penumpuk harta di Mei 1998 tempo hari. Marx telah menjelma menjadi sebuah energi. Energi yang menembus millenium, dan mendetakkan jantung tokoh-tokoh besar lintas regional mulai Gramsci sampai Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Tulisan ini bermaksud sekali lagi memaparkan riwayat hidup pemikiran Marx hingga menghasilkan gagasan-gagasan besar itu, dan seperti apa konsep-konsep orisinal Marx terhadap ekonomi dan politiknya itu. Dalam banyak hal, tulisan ini diinspirasikan, sekaligus book review, buku karya Anthony Brewer yang berjudul Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx, di samping beberapa literatur lainnya sebagai pelengkap. Buku Brewer sendiri adalah buku yang baik untuk kita memahami lebih jauh mengenai ide-ide Marx di seputar wilayah ekonomi, dalam hal ini karya besar Das Kapital, asalkan kita bersedia membacanya secara runtut dan sabar. Sementara untuk ide-ide Marx pada wilayah politik, pembaca dapat melihatnya pada literatur-literatur lainnya yang banyak jumlahnya.

Dasar-dasar Pikiran Karl Marx

 

Orang-orang di Sekitar Marx

Gagasan-gagasan besar Marx bukanlah sesuatu yang serta-merta ada. Tapi lebih merupakan suatu perjalanan belajar yang panjang, dan melibatkan banyak pihak yang menjadi sumber inspirasinya. Untuk menghasilkan karya besarnya, ia harus bergumul dengan sederet pemikir berkelas dunia. Paling tidak ada tujuh ornag yang namanya selau menyertai perjalanan intelektual Marx, yaitu: Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, George Wilhelm Friedrich Hegel, Henri de Saint Simon, Ludwig Feurbach, Bruno Bauer dan Friedrich Engels tentunya.

Masa muda Marx banyak diwarnai oleh bayang-bayang Kant dan Fichte yang memang banyak digandrungi kamum muda waktu itu. Oleh karenanya masa muda Marx banyak bergelut dengan dunia yang puitis. Pengaruh dua tokoh besar itu pula yang menuntunnya di waktu muda untuk menulis sebuah esai yang berjudul “Renungan Seorang Pemuda tentang Pemilihan Karier” (Reflections of a Young Man on Choosing a Carrier), yang menelaah kewajiban-kewajiban moral dan jangkauan kebebasan yang tersedia bagi seseorang dalam memilih suatu profesi yang akan ditelusuri dalam hidup. “Prinsip Utama”, demikian disimpulkan Marx, dalam sekelumit bait dari esai romantik- nya itu dapat kita lihat berikut ini:

...yang harus menjadi pedoman bagi kita dalam memilih suatu profesi, ialah kesejahteraan manusia, penyempurnaan kita sendiri. Orang janganlah berpikir, bahwa kedua kepentingan ini saling beradu, bahwa orang yang satu harus menghancurkan orang yang lain. Lebih tepat ialah bahwa sifat manusia itu membuat ia mungkin mencapai penyelesaian hanya dengan bekerja bagi penyempurnaan dan kesejahteraan masyarakatnya… Sejarah akan menyebut mereka sebagai orang-orang terakbar, bila mereka itu menyempurnakan diri dengan bekerja bagi masyarakat semesta.[1]

Membaca sebait esai tersebut tentunya kita dapat merasakan bagaimana ia bermaksud untuk memperingatkan pada semua orang bahwa kita tidak boleh lepas dari sesuatu yang berada dalam akal budi sebagai sebuah pengendali. Kita dapat menemukan kesempuranaan diri itu dengan berorientasi pada suatu perbuatan nyata atas perbaikan masyarakat, tidak semata berhenti pada tingkatan subtansi saja. Pikiran seperti itu sangat dekat dengan apa yang dimaksud oleh Kant dan Fichte.