Thursday, 18 September 2014

Revolusi Teori Karl Marx



Karl Marx
Kritik terhadap Hukum Kapital dan Perwakilan Politik
oleh Fadlilah Putra

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sampai hari ini di setiap sudut diskusi yang berkembang di masyarakat, nama dan gagasan-gagasan besar Karl Marx tidak pernah luput menjadi kutipan. Bahkan dengan bahasa yang sangat malu-malu pun, ide-ide radikalnya selalu menjadi pelatuk bagi setiap perdebatan yang mengemuka. Tak pelak, seorang Giddens dengan Teori Strukturasinya juga harus menelan kritik dari mereka yang berbasis pada logika-logika dasar Marxisme.
Kendati hari ini dunia mulai terasa sepi, akan tetapi hiruk pikuk perlawanan emansipatorik tokoh-tokoh dari Amerika Latin, Frankfurt, Italia, Blitar dan Payakumbuh masih segar mengiang hingga kini. Marx juga turut hadir pada tiap lembar poster yang diusung mahasiswa dalam penggulingan sebuah rezim penumpuk harta di Mei 1998 tempo hari. Marx telah menjelma menjadi sebuah energi. Energi yang menembus millenium, dan mendetakkan jantung tokoh-tokoh besar lintas regional mulai Gramsci sampai Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Tulisan ini bermaksud sekali lagi memaparkan riwayat hidup pemikiran Marx hingga menghasilkan gagasan-gagasan besar itu, dan seperti apa konsep-konsep orisinal Marx terhadap ekonomi dan politiknya itu. Dalam banyak hal, tulisan ini diinspirasikan, sekaligus book review, buku karya Anthony Brewer yang berjudul Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx, di samping beberapa literatur lainnya sebagai pelengkap. Buku Brewer sendiri adalah buku yang baik untuk kita memahami lebih jauh mengenai ide-ide Marx di seputar wilayah ekonomi, dalam hal ini karya besar Das Kapital, asalkan kita bersedia membacanya secara runtut dan sabar. Sementara untuk ide-ide Marx pada wilayah politik, pembaca dapat melihatnya pada literatur-literatur lainnya yang banyak jumlahnya.

Dasar-dasar Pikiran Karl Marx

 

Orang-orang di Sekitar Marx

Gagasan-gagasan besar Marx bukanlah sesuatu yang serta-merta ada. Tapi lebih merupakan suatu perjalanan belajar yang panjang, dan melibatkan banyak pihak yang menjadi sumber inspirasinya. Untuk menghasilkan karya besarnya, ia harus bergumul dengan sederet pemikir berkelas dunia. Paling tidak ada tujuh ornag yang namanya selau menyertai perjalanan intelektual Marx, yaitu: Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, George Wilhelm Friedrich Hegel, Henri de Saint Simon, Ludwig Feurbach, Bruno Bauer dan Friedrich Engels tentunya.

Masa muda Marx banyak diwarnai oleh bayang-bayang Kant dan Fichte yang memang banyak digandrungi kamum muda waktu itu. Oleh karenanya masa muda Marx banyak bergelut dengan dunia yang puitis. Pengaruh dua tokoh besar itu pula yang menuntunnya di waktu muda untuk menulis sebuah esai yang berjudul “Renungan Seorang Pemuda tentang Pemilihan Karier” (Reflections of a Young Man on Choosing a Carrier), yang menelaah kewajiban-kewajiban moral dan jangkauan kebebasan yang tersedia bagi seseorang dalam memilih suatu profesi yang akan ditelusuri dalam hidup. “Prinsip Utama”, demikian disimpulkan Marx, dalam sekelumit bait dari esai romantik- nya itu dapat kita lihat berikut ini:

...yang harus menjadi pedoman bagi kita dalam memilih suatu profesi, ialah kesejahteraan manusia, penyempurnaan kita sendiri. Orang janganlah berpikir, bahwa kedua kepentingan ini saling beradu, bahwa orang yang satu harus menghancurkan orang yang lain. Lebih tepat ialah bahwa sifat manusia itu membuat ia mungkin mencapai penyelesaian hanya dengan bekerja bagi penyempurnaan dan kesejahteraan masyarakatnya… Sejarah akan menyebut mereka sebagai orang-orang terakbar, bila mereka itu menyempurnakan diri dengan bekerja bagi masyarakat semesta.[1]

Membaca sebait esai tersebut tentunya kita dapat merasakan bagaimana ia bermaksud untuk memperingatkan pada semua orang bahwa kita tidak boleh lepas dari sesuatu yang berada dalam akal budi sebagai sebuah pengendali. Kita dapat menemukan kesempuranaan diri itu dengan berorientasi pada suatu perbuatan nyata atas perbaikan masyarakat, tidak semata berhenti pada tingkatan subtansi saja. Pikiran seperti itu sangat dekat dengan apa yang dimaksud oleh Kant dan Fichte.

Immanuel Kant sendiri menamakan filsafatnya sebagai kritisisme, dan ia mempertentangkan antara kritisisme dengan dogmatisme. Menurut Kant, kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Semua filsuf yang mendahuluinya (Descartes misalnya) tergolong dalam dogmatisme, karena mereka percaya mentah-mentah pada kemampuan rasio tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Kritisisme Kant dapat dikatakan sebagai suatu usaha raksasa untuk mendamaikan antara rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur apriori (unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman, ‘íde-ide bawaan’ Descartes misalnya) dalam pengenalan, sedangkan empirisme menekankan pada unsur-unsur aposteriori (unsur-unsur yang berasal dari pengalaman, ‘rasio sebagai kertas putih’ Locke misalnya). Kant membuat sebuah sintesa atas keduanya yang disebut dengan “Revolusi Kopernikan”, bahwa pengenalan didapat dari mendudukkan obyek yang mengarahkan diri pada si subjek. Seperti Copernicus yang meletakkan tata surya (obyek) mengarahkan diri pada bumi (subyek), sehingga bumi ‘tidak lagi’ sebagai sentral tata surya, melainkan matahari. Berangkat dari situ, pada taraf akal budi, Kant kemudian membedakan akal budi dengan rasio. Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data yang diperoleh dari indera. Akal budilah yang membuat keputusan-keputusan, bukannya indera. Pengenalan akal budi juga merupakan sintesa antara bentuk dan materi, di mana materi adalah data-data inderawi sedangkan bentuk adalah apriori yang terdapat pada akal budi. Turun pada level berikutnya, Kant juga membedakan antara ‘rasio teoritis’ dengan ‘rasio praktis’. Rasio teoritis adalah rasio yang orientasinya menjalankan ilmu pengetahuan, seperti telah dimaklumi oleh filsuf-filsuf pendahulunya. Namun Kant mengingatkan bahwa di samping itu ada juga ‘rasio praktis’, yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan; atau dengan lain perkataan, rasio yang memberikan perintah pada kehendak kita. Inilah kemudian yang menjadi konsep dikotomik ‘apa itu’ dan ‘apa yang seharusnya’.
Lebih tajam dari Kant, Fichte berpendapat bahwa filsafat harus berangkat bukan dari subtansi melainkan dari suatu perbuatan. ‘Perbuatan’ yang dimaksud Fichte itu disebuatnya dengan Aku Absolut, yang mengiakan dirinya sendiri dan dengan itu mengadakan dirinya sendiri. Lalu aktifitas tak terhingga dari Aku Absolut itu mengadakan lapangan tempat ia menjalankan aktifitasnya. Dengan lain perkataan, Aku Absolut menghasilkan suatu ‘non-aku’. Tetapi dengan berbuat demikian Aku Absolut itu serentak juga mengadakan diri sebagai aku terhingga yang dibatasi non-aku. Filsafat Fichte tersebut dapat dirangkum menjadi 3 (tiga) prinsip, yaitu (1) The ego posits it self,  (2) The ego posits a non-ego, (3) The ego posits a limited ego in opposition to a limited non ego. Dengan cara inilah Fichte juga bermaksud mendamaikan pertentangan antara rasioteoritis dan rasiopraktis yang terdapat dalam filsafat Kant. Rasio teoritis tidak dapat ditempatkan pada awal mula, tetapi didahului dan dirangkum oleh suatu perbuatan. Oleh karena itu, memang sudah pada tempatnya jika filsafat Fichte disebut idealisme praktis.[2]
Dua warna yang disodorkan dua tokoh itu seiring dengan proses kematangan Marx, tapi akhirnya ditolaknya. Dualisme Kant mengenai ‘apa itu’ dan ‘apa yang seharusnya terjadi’ tampaknya bagi Marx seolah-olah sama sekali tidak bisa cocok dengan keinginan individu yang hendak menerapkan filsafat dalam usahanya mencapai tujuannya. Terhadap filsafat Fichte, Marx mempunyai keberatan yang sama: filsafat ini memisahkan sifat logika dan kebenaran dari campur tangan manusia di dalam dunia yang terus menerus berkembang. Oleh karenanya, pendirian ini harus diisi dengan pendirian yang mengakui keharusan bahwa obyeknya itu sendiri yang harus diteliti dalam perkembangannya.
Dari kekecewaannya itu kemudian Marx beralih ke Hegel. Namun yang harus dicatat di sini adalah keberalihan Marx dari Kant dan Fichte ke Hegel ada jembatan parastatalnya, yaitu St. Simon. Bahkan beberapa pakar berani berpendapat bahwa pengaruh St. Simon dengan Hegel terhadap Marx sama-sama besar.
Di bawah pengaruh prestasi-prestasi hebat ilmu pengetahuan alam, St. Simon mencoba menerapkan hukum-hukum alam pada bidang sosial dan moral, jadi juga sejarah. Kemajuan masyarakat sebagaimana halnya perkembangan individu tunduk pada hukum-hukum umum. Masa Mesir dikatakan sebagai masa kanak-kanak; kesukaannya pada bangunan-bangunan dan kuburan; kemudian masa Yunani sebagai masa pancaroba; kecintaannya pada musik dan puisi; dan periode Romawi sebagai masa dewasa dengan ambisi-ambisi kemiliterannya; sedang masa Sarasen sebagai masa tua dengan kekuatan intelektual yang berkembang sepenuhnya. Tujuan perkembangan, baginya adalah kebahagiaan sosial dan oleh karena kaum buruh merupakan kelas yang terbanyak, maka langkah pertama adalah menuju ke arah perbaikan nasib kaum buruh. Menurut St. Simon, kelak akan ada tiga kelas, yaitu buruh industri, kaum terpelajar dan seniman. Kesamaan mutlak adalah tak mungkin, maka ketidaksamaan itu didasarkan pada jasa. Namun pertumbuhan ke arah itu tidak dapat secara revolusi, melainkan dengan perubahan berangsur-angsur.[3]
Setelah mendapat dasar-dasar materialisme dari St. Simon, Marx kemudian bergelut dengan Hegel. Ada dua faktor yang menyebabkan ia beralih ke Hegel, pertama adanya penutupan yang dilakukan Hegel antara untaian-untaian dikotomi dari filsafat Jerman Klasik, yang telah membentuk keabsahan utama dari Kant dan Fichte, kedua adalah keanggotaannya dalam ‘Doctor’s Club’ di Universitas Berlin. Dalam klub ini, Marx kemudian berkenalan dengan bermacam golongan pengikut-pengikut muda dari Hegel. Di antaranya Bruno Bauer yang merupakan tokoh paling menonjol di organisasi ini. Masalah-masalah yang langsung menjadi perhatian Bauer bersama kelompoknya adalah memelihara perhatian terhadap teologi Kristen, yang intrinsik dengan tulisan-tulisan Hegel sendiri. Disertasi doktor dari Marx sendiri mengangkat diskusi komparatif mengenai filsafat Democritus dan Epicurus, yang di situ nampak sekali pengaruh dari Bauer. Demikianlah, dari dua energi pendorong itu akhirnya pada saat itu Marx menjadi pengikut Hegel.
Hegel sangat mementingkan rasio, namun yang dimaksud rasio di sini bukan saja rasio pada manusia perorangan tetapi juga (dan terutama) rasio pada Subjek Absolut, karena ia pun menerima prinsip idealistis bahwa realitas seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subyek. Suatu dalil Hegel yang kemudian menjadi tersohor berbunyi, “Semua yang real bersifat rasional, dan semua yang rasional bersifat real”. Maksudnya adalah, bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah sebuah proses pemikiran yang memikirkan dirinya sendiri.
Berikutnya dengan toeri dialektikanya Hegel, ia mengkritik Fichte. Di mana filsafat Fichte mempertentangkan antara ‘aku’ dan ‘non-aku’, Fichte menghadapi dua konsep tersebut hanya membatasi satu sama lain dan tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Justru itulah yang diharuskan Hegel menjadi sebuah dialektika yang hasil akhirnya bisa juga disebut sebagai Roh Absolut. Dalam konteks sejarah, pada waktu Hegel berkeyakinan bahwa Roh sudah menjadi Absolut dan karena itulah proses penyadaran roh sudah selesai. Dalam segala bidang, apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa bagi Hegel, sejarah manusia sudah berakhir? Bisa dijawab ya dan tidak. Sejarah manusia tidak berakhir, dalam arti tidak ada lagi hari depan untuk manusia. Tetapi sejarah sudah mencapai penghabisannya, dalam arti bahwa tidak lagi akan terjadi sesuatu yang sungguh-sungguh baru. Mulai kini sejarah hanya dapat mengulangi saja bentuk atau stadium lama.[4]
Tak lama Marx juga meninggalkan Hegel begitu saja, karena sebuah ‘kesalahan kecil’. Konsep sejarah yang ditawarkan Hegel tidak ditentangnya. Yang ia tolak dari Hegel adalah ‘idealisme’-nya. Idealisme dalam arti teknis filsafat adalah pandangan yang menganggap bahwa pikiran atau ide-ide adalah primer, dan benda-benda fisikal adalah sekunder. Menurut Hegel, sejarah pertama-tama adalah cerita tentang perkembangan ‘akal’ yang berbeda. Dan perkembangan dialektis dari ide-ide itu, adalah motor sejarah. Marx menolak pemahaman semacam ini, dan argumen-argumen penolakannya itu banyak dipengaruhi oleh seorang tersohor yang berkibar tepat ketika Marx sedang menyelesaikan disertasinya, Feuerbach.
Aspek-aspek filsafat Feuerbach sangat menarik pemikiran Marx, yaitu adanya kemungkinan-kemungkinan yang tampaknya tersajikan untuk memadukan antara analisis dan kritik, sambil upaya manusia ‘merealisasikan’ filsafat. Banyak orang yang menganggap bahwa, tulisan-tulisan Marx dini mengenai pengasingan dalam politik dan industri merupakan kelanjutan dari ‘materialisme’ Feuerbach.
Feuerbach berusaha memutarbalikkan dasar pikiran idealistis dari Hegel, dengan mengatakan secara terang-terangan bahwa studi tentang kemanusiaan haruslah bertolak dari ‘manusia sejati’ yang hidup dalam ‘dunia materi yang nyata’. Sementara Hegel memandang ‘yang benar-benar’ sebagai sumber dari ‘yang bersifat Tuhan’. Feuerbach berargumentasi bahwa yang bersifat Tuhan adalah produk impian dari yang nyata. Keberadaan atau eksistensi mendahului pikiran, dalam arti bahwa orang tidak merenung tentang dunia, sebelum ia bergerak di dalam dunia itu. “Pikiran adalah kelanjutan dari ‘ada’, dan ‘ada’ bukanlah merupakan kelanjutan dari pikiran.” Hegel memandang perkembangan umat manusia dalam hubungan pertentangan Tuhan dengan Dirinya. Sementara dalam filsafat Feuerbach, Tuhan itu hanya bisa ada selama manusia bertentangan dengan dirinya sendiri dan sepanjang manusia mengasingkan diri dari pribadinya. Tuhan adalah ciptaan impian dan kepada-Nya manusia telah memproyeksikan kekuatan dan kemampuan-Nya setinggi-tingginya. Sehingga Tuhan menjadi terlihat begitu mahasempurna, dan sebaliknya manusia menjadi tampak begitu tak sempurna dan sangat terbatas. Agama, dengan demikian, harus diganti dengan humanisme, di mana cinta kasih yang semula ditujukan kepada Tuhan menjadi diarahkan kepada manusia, sehingga akan menuntun manusia ke suatu penemuan kembali kesatuan umat manusia untuk dirinya sendiri.[5]
Marx menjadi begitu dekat dengan nama Feuerbach sampai ia bertemu Engels, di mana pada tahun-tahun 1840-an mereka mulai menyusun Ideologi Jerman. Dari pergelutan intelektual dengan Engels, kemudian Marx mulai banyak melakukan kritik terhadap filasafat Feuerbach. Dalam Tesis-tesis Mengenai Feuerbach, Marx membuat beberapa kupasan. Pertama, pendekatan Feuerbach tidak historis. Feuerbach di dalam pikirannya membuat seorang ‘manusia’ abstrak yang mendahului masyarakat. Ia tidak hanya menurunkan manusia menjadi orang saleh, akan tetapi gagal melihat ‘bahwa rasa saleh itu sendiri merupakan produk sosial, dan bahwa manusia abstrak yang ia analisis itu terbentuk dalam suatu masyarakat tertentu’. Kedua, materialisme Feuerbach tetap berada dalam tingkatan suatu doktrin filsafat, yang semata-mata menganggap gagasan sebagai ‘renungan’ dari kenyataan materiil. Pada kenyataannya, ada suatu hubungan timbal balik antara kesadaran dan Praxis manusia. Feuerbach, seperti halnya semua ahli filsafat materialis dulu, memperlakukan kenyataan materiil sebagai sesuatu yang menentukan kegiatan manusia, dan tidak menganalisis modifikasi dunia obyektif dengan subyeknya, yaitu dengan kegiatan manusia. Marx mengatakan bahwa doktrin materialis Feuerbach itu tidak bisa menangani fakta, bahwa kegiatan revolusioner adalah hasil dari tindakan-tindakan manusia yang dilakukan dengan sadar dan yang dikehendakinya, tetapi sebaliknya ia menggambarkan dunia ini dalam kaitan pengaruh ‘searah’ kenyataan materi atas gagasan-gagasan.
Sumbangan Engels terhadap Marx tidak sebatas kritiknya terhadap filsafat Feuerbach di atas semata, namun lebih dari itu Engels juga memberikan sumbangan besar terhadap penyusunan konsep materialisme sajarah. Hal ini bisa dibuktikan bahwa sebelum materialisme sejarah disusun, Engels bersama Marx (dalam hal ini Engels lebih dominan) terlebih dahulu menyusun materialisme dialektis. Dengan menganut materialisme yang bersifat dialektis, ia menolak materialisme abad ke-18 dan 19 yang dua-duanya bersifat mekanistis. Menurut materialisme abad ke-18, tidak ada perbedaan prinsipiil antara sebuah mesin dan mahluk hidup (termasuk manusia). Hanya saja pada manusia, mekanismenya lebih pelik. Salah satu prinsip materialisme dialektis ialah bahwa perubahan dalam tingkatan kuantitas dapat mengakibatkan perubahan pada tingkat kualitas. Itu berarti bahwa suatu kejadian dalam taraf kuantitatif dapat menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru. Dengan cara itulah kehidupan berasal dari materi mati dan kesadaran manusiawi berasal dari kehidupan organis.[6]
Inilah pelatuk yang meledakkan picu materialisme historis itu.

 

Materialisme Sejarah

Dasar pikiran materialisme sejarah adalah bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan atau dideterminasikan oleh perkembangan sarana-sarana produksi materiil. Jika sebagai contoh kita memilih pengelolaan tanah, maka perkembangan sarana-sarana produksi adalah umpanya: tugal, cangkul, bajak, mesin, dsb. Di sini sarana-sarana produksi menentukan hubungan-hubungan produksi. Dengan hubungan produksi tersebut menjadikan hubungan manusia satu sama lain dibangun atas dasar kedudukannya dalam proses produksi. Mode of production, begitu bangunan suprastruktur ini biasanya disebut. Dengan pandangan materialisme sejarah ini, selanjutnya berimplikasi pula pada pandangan bahwa gejala-gejala yang ada pada masyarakat seperti hukum, tata politik, filsafat, kesenian, moral dan agama ditentukan dan merupakan cerminan dari basis ekonomi yang merupakan dasarnya.
Untuk memaklumi pandangan Marx semacam itu kita dapat menelaah 5 (lima) prinsip yang dipegang Marx dengan cukup teguh di masa-masa kematangannya. (1) Konsepsi, untuk mana Marx sangat berhutang budi pada Hegel tentang swa penciptaan (self-creation) manusia yang progresif. (2) Gagasan tentang keterasingan. Meskipun istilah ‘keterasingan’ sebenarnya kurang disukai Marx, namun pokok-pokok pikirannya menunjuk ke arah sana, di mana ia menelusuri pertumbuhan dari pembagian kerja dan munculnya pemilikan pribadi, yang puncaknya merupakan proses pengasingan kaum tani dari penguasaan atas prasarana produksi mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada buruh. (3). Sebuah konsep dasar dari semacam orde sosial yang diharapkan dan diduga akan menggantikan kapitalisme. (4) Marx memilih untuk meninggalkan filsafat dan mengutamakan suatu pendekatan sosial dan historis. (5) Suatu konsep ringkas tentang praxis yang revolusioner, di mana hanya dengan bersatunya teori dan praktek, dengan bersambungnya pengertian teoritis dan kegiatan politik praktis, perubahan sosial bisa dibuat menjadi kenyataan.[7]
Buah karya pertama setelah bersatunya Marx dan Engels adalah Keluarga Kudus. Karya yang banyak menimbulkan polemik ini, mulai ditulis pada akhir tahun 1844. Bagian terbesar dari buku ini merupakan karya Marx yang menceritakan putusnya hubungan Marx dengan pemuda-pemuda pengikut Hegel. Tak lama kemudian buku ini disusul dengan buku berikutnya, yaitu Ideologi Jerman, ditulis tahun 1845-1846. Karya ini pada dasarnya merupakan suatu karya kritik, yang untuk pertama kalinya Marx mengemukakan pernyataan umum mengenai prinsip-prinsip materialisme sejarah.
Di dalam Ideologi Jerman, Marx memulai dari fakta-fakta nyata yang sederhana. Untuk hidup, manusia harus memproduksi alat-alat penyambung hidupnya (makanan, minuman, tempat tinggal, dsb). Untuk melakukannya, mereka harus bekerja sama dalam suatu pembagian kerja. Setiap tingkat perkembangan produksi itu sendiri adalah hasil dari perkembangan sejarah dan hasil pencapaian dari generasi manusia sebelumnya. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja sama, pembagian kerja, dan karenanya juga organisasi kemasyrakatan. Masyarakat berubah melaui serentetan tingkat yang ditandai dengan berbagai bentuk pemilikan. Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak. Pemilikan feodal (tanah) atas pemerasan hamba. Pemilikan perorangan borjuis atas eksploitasinya terhadap proletariat pekerja upahan yang tidak memiliki apa-apa. Setiap tingkatan bentuk produksi adalah lebih tinggi dari yang dulu. Setiap tingkat menyediakan syarat bagi yang akan datang. Perkembangan kapitalis akan menciptakan pemiskinan proletariat oleh kapitalisme. Komunisme adalah bentuk sejarah yang tak terhindarkan.
Apabila Hegel menganggap Roh (ide atau akal) sebagai asas kenyataan sejarah, maka Marx dalam materialisme sejarahnya bertolak dari kemasyarakatan yang historis, dunia rohani timbul dari itu. Dilihat dari segi ekonomis, maka kenyataannya masyarakat dikuasai oleh hubungan-hubungan ekonomis dan produksi; ini merupakan basis struktur politik-sosial-keagamaan masyarakat dari seluruh kehidupan kultural.
Masyarakat borjuis kapitalis sekarang, seperti halnya periode-periode yang mendahuluinya, mengandung antagonisme sosial, yang disebabkan oleh cara-cara produksi kapitalistis. “Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah pertentangan kelas.”
Dengan adanya perkembangan yang hebat dari kekuasaan industri dan ilmu pengetahuan, maka timbullah kontradiksi yang tajam. Alat mesin dapat mempersingkat kerja dan memberi lebih banyak keuntungan, tetapi juga dapat menyebabkan kelaparan dan kerja lembur. Manusia menjadi tuan dari alam, tapi bersamaan dengan itu menjadi budak dari manusia lainnya. Antagonisme industri modern dan ilmu pengetahuan di satu pihak, dan kemiskinan serta korupsi di pihak lain. Ini menyebabkan adanya antagonisme sosial atau pertentangan kelas, yaitu dua kelompok yang saling bertentangan: borjuasi dengan proletariat, tuan dengan budak, penindas dengan yang tertindas. Emansipasi individu akan tercapai dengan jalan menggulingkan tertib masyarakat yang ada. Proletariat, sebuah bangsa terpilih dari konsep materialisme sejarah, adalah satu-satunya kekuatan revolusioner yang mempunyai potensi untuk menumbangkan masyarakat kapitalistis dan membangunkan masyarakat komunis yang dicita-citakan.
Hanya proletariat-lah yang merupakan kelas progresif sebenarnya dengan satu misi universal, karena mereka dilarang mengenyam hak-hak istimewa masyarakat yang vested. Gerakan kaum proletar adalah suatu kesadaran diri dan gerakan yang tidak tergantung dari mayoritas besar. Setelah mencapai kemenangan, proletariat tidak akan menjadi kelas yang berkuasa, tetapi supremasi akan dihapuskannya. Di situ tidak akan ada pertentangan kelas, tetapi suatu kehidupan bersama, di mana setiap orang dapat berkembang dengan bebas, untuk perkembangan bebas dari semua orang! Jadi ‘Kerajaan Tuhan’, namun tanpa Tuhan, dan berada di dunia. Inilah yang menjadi tujuan akhir cita-cita Marx dengan materialisme sejarahnya.[8]

Kritik Marx Terhadap Hukum-hukum Kapital

 

Asal-usul dan Sirkulasi Kapital

Secara sangat gamblang, Marx menjelaskan riwayat hidup terlahirnya sebuah konsep yang disebut kapital. Dia mengatakan bahwa adanya kapital dimulai dari adanya komoditi. Secara alamiah komoditi lambat laun akan melahirkan sesuatu yang kita kenal dengan uang. Proses tukar-menukar yang diperantarai uang inilah sebagai alasan utama lahirnya apa yang kita sebut dengan kapital. Jadi, secara kasar, alur ekonomi yang ada adalah pergeseran dari komoditi, uang dan kapital.
Sebuah komoditi dijelaskan sebagai sesuatu yang dipertukarkan dengan, atau untuk komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai pakai, yang memenuhi sejumlah keinginan atau kebutuhan, langsung atau tidak. Di sini tidak dipersoalkan penilaian yang bersifat moral. Senjata misalnya, adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat yang doyan perang, dan dengan demikian mengandung nilai pakai. Dalam konteks ini senjata adalah sebuah komoditas.
Berikutnya, Marx membicarakan cara nilai itu menyatakan dirinya ke dalam nilai tukar komoditi. Ia mulai dengan ekuivalensi sederhana dua komoditi dan mengembangkannya sampai pada ungkapan nilai di dalam terminologi harga-uang. Di sini menjadi penting untuk mengingat bahwa setiap harga yang benar-benar menyeleweng dari nilainya akan ditentang. Marx selanjutnya terlibat dalam masalah kualitatif, yang menyangkut masalah nilai-nilai tukar apa dan dengan unit-unit barang apa ia ditukar.
Pertama kali Marx mengambil kesamaan dari nilai dua komoditi (satu ton beras sama dengan sebuah televisi, misalnya). Kemudian ia membedakan bentuk relatif dari nilai relatif beras dengan yang lainnya, di samping persamaan relatifnya. Di sini televisi menjadi suatu unit ukuran dari nilai. Barang-barang itu dapat ditukarkan. Kerja, sebagai substansi nilai tidak tampil pada kedua barang itu, karena pertukaran selalu menyangkut pertukaran dari satu komoditi dengan komoditi lainnya.[9] Maka dari itu, nilai dari komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan nilai-nilai komoditi lain. Komoditi tertentu punya nilai pakai tersendiri. Tetapi ia hanya punya nilai tukar dalam hubungannya dengan komoditi lain. Nilai beras pada televisi dapat berubah karena nilai beras sendiri berubah. Atau karena nilai dari televisi berubah, atau karena kedua-duanya berubah.
Pertukaran komoditi adalah suatu transaksi antarpara pemilik komoditi. Pemilik dari komoditi beserta barang-barang yang tidak akan dipakainya, melepasnya, menjualnya atau menukarkannya dengan barang-barang yang akan memenuhi kebutuhannya. Pertukaran hanya dapat terjadi apabila masing-masing pihak mengakui pihak lainnya sebagai pemilik komoditi yang diperdagangkan. Di tengah kompleksitas pertukaran itu muncullah uang.
Hari ini sudah sering menjadi keluh kesah para orang bijak: ‘Gila! manusia sudah menjadi budak uang’, atau ‘uang telah membawa pergi jauh-jauh moralitas dari muka bumi!’. Lain bagi Marx, ia mengatakan tidak ada gunanya menjelek-jelekkan uang dalam masalah-masalah sosial. Atau mengusulkan peniadaan uang tanpa meniadakan pertukaran komoditi. Uang diperlukan oleh persekutuan pertukaran dan orang tak dapat menghapuskannya tanpa menghapus yang lainnya. Logam-logam mulai sangat cocok berperan sebagai komoditi uang, karena ia uniform dan dapat dipecah.
Uang mempercepat dan mempermudah proses pertukaran. Oleh karenanya transaksi-transaksi bisnis berskala milyaran dapat berlangsung hanya dengan hitungan detik. Karena kecepatan pertukaran yang luar biasa ini, maka keinginan untuk melakukan bisnis skala besar menjadi impian setiap orang, dan untuk dapat melakukan itu orang butuh kapital.
Rumus untuk kapital, atau untuk sirkuit dari kapital adalah M-C-M. Si kapitalis mulai dengan sejumlah uang (M), membeli komoditi (C), menjual serta mengakhirinya dengan uang kembali (M kedua). Marx menamakan tahap pertama ini (M-C) sebagai  kapital pendahuluan dan tahap kedua (C-M) kapital kerja. Seluruh urusan ini tidak ada artinya jika si kapitalis mendapatkan uangnya kembali sama dengan ketika mulai berusaha. Maka Marx menulis kembali rumusnya menjadi M-C-M’, di mana M’ mewakili jumlah yang lebih besar dari M. Uang tambahan yang diperoleh itu (selisih antara M dengan M’) oleh Marx dinamakan nilai lebih. Sirkulasi atau peredaran kapital adalah suatu proses atau kegiatan menghasilkan nilai lebih. Sirkuit dari kapital, berbeda dari sirkulasi komoditi yang sederhana. C-M-C di dalam sirkulasi komoditi yang sederhana itu bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan tertentu para pembeli komoditi tertentu, sehingga ia dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan itu. Sebaliknya, sirkuit dari kapital bertujuan pada penambahan jumlah dari nilai uang. Ini adalah proses yang secara inheren tidak terbatas. Si kapitalis bertujuan melulu membuat keuntungan dari proses yang tidak pernah berakhir.[10]
Nilai, karena itu adalah suatu proses, uang dan kapital dengan demikian berada dalam proses tersebut. Kapital, dengan demikian adalah nilai. Tetapi ia tidak dibatasi oleh bahan tertentu yang dikandungnya, namun oleh fakta bahwa ia terlibat dalam proses tertentu. Suatu proses yang memproduksi nilai lebih.
 
Nilai lebih dan Eksploitasi
Demi penciptaan nilai lebih, para kapitalis mengeluarkan uangnya untuk dua macam komoditi. Sebagian dari kapitalnya dikeluarkan lebih dulu untuk membeli alat-alat produksi dan sebagian lagi untuk membeli tenaga kerja. Di sini Marx akan berbicara peran dari tenaga kerja dalam menghasilkan nilai lebih, namun itu serta-merta juga mengeksploitasi tenaga kerja itu sendiri.
Tenaga kerja adalah komoditi yang mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu sumber dari nilai. Marx kemudian membuat perbedaan yang tajam dalam hal kerja dan tenaga kerja. Kerja adalah kegiatan, bukan barang dan tidak dapat dijual. Tenaga kerja adalah apa yang dijual oleh pekerja, bila ia setuju bekerja pada seseorang kapitalis dengan memperoleh sejumlah upah. Upah adalah harga dari tenaga kerja. Karena tenaga kerja yang dijual, tentunya ada suatu kelas yang bebas, yaitu kaum proletariat. Mereka bebas untuk menjual tenaga kerja mereka. Mereka bukan budak atau hamba. Namun mereka juga ‘bebas’ dari pemilikan atas komoditi, sehingga mereka tidak punya apa-apa untuk dijual, kecuali tenaga kerja mereka. Mereka juga tidak punya uang untuk membeli alat-alat produksi dan penyangga kehidupan mereka menjelang kembalinya uang atau laba.[11]
Tidak seperti alat produksi yang memiliki sifat konstan, tenaga kerja telah dipergunakan sebagai kerja yang sesungguhya, menciptakan nilai baru dan nilai lebih. Bagian dari kapital yang telah dikeluarkan terlebih dahulu untuk membeli tenaga kerja, bertambah besar nilainya selama dalam proses produksi, sehingga Marx menamakannya dengan kapital variabel, untuk membedakannya dengan sifat konstan dari alat produksi. Variabel di sini tidak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan dari satu siklus produksi ke siklus produksi selanjutnya. Pada tahap ini, Marx hanya membahas apa yang terjadi pada nilai kapital pendahuluan selama satu kali proses produksi.
Umpamakan C sebagai kapital pendahuluan, ini dibelikan untuk keperluan dua hal, yaitu alat produksi (c) dan tenaga kerja (v). Kemudian kapital pendahuluan itu tentunya akan berubah (menjadi C’) seiring dengan proses penghasilan nilai lebih tadi, maka rumusnya akan menjadi C’=c+v+s. Di mana yang dimaksud s di sini adalah nilai lebih yang dihasilkan. Nilai yang baru diciptakan oleh kerja adalah v+s. dan nilai alat produksi yang terpakai adalah c. Tetapi nilai itu telah dipindahkan ke dalam produk. Kapital pendahuluan (C) membeli tenaga kerja telah membesar menjadi v+s. Marx lalu menetapkan rate dari nilai lebih, rate dari eksploitasi, menjadi s/v. Rasio s terhadap seluruh kapital pendahuluan adalah s/C, yaitu suku keuntungan.[12]
Demikianlah, kita dapat menyaksikan bagaimana Marx begitu gamblang dan ilmiah dalam menggambarkan proses eksploitasi terhadap tenaga kerja (buruh) itu terjadi. Di mana ia melihat bagaimana nilai lebih yang didapat oleh para kapitalis itu didapatkan dari peran tenaga kerja yang begitu besar. Dan semakin giat seorang pekerja dalam bekerja, maka semakin tinggi pula nilai lebih yang dihasilkan dari proses produksi itu. Dengan demikian, makin memperkaya para pemilik kapital. Sementara selisih antara nilai lebih yang diterima oleh para kapitalis dengan upah yang diterima buruh, selama ini menunjukkan kesenjangan yang tajam. Namun atas posisinya dalam sebuah proses produksi, buruh seringkali tidak mempunyai kewenangan apa-apa untuk mengambil keputusan, pemilik kapitallah yang memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan.
Inilah yang kemudian menimbulkan keterasingan bagi kaum buruh. Analisis keterasingan dalam produksi kapitalis bertolak dari suatu fakta ‘ekonomi kontemporer’, yang merupakan suatu fakta bahwa makin maju kapitalisme akan semakin (relatif) miskin pula si buruh. Kekayaan melimpah yang memungkinkan cara-cara produksi kapitalis, ditunjang oleh pemilik tanah dan pemilik modal. Akan tetapi pemisahan antara si buruh dengan hasil kerjanya ini, bukan sekedar masalah perampasan benda yang sebetulnya merupakan hak si buruh. Yang menjadi pokok pembahasan Marx, ialah bahwa dalam kapitalisme obyek-obyek materiil yang diproduksi disejajarkan dengan si buruh itu sendiri. Tepat seperti halnya kalau barang-barang itu berada pada tingkat teoritis murni dalam disiplin ilmu ekonomi politik. Buruh bahkan menjadi komoditi yang lebih murah dengan semakin banyaknya barang yang dihasilkan. Devaluasi dunia manusia meningkat secara langsung dalam kaitannya dengan meningkatnya nilai dunia benda. Hal ini melibatkan suatu distorsi dari apa yang disebut Marx sebagai obyektifikasi. Proses produksi, obyektifikasi, dengan demikian mengambil bentuk suatu penghilangan dan penghambaan terhadap objek, buruh menjadi budak dari objek. Keterasingan buruh dalam ekonomi kapitalis didasarkan atas disparitas ini, yaitu antara kemampuan produksi buruh yang menjadi semakin besar akibat meluasnya kapitalisme dengan tidak adanya pengendalian oleh si buruh terhadap obyek yang diproduksinya.

Kritik Marx atas Perwakilan-perwakilan Politik
Dalam konteks politik, Marx juga memiliki pandangan-pandangan yang cukup tajam. Ia mampu menelusuri proses ‘obyektifikasi’-nya dalam lembaga-lembaga politik negara. Dunia yang sebenarnya, tidak dapat dijadikan kesimpulan dari suatu studi yang ideal. Tetapi sebaliknya, ideallah yang harus dilihat sebagai suatu hasil sejarah tentang yang sebenarnya. Bagi Hegel, masyarakat sipil yang meliputi semua hubungan ekonomi dan keluarga, yang berada di luar struktur yuridis dan politik negara, pada intinya merupakan lingkungan egoisme tanpa batas, di mana setiap orang saling beradu kekuatan dengan sesamanya. Manusia adalah mahluk berakal dan tertib, karenanya sampai pada tingkatan tertentu, mereka menerima tata tertib yang terdapat dalam negara, yang merupakan suatu ruang lingkup universal yang memotong kepentingan egoistik dari kegiatan-kegiatan manusia di dalam masyarakat sipil. Menurut Marx selanjutnya (seperti ketika Feuerbach mengkritik Hegel dalam konteks agama), negara juga merupakan suatu bentuk terasing dari kegiatan politik, yang mewujudkan hak-hak universal yang berlangsungnya juga sementara seperti dunia idaman dari agama. Bagi Marx tidak ada suatu bentuk konstitusi politik pun yang dapat menunjukkan bahwa hubungan ini ada dalam kenyataan. Di negara-negara tertentu partisipasi umum dalam kehidupan politik merupakan hal yang ideal, akan tetapi itu sebenarnya hanya kedok dari pengejaran-pengejaran kepentingan tertentu. Dengan demikian, apa yang dalam penuturan Hegel tampak terpisah dan dibawahi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dari individu-individu dalam masyarakat sipil, pada dasarnya berasal dari kepentingan-kepentingan tersebut. Bagi Marx, “Sampai sekarang konstitusi politik masih merupakan ‘agama’ dari kehidupan rakyat, sorga keuniversalan rakyat yang merupakan sebaliknya dari adanya mereka yang sebenarnya.”[13]
Realisasi dari apa yang disebut Marx sebagai “demokrasi sebenarnya,” menurut analisisnya, membawa serta penanggulangan keterasingan antara individu dengan masyarakat politik, dengan cara meleburkan dikotomi antara kepentingan-kepentingan ‘egoistis’ dari individu-individu di dalam masyarakat sipil dengan sifat ‘sosial’ dari kehidupan politik. Peleburan ini hanya bisa tercapai dengan melakukan perubahan-perubahan kongkrit sedemikian rupa di dalam pola hubungan negara dengan masyarakat, sehingga apa yang sekarang hanya merupakan idaman ideal menjadi hal yang nyata. Proses mencapai hak pilih universal merupakan jalan, melaui mana hak pilih bisa dihasilkan. Hak pilih universal memberikan kepada semua anggota masyarakat sipil suatu penjelmaan politik, dan oleh karenanya ipso facto melenyapkan ‘yang politik’ sebagai suatu kategori terpisah. Dalam hak suara universal baik yang aktif maupun yang pasif, masyarakat sipil dalam kenyataannya membangkitkan diri menjadi suatu keniscayaan daripadanya sendiri, menjadi kehadiran politik sebagai kehadirannya yang esensial dan benar-benar universal.[14]
Dari penjelasan-penjelasannya itu kita dapat lihat bagaimana penolakan Marx yang gigih terhadap segala bentuk ilusi. Keteraturan hukum sampai hari ini memang masih dirasakan sebagai ilusi semata. Hukum dan para penegaknya berjalan di satu sisi, dan pengkhianatan terhadap hukum dan keteraturan itu sendiri juga berjalan di sisi lain. (Fadillah Putra).


[1] Lihat Anthony Giddens. 1986. Kapitalisme dan Teori-teori Sosial Modern. Jakarta: UI Press, hal. 1.
[2]  K. Bertens. 1990. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. hal. 65-66.
[3] Kartodirdjo, Sartono. 1986. Ungkapan-ungkapan Sejarah Barat dan Timur. Jakarta: Gramedia. hal. 36.
[4]  Bertens, Op. Cit. hal. 67-68.
[5] Giddens, Op. Cit. hal. 4.
[6]  Bertens, Op. Cit. hal. 82.
[7] Giddens, Op. Cit. hal. 23-24.
[8] Kartodirdjo, Op. Cit. hal. 42.
[9] Brewer, Anthony. 1999. Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx. Jakarta: Teplok Press. hal. 42.
[10] Brewer, Ibid. hal. 55-56.
[11]  Ibid. hal. 58-59.
[12]  Ibid. hal. 67-68.
[13] Giddens, Op. Cit. hal. 6.
[14]  Ibid. hal. 7.

No comments: