Karl Marx
Kritik terhadap Hukum
Kapital dan Perwakilan Politik
oleh Fadlilah Putra
oleh Fadlilah Putra
Tidak dapat dipungkiri, bahwa sampai hari ini di
setiap sudut diskusi yang berkembang di masyarakat, nama dan gagasan-gagasan
besar Karl Marx tidak pernah luput menjadi kutipan. Bahkan dengan bahasa yang
sangat malu-malu pun, ide-ide radikalnya selalu menjadi pelatuk bagi setiap
perdebatan yang mengemuka. Tak pelak, seorang Giddens dengan Teori
Strukturasinya juga harus menelan kritik dari mereka yang berbasis
pada logika-logika dasar Marxisme.
Kendati hari ini dunia mulai terasa sepi, akan
tetapi hiruk pikuk perlawanan emansipatorik tokoh-tokoh dari Amerika Latin,
Frankfurt, Italia, Blitar dan Payakumbuh masih segar mengiang hingga kini. Marx
juga turut hadir pada tiap lembar poster yang diusung mahasiswa dalam
penggulingan sebuah rezim penumpuk harta di Mei 1998 tempo hari. Marx telah
menjelma menjadi sebuah energi. Energi yang menembus millenium, dan
mendetakkan jantung tokoh-tokoh besar lintas regional mulai Gramsci sampai
Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Tulisan ini bermaksud sekali lagi memaparkan
riwayat hidup pemikiran Marx hingga menghasilkan gagasan-gagasan besar itu, dan
seperti apa konsep-konsep orisinal Marx terhadap ekonomi dan politiknya itu.
Dalam banyak hal, tulisan ini diinspirasikan, sekaligus book review, buku karya Anthony Brewer yang berjudul Kajian Kritis
Das Kapital Karl Marx, di samping beberapa literatur lainnya sebagai
pelengkap. Buku Brewer sendiri adalah buku yang baik untuk kita memahami lebih
jauh mengenai ide-ide Marx di seputar wilayah ekonomi, dalam hal ini karya
besar Das Kapital, asalkan kita bersedia membacanya secara runtut dan sabar.
Sementara untuk ide-ide Marx pada wilayah politik, pembaca dapat melihatnya
pada literatur-literatur lainnya yang banyak jumlahnya.
Dasar-dasar Pikiran Karl Marx
Orang-orang di Sekitar Marx
Gagasan-gagasan besar Marx bukanlah sesuatu yang serta-merta ada. Tapi lebih merupakan suatu perjalanan belajar yang panjang, dan melibatkan banyak pihak yang menjadi sumber inspirasinya. Untuk menghasilkan karya besarnya, ia harus bergumul dengan sederet pemikir berkelas dunia. Paling tidak ada tujuh ornag yang namanya selau menyertai perjalanan intelektual Marx, yaitu: Immanuel Kant, Johann Gottlieb Fichte, George Wilhelm Friedrich Hegel, Henri de Saint Simon, Ludwig Feurbach, Bruno Bauer dan Friedrich Engels tentunya.
Masa muda Marx banyak diwarnai oleh bayang-bayang Kant dan Fichte yang memang banyak digandrungi kamum muda waktu itu. Oleh karenanya masa muda Marx banyak bergelut dengan dunia yang puitis. Pengaruh dua tokoh besar itu pula yang menuntunnya di waktu muda untuk menulis sebuah esai yang berjudul “Renungan Seorang Pemuda tentang Pemilihan Karier” (Reflections of a Young Man on Choosing a Carrier), yang menelaah kewajiban-kewajiban moral dan jangkauan kebebasan yang tersedia bagi seseorang dalam memilih suatu profesi yang akan ditelusuri dalam hidup. “Prinsip Utama”, demikian disimpulkan Marx, dalam sekelumit bait dari esai romantik- nya itu dapat kita lihat berikut ini:
...yang harus menjadi pedoman
bagi kita dalam memilih suatu profesi, ialah kesejahteraan manusia,
penyempurnaan kita sendiri. Orang janganlah berpikir, bahwa kedua kepentingan
ini saling beradu, bahwa orang yang satu harus menghancurkan orang yang lain.
Lebih tepat ialah bahwa sifat manusia itu membuat ia mungkin mencapai
penyelesaian hanya dengan bekerja bagi penyempurnaan dan kesejahteraan
masyarakatnya… Sejarah akan menyebut mereka sebagai orang-orang terakbar, bila
mereka itu menyempurnakan diri dengan bekerja bagi masyarakat semesta.[1]
Membaca sebait esai tersebut
tentunya kita dapat merasakan bagaimana ia bermaksud untuk memperingatkan pada
semua orang bahwa kita tidak boleh lepas dari sesuatu yang berada dalam
akal budi sebagai sebuah pengendali. Kita dapat menemukan
kesempuranaan diri itu dengan berorientasi pada suatu perbuatan nyata atas
perbaikan masyarakat, tidak semata berhenti pada tingkatan subtansi saja.
Pikiran seperti itu sangat dekat dengan apa yang dimaksud oleh Kant dan Fichte.
Immanuel Kant sendiri menamakan
filsafatnya
sebagai kritisisme, dan ia mempertentangkan antara kritisisme
dengan dogmatisme. Menurut Kant, kritisisme
adalah filsafat
yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki
kemampuan dan batas-batas rasio. Semua filsuf yang mendahuluinya (Descartes
misalnya) tergolong dalam dogmatisme, karena mereka percaya
mentah-mentah pada kemampuan rasio tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Kritisisme Kant
dapat dikatakan
sebagai suatu usaha
raksasa untuk mendamaikan antara rasionalisme dengan empirisme.
Rasionalisme
mementingkan unsur-unsur apriori
(unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman, ‘íde-ide bawaan’ Descartes
misalnya) dalam pengenalan, sedangkan empirisme menekankan pada unsur-unsur aposteriori (unsur-unsur yang berasal dari
pengalaman, ‘rasio sebagai kertas putih’ Locke misalnya). Kant membuat sebuah
sintesa atas keduanya yang disebut dengan “Revolusi Kopernikan”, bahwa
pengenalan didapat dari mendudukkan obyek yang mengarahkan diri pada si subjek.
Seperti Copernicus yang meletakkan tata surya (obyek) mengarahkan diri pada
bumi (subyek), sehingga bumi ‘tidak lagi’ sebagai sentral tata surya, melainkan
matahari. Berangkat dari situ, pada taraf akal budi, Kant kemudian membedakan
akal budi dengan rasio. Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara
data-data yang diperoleh dari indera. Akal budilah yang membuat
keputusan-keputusan, bukannya indera. Pengenalan akal budi juga merupakan
sintesa antara bentuk dan materi, di mana materi adalah data-data inderawi
sedangkan bentuk adalah apriori yang
terdapat pada akal budi. Turun pada level berikutnya, Kant juga membedakan
antara ‘rasio teoritis’ dengan ‘rasio praktis’. Rasio teoritis adalah rasio
yang orientasinya menjalankan ilmu pengetahuan, seperti telah dimaklumi oleh
filsuf-filsuf pendahulunya. Namun Kant mengingatkan bahwa di samping itu ada
juga ‘rasio praktis’, yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan;
atau dengan lain perkataan, rasio yang memberikan perintah pada kehendak kita.
Inilah kemudian yang menjadi konsep dikotomik ‘apa itu’ dan ‘apa yang
seharusnya’.
Lebih tajam dari Kant, Fichte berpendapat bahwa
filsafat harus berangkat bukan dari subtansi melainkan dari suatu perbuatan.
‘Perbuatan’ yang dimaksud Fichte itu disebuatnya dengan Aku Absolut, yang mengiakan
dirinya sendiri dan dengan itu mengadakan dirinya sendiri. Lalu aktifitas tak
terhingga dari Aku Absolut itu mengadakan lapangan tempat ia menjalankan
aktifitasnya. Dengan lain perkataan, Aku Absolut menghasilkan suatu ‘non-aku’.
Tetapi dengan berbuat demikian Aku Absolut itu serentak juga mengadakan diri
sebagai aku terhingga yang dibatasi non-aku. Filsafat Fichte tersebut dapat
dirangkum menjadi 3 (tiga) prinsip, yaitu (1) The ego posits it self, (2) The ego posits a non-ego, (3) The ego posits a limited ego in opposition
to a limited non ego. Dengan cara inilah Fichte juga bermaksud mendamaikan
pertentangan antara rasioteoritis dan rasiopraktis yang terdapat dalam filsafat
Kant. Rasio teoritis tidak dapat ditempatkan pada awal mula, tetapi didahului
dan dirangkum oleh suatu perbuatan. Oleh karena itu, memang sudah pada
tempatnya jika filsafat Fichte disebut idealisme praktis.[2]
Dua warna yang disodorkan dua tokoh itu seiring
dengan proses kematangan Marx, tapi akhirnya ditolaknya. Dualisme Kant mengenai
‘apa itu’ dan ‘apa yang seharusnya terjadi’ tampaknya bagi Marx seolah-olah
sama sekali tidak bisa cocok dengan keinginan individu yang hendak menerapkan
filsafat dalam usahanya mencapai tujuannya. Terhadap filsafat Fichte, Marx
mempunyai keberatan yang sama: filsafat ini memisahkan sifat logika dan
kebenaran dari campur tangan manusia di dalam dunia yang terus menerus
berkembang. Oleh karenanya, pendirian ini harus diisi dengan pendirian yang
mengakui keharusan bahwa obyeknya itu sendiri yang harus diteliti dalam
perkembangannya.
Dari kekecewaannya itu kemudian Marx beralih ke
Hegel. Namun yang harus dicatat di sini adalah keberalihan Marx dari Kant dan
Fichte ke Hegel ada jembatan parastatalnya, yaitu St. Simon. Bahkan beberapa
pakar berani berpendapat bahwa pengaruh St. Simon dengan Hegel terhadap Marx
sama-sama besar.
Di bawah pengaruh prestasi-prestasi hebat ilmu
pengetahuan alam, St. Simon mencoba menerapkan hukum-hukum alam pada bidang
sosial dan moral, jadi juga sejarah. Kemajuan masyarakat sebagaimana halnya
perkembangan individu tunduk pada hukum-hukum umum. Masa Mesir dikatakan
sebagai masa kanak-kanak; kesukaannya pada bangunan-bangunan dan kuburan;
kemudian masa Yunani sebagai masa pancaroba; kecintaannya pada musik dan puisi;
dan periode Romawi sebagai masa dewasa dengan ambisi-ambisi kemiliterannya;
sedang masa Sarasen sebagai masa tua dengan kekuatan intelektual yang
berkembang sepenuhnya. Tujuan perkembangan, baginya adalah kebahagiaan sosial
dan oleh karena kaum buruh merupakan kelas yang terbanyak, maka langkah pertama
adalah menuju ke arah perbaikan nasib kaum buruh. Menurut St. Simon, kelak akan
ada tiga kelas, yaitu buruh industri, kaum terpelajar dan seniman. Kesamaan
mutlak adalah tak mungkin, maka ketidaksamaan itu didasarkan pada jasa. Namun
pertumbuhan ke arah itu tidak dapat secara revolusi, melainkan dengan perubahan
berangsur-angsur.[3]
Setelah mendapat dasar-dasar materialisme dari
St. Simon, Marx kemudian bergelut dengan Hegel. Ada dua faktor yang menyebabkan
ia beralih ke Hegel, pertama adanya
penutupan yang dilakukan Hegel antara untaian-untaian dikotomi dari filsafat
Jerman Klasik, yang telah membentuk keabsahan utama dari Kant dan Fichte, kedua adalah keanggotaannya dalam
‘Doctor’s Club’ di Universitas Berlin. Dalam klub ini, Marx kemudian berkenalan
dengan bermacam golongan pengikut-pengikut muda dari Hegel. Di antaranya Bruno
Bauer yang merupakan tokoh paling menonjol di organisasi ini. Masalah-masalah
yang langsung menjadi perhatian Bauer bersama kelompoknya adalah memelihara
perhatian terhadap teologi Kristen, yang intrinsik dengan tulisan-tulisan Hegel
sendiri. Disertasi doktor dari Marx sendiri mengangkat diskusi komparatif
mengenai filsafat Democritus dan Epicurus, yang di situ nampak sekali pengaruh
dari Bauer. Demikianlah, dari dua energi pendorong itu akhirnya pada saat itu
Marx menjadi pengikut Hegel.
Hegel sangat mementingkan rasio, namun yang
dimaksud rasio di sini bukan saja rasio pada manusia perorangan tetapi juga
(dan terutama) rasio pada Subjek Absolut, karena ia pun menerima prinsip
idealistis bahwa realitas seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subyek.
Suatu dalil Hegel yang kemudian menjadi tersohor berbunyi, “Semua yang real bersifat rasional, dan semua yang rasional bersifat
real”. Maksudnya adalah, bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas.
Realitas seluruhnya adalah sebuah proses pemikiran yang memikirkan dirinya
sendiri.
Berikutnya dengan toeri dialektikanya Hegel, ia
mengkritik Fichte. Di mana filsafat Fichte mempertentangkan antara ‘aku’ dan
‘non-aku’, Fichte menghadapi dua konsep tersebut hanya membatasi satu sama lain
dan tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Justru itulah yang diharuskan Hegel
menjadi sebuah dialektika yang hasil akhirnya bisa juga disebut sebagai Roh
Absolut. Dalam konteks sejarah, pada waktu Hegel berkeyakinan bahwa Roh sudah
menjadi Absolut dan karena itulah proses penyadaran roh sudah selesai. Dalam
segala bidang, apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa bagi Hegel, sejarah
manusia sudah berakhir? Bisa dijawab ya dan tidak. Sejarah manusia tidak
berakhir, dalam arti tidak ada lagi hari depan untuk manusia. Tetapi sejarah
sudah mencapai penghabisannya, dalam arti bahwa tidak lagi akan terjadi sesuatu
yang sungguh-sungguh baru. Mulai kini sejarah hanya dapat mengulangi saja
bentuk atau stadium lama.[4]
Tak lama Marx juga meninggalkan Hegel begitu
saja, karena sebuah ‘kesalahan kecil’. Konsep sejarah yang ditawarkan Hegel
tidak ditentangnya. Yang ia tolak dari Hegel adalah ‘idealisme’-nya. Idealisme
dalam arti teknis filsafat adalah pandangan yang menganggap bahwa pikiran atau
ide-ide adalah primer, dan benda-benda fisikal adalah sekunder. Menurut Hegel,
sejarah pertama-tama adalah cerita tentang perkembangan ‘akal’ yang berbeda.
Dan perkembangan dialektis dari ide-ide itu, adalah motor sejarah. Marx menolak
pemahaman semacam ini, dan argumen-argumen penolakannya itu banyak dipengaruhi
oleh seorang tersohor yang berkibar tepat ketika Marx sedang menyelesaikan
disertasinya, Feuerbach.
Aspek-aspek filsafat Feuerbach sangat menarik
pemikiran Marx, yaitu adanya kemungkinan-kemungkinan yang tampaknya tersajikan
untuk memadukan antara analisis dan kritik, sambil upaya manusia
‘merealisasikan’ filsafat. Banyak orang yang menganggap bahwa, tulisan-tulisan
Marx dini mengenai pengasingan dalam politik dan industri merupakan kelanjutan
dari ‘materialisme’ Feuerbach.
Feuerbach berusaha memutarbalikkan dasar pikiran
idealistis dari Hegel, dengan mengatakan secara terang-terangan bahwa studi
tentang kemanusiaan haruslah bertolak dari ‘manusia sejati’ yang hidup dalam
‘dunia materi yang nyata’. Sementara Hegel memandang ‘yang benar-benar’ sebagai
sumber dari ‘yang bersifat Tuhan’. Feuerbach berargumentasi bahwa yang bersifat
Tuhan adalah produk impian dari yang nyata. Keberadaan atau eksistensi
mendahului pikiran, dalam arti bahwa orang tidak merenung tentang dunia,
sebelum ia bergerak di dalam dunia itu. “Pikiran
adalah kelanjutan dari ‘ada’, dan ‘ada’ bukanlah merupakan kelanjutan dari
pikiran.” Hegel memandang perkembangan umat manusia dalam hubungan
pertentangan Tuhan dengan Dirinya. Sementara dalam filsafat Feuerbach, Tuhan
itu hanya bisa ada selama manusia bertentangan dengan dirinya sendiri dan
sepanjang manusia mengasingkan diri dari pribadinya. Tuhan adalah ciptaan
impian dan kepada-Nya manusia telah memproyeksikan kekuatan dan kemampuan-Nya
setinggi-tingginya. Sehingga Tuhan menjadi terlihat begitu mahasempurna, dan
sebaliknya manusia menjadi tampak begitu tak sempurna dan sangat terbatas.
Agama, dengan demikian, harus diganti dengan humanisme, di mana cinta kasih
yang semula ditujukan kepada Tuhan menjadi diarahkan kepada manusia, sehingga
akan menuntun manusia ke suatu penemuan kembali kesatuan umat manusia untuk
dirinya sendiri.[5]
Marx menjadi begitu dekat dengan nama Feuerbach
sampai ia bertemu Engels, di mana pada tahun-tahun 1840-an mereka mulai
menyusun Ideologi Jerman. Dari
pergelutan intelektual dengan Engels, kemudian Marx mulai banyak melakukan
kritik terhadap filasafat Feuerbach. Dalam Tesis-tesis
Mengenai Feuerbach, Marx membuat beberapa kupasan. Pertama, pendekatan Feuerbach tidak historis. Feuerbach di dalam
pikirannya membuat seorang ‘manusia’ abstrak yang mendahului masyarakat. Ia
tidak hanya menurunkan manusia menjadi orang saleh, akan tetapi gagal melihat
‘bahwa rasa saleh itu sendiri merupakan produk sosial, dan bahwa manusia
abstrak yang ia analisis itu terbentuk dalam suatu masyarakat tertentu’. Kedua, materialisme Feuerbach tetap
berada dalam tingkatan suatu doktrin filsafat, yang semata-mata menganggap
gagasan sebagai ‘renungan’ dari kenyataan materiil. Pada kenyataannya, ada
suatu hubungan timbal balik antara kesadaran dan Praxis manusia. Feuerbach, seperti halnya semua ahli filsafat
materialis dulu, memperlakukan kenyataan materiil sebagai sesuatu yang
menentukan kegiatan manusia, dan tidak menganalisis modifikasi dunia obyektif
dengan subyeknya, yaitu dengan kegiatan manusia. Marx mengatakan bahwa doktrin
materialis Feuerbach itu tidak bisa menangani fakta, bahwa kegiatan
revolusioner adalah hasil dari tindakan-tindakan manusia yang dilakukan dengan
sadar dan yang dikehendakinya, tetapi sebaliknya ia menggambarkan dunia ini
dalam kaitan pengaruh ‘searah’ kenyataan materi atas gagasan-gagasan.
Sumbangan Engels terhadap Marx tidak sebatas
kritiknya terhadap filsafat Feuerbach di atas semata, namun lebih dari itu
Engels juga memberikan sumbangan besar terhadap penyusunan konsep materialisme
sajarah. Hal ini bisa dibuktikan bahwa sebelum materialisme sejarah disusun,
Engels bersama Marx (dalam hal ini Engels lebih dominan) terlebih dahulu
menyusun materialisme dialektis.
Dengan menganut materialisme yang bersifat dialektis, ia menolak materialisme
abad ke-18 dan 19 yang dua-duanya bersifat mekanistis. Menurut materialisme
abad ke-18, tidak ada perbedaan prinsipiil antara sebuah mesin dan mahluk hidup
(termasuk manusia). Hanya saja pada manusia, mekanismenya lebih pelik. Salah
satu prinsip materialisme dialektis ialah bahwa perubahan dalam tingkatan
kuantitas dapat mengakibatkan perubahan pada tingkat kualitas. Itu berarti bahwa
suatu kejadian dalam taraf kuantitatif dapat menghasilkan sesuatu yang sama
sekali baru. Dengan cara itulah kehidupan berasal dari materi mati dan
kesadaran manusiawi berasal dari kehidupan organis.[6]
Inilah pelatuk yang meledakkan picu materialisme
historis itu.
Materialisme Sejarah
Dasar pikiran materialisme sejarah adalah bahwa
arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan atau dideterminasikan oleh
perkembangan sarana-sarana produksi materiil. Jika sebagai contoh kita memilih
pengelolaan tanah, maka perkembangan sarana-sarana produksi adalah umpanya:
tugal, cangkul, bajak, mesin, dsb. Di sini sarana-sarana produksi menentukan
hubungan-hubungan produksi. Dengan hubungan produksi tersebut menjadikan
hubungan manusia satu sama lain dibangun atas dasar kedudukannya dalam proses
produksi. Mode of production, begitu
bangunan suprastruktur ini biasanya disebut. Dengan pandangan materialisme
sejarah ini, selanjutnya berimplikasi pula pada pandangan bahwa gejala-gejala
yang ada pada masyarakat seperti hukum, tata politik, filsafat, kesenian, moral
dan agama ditentukan dan merupakan cerminan dari basis ekonomi yang merupakan
dasarnya.
Untuk memaklumi pandangan Marx semacam itu kita
dapat menelaah 5 (lima) prinsip yang dipegang Marx dengan cukup teguh di masa-masa
kematangannya. (1) Konsepsi, untuk mana Marx sangat berhutang budi pada Hegel
tentang swa penciptaan (self-creation)
manusia yang progresif. (2) Gagasan tentang keterasingan. Meskipun istilah
‘keterasingan’ sebenarnya kurang disukai Marx, namun pokok-pokok pikirannya
menunjuk ke arah sana, di mana ia menelusuri pertumbuhan dari pembagian kerja
dan munculnya pemilikan pribadi, yang puncaknya merupakan proses pengasingan
kaum tani dari penguasaan atas prasarana produksi mereka. Demikian pula halnya
yang terjadi pada buruh. (3). Sebuah konsep dasar dari semacam orde sosial yang
diharapkan dan diduga akan menggantikan kapitalisme. (4) Marx memilih untuk
meninggalkan filsafat dan mengutamakan suatu pendekatan sosial dan historis.
(5) Suatu konsep ringkas tentang praxis
yang revolusioner, di mana hanya dengan bersatunya teori dan praktek, dengan
bersambungnya pengertian teoritis dan kegiatan politik praktis, perubahan
sosial bisa dibuat menjadi kenyataan.[7]
Buah karya pertama setelah bersatunya Marx dan
Engels adalah Keluarga Kudus. Karya
yang banyak menimbulkan polemik ini, mulai ditulis pada akhir tahun 1844.
Bagian terbesar dari buku ini merupakan karya Marx yang menceritakan putusnya
hubungan Marx dengan pemuda-pemuda pengikut Hegel. Tak lama kemudian buku ini
disusul dengan buku berikutnya, yaitu Ideologi
Jerman, ditulis tahun 1845-1846. Karya ini pada dasarnya merupakan suatu
karya kritik, yang untuk pertama kalinya Marx mengemukakan pernyataan umum
mengenai prinsip-prinsip materialisme sejarah.
Di dalam Ideologi
Jerman, Marx memulai dari fakta-fakta nyata yang sederhana. Untuk hidup,
manusia harus memproduksi alat-alat penyambung hidupnya (makanan, minuman,
tempat tinggal, dsb). Untuk melakukannya, mereka harus bekerja sama dalam suatu
pembagian kerja. Setiap tingkat perkembangan produksi itu sendiri adalah hasil
dari perkembangan sejarah dan hasil pencapaian dari generasi manusia
sebelumnya. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja
sama, pembagian kerja, dan karenanya juga organisasi kemasyrakatan. Masyarakat
berubah melaui serentetan tingkat yang ditandai dengan berbagai bentuk
pemilikan. Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak.
Pemilikan feodal (tanah) atas pemerasan hamba. Pemilikan perorangan borjuis atas
eksploitasinya terhadap proletariat pekerja upahan yang tidak memiliki apa-apa.
Setiap tingkatan bentuk produksi adalah lebih tinggi dari yang dulu. Setiap
tingkat menyediakan syarat bagi yang akan datang. Perkembangan kapitalis akan
menciptakan pemiskinan proletariat oleh kapitalisme. Komunisme adalah bentuk
sejarah yang tak terhindarkan.
Apabila Hegel menganggap Roh (ide atau akal)
sebagai asas kenyataan sejarah, maka Marx dalam materialisme sejarahnya
bertolak dari kemasyarakatan yang historis, dunia rohani timbul dari itu.
Dilihat dari segi ekonomis, maka kenyataannya masyarakat dikuasai oleh
hubungan-hubungan ekonomis dan produksi; ini merupakan basis struktur
politik-sosial-keagamaan masyarakat dari seluruh kehidupan kultural.
Masyarakat borjuis kapitalis sekarang, seperti
halnya periode-periode yang mendahuluinya, mengandung antagonisme sosial, yang
disebabkan oleh cara-cara produksi kapitalistis. “Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah
pertentangan kelas.”
Dengan adanya perkembangan yang hebat dari
kekuasaan industri dan ilmu pengetahuan, maka timbullah kontradiksi yang tajam.
Alat mesin dapat mempersingkat kerja dan memberi lebih banyak keuntungan,
tetapi juga dapat menyebabkan kelaparan dan kerja lembur. Manusia menjadi tuan
dari alam, tapi bersamaan dengan itu menjadi budak dari manusia lainnya.
Antagonisme industri modern dan ilmu pengetahuan di satu pihak, dan kemiskinan
serta korupsi di pihak lain. Ini menyebabkan adanya antagonisme sosial atau
pertentangan kelas, yaitu dua kelompok yang saling bertentangan: borjuasi
dengan proletariat, tuan dengan budak, penindas dengan yang tertindas.
Emansipasi individu akan tercapai dengan jalan menggulingkan tertib masyarakat
yang ada. Proletariat, sebuah bangsa terpilih dari konsep materialisme sejarah,
adalah satu-satunya kekuatan revolusioner yang mempunyai potensi untuk
menumbangkan masyarakat kapitalistis dan membangunkan masyarakat komunis yang
dicita-citakan.
Hanya proletariat-lah yang merupakan kelas
progresif sebenarnya dengan satu misi universal, karena mereka dilarang
mengenyam hak-hak istimewa masyarakat yang vested.
Gerakan kaum proletar adalah suatu kesadaran diri dan gerakan yang tidak
tergantung dari mayoritas besar. Setelah mencapai kemenangan, proletariat tidak
akan menjadi kelas yang berkuasa, tetapi supremasi akan dihapuskannya. Di situ
tidak akan ada pertentangan kelas, tetapi suatu kehidupan bersama, di mana
setiap orang dapat berkembang dengan bebas, untuk perkembangan bebas dari semua
orang! Jadi ‘Kerajaan Tuhan’, namun tanpa Tuhan, dan berada di dunia. Inilah
yang menjadi tujuan akhir cita-cita Marx dengan materialisme sejarahnya.[8]
Kritik Marx Terhadap Hukum-hukum Kapital
Asal-usul dan Sirkulasi Kapital
Secara sangat gamblang, Marx menjelaskan riwayat
hidup terlahirnya sebuah konsep yang disebut kapital. Dia mengatakan bahwa
adanya kapital dimulai dari adanya komoditi. Secara alamiah komoditi lambat
laun akan melahirkan sesuatu yang kita kenal dengan uang. Proses tukar-menukar
yang diperantarai uang inilah sebagai alasan utama lahirnya apa yang kita sebut
dengan kapital. Jadi, secara kasar, alur ekonomi yang ada adalah pergeseran
dari komoditi, uang dan kapital.
Sebuah komoditi dijelaskan sebagai sesuatu yang
dipertukarkan dengan, atau untuk komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai
pakai, yang memenuhi sejumlah keinginan atau kebutuhan, langsung atau tidak. Di
sini tidak dipersoalkan penilaian yang bersifat moral. Senjata misalnya, adalah
pemenuhan kebutuhan masyarakat yang doyan
perang, dan dengan demikian mengandung nilai pakai. Dalam konteks ini senjata
adalah sebuah komoditas.
Berikutnya, Marx membicarakan cara nilai itu
menyatakan dirinya ke dalam nilai tukar komoditi. Ia mulai dengan ekuivalensi
sederhana dua komoditi dan mengembangkannya sampai pada ungkapan nilai di dalam
terminologi harga-uang. Di sini menjadi penting untuk mengingat bahwa setiap
harga yang benar-benar menyeleweng dari nilainya akan ditentang. Marx
selanjutnya terlibat dalam masalah kualitatif, yang menyangkut masalah
nilai-nilai tukar apa dan dengan unit-unit barang apa ia ditukar.
Pertama kali Marx mengambil kesamaan dari nilai
dua komoditi (satu ton beras sama dengan sebuah televisi, misalnya). Kemudian
ia membedakan bentuk relatif dari nilai relatif beras dengan yang lainnya, di samping
persamaan relatifnya. Di sini televisi menjadi suatu unit ukuran dari nilai.
Barang-barang itu dapat ditukarkan. Kerja, sebagai substansi nilai tidak tampil
pada kedua barang itu, karena pertukaran selalu menyangkut pertukaran dari satu
komoditi dengan komoditi lainnya.[9]
Maka dari itu, nilai dari komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai
pencatat hubungannya dengan nilai-nilai komoditi lain. Komoditi tertentu punya
nilai pakai tersendiri. Tetapi ia hanya punya nilai tukar dalam hubungannya
dengan komoditi lain. Nilai beras pada televisi dapat berubah karena nilai
beras sendiri berubah. Atau karena nilai dari televisi berubah, atau karena
kedua-duanya berubah.
Pertukaran komoditi adalah suatu transaksi
antarpara pemilik komoditi. Pemilik dari komoditi beserta barang-barang yang
tidak akan dipakainya, melepasnya, menjualnya atau menukarkannya dengan
barang-barang yang akan memenuhi kebutuhannya. Pertukaran hanya dapat terjadi
apabila masing-masing pihak mengakui pihak lainnya sebagai pemilik komoditi
yang diperdagangkan. Di tengah kompleksitas pertukaran itu muncullah uang.
Hari ini sudah sering menjadi keluh kesah para
orang bijak: ‘Gila! manusia sudah menjadi budak uang’, atau ‘uang telah membawa
pergi jauh-jauh moralitas dari muka bumi!’. Lain bagi Marx, ia mengatakan tidak
ada gunanya menjelek-jelekkan uang dalam masalah-masalah sosial. Atau
mengusulkan peniadaan uang tanpa meniadakan pertukaran komoditi. Uang
diperlukan oleh persekutuan pertukaran dan orang tak dapat menghapuskannya tanpa
menghapus yang lainnya. Logam-logam mulai sangat cocok berperan sebagai
komoditi uang, karena ia uniform dan
dapat dipecah.
Uang mempercepat dan mempermudah proses
pertukaran. Oleh karenanya transaksi-transaksi bisnis berskala milyaran dapat
berlangsung hanya dengan hitungan detik. Karena kecepatan pertukaran yang luar
biasa ini, maka keinginan untuk melakukan bisnis skala besar menjadi impian
setiap orang, dan untuk dapat melakukan itu orang butuh kapital.
Rumus untuk kapital, atau untuk sirkuit dari
kapital adalah M-C-M. Si kapitalis mulai dengan sejumlah uang (M), membeli
komoditi (C), menjual serta mengakhirinya dengan uang kembali (M kedua). Marx
menamakan tahap pertama ini (M-C) sebagai
kapital pendahuluan dan tahap kedua (C-M) kapital kerja. Seluruh urusan
ini tidak ada artinya jika si kapitalis mendapatkan uangnya kembali sama dengan
ketika mulai berusaha. Maka Marx menulis kembali rumusnya menjadi M-C-M’, di
mana M’ mewakili jumlah yang lebih besar dari M. Uang tambahan yang diperoleh
itu (selisih antara M dengan M’) oleh Marx dinamakan nilai lebih. Sirkulasi
atau peredaran kapital adalah suatu proses atau kegiatan menghasilkan nilai
lebih. Sirkuit dari kapital, berbeda dari sirkulasi komoditi yang sederhana.
C-M-C di dalam sirkulasi komoditi yang sederhana itu bertujuan untuk pemenuhan
kebutuhan tertentu para pembeli komoditi tertentu, sehingga ia dibatasi oleh
kebutuhan-kebutuhan itu. Sebaliknya, sirkuit dari kapital bertujuan pada
penambahan jumlah dari nilai uang. Ini adalah proses yang secara inheren tidak
terbatas. Si kapitalis bertujuan melulu membuat keuntungan dari proses yang
tidak pernah berakhir.[10]
Nilai, karena itu adalah suatu proses, uang dan
kapital dengan demikian berada dalam proses tersebut. Kapital, dengan demikian
adalah nilai. Tetapi ia tidak dibatasi oleh bahan tertentu yang dikandungnya,
namun oleh fakta bahwa ia terlibat dalam proses tertentu. Suatu proses yang
memproduksi nilai lebih.
Nilai lebih dan Eksploitasi
Demi penciptaan nilai lebih, para kapitalis
mengeluarkan uangnya untuk dua macam komoditi. Sebagian dari kapitalnya
dikeluarkan lebih dulu untuk membeli alat-alat produksi dan sebagian lagi untuk
membeli tenaga kerja. Di sini Marx akan berbicara peran dari tenaga kerja dalam
menghasilkan nilai lebih, namun itu serta-merta juga mengeksploitasi tenaga
kerja itu sendiri.
Tenaga kerja adalah komoditi yang mempunyai
ciri-ciri khusus, yaitu sumber dari nilai. Marx kemudian membuat perbedaan yang
tajam dalam hal kerja dan tenaga kerja. Kerja adalah kegiatan, bukan barang dan
tidak dapat dijual. Tenaga kerja adalah apa yang dijual oleh pekerja, bila ia
setuju bekerja pada seseorang kapitalis dengan memperoleh sejumlah upah. Upah
adalah harga dari tenaga kerja. Karena tenaga kerja yang dijual, tentunya ada
suatu kelas yang bebas, yaitu kaum proletariat. Mereka bebas untuk menjual
tenaga kerja mereka. Mereka bukan budak atau hamba. Namun mereka juga ‘bebas’
dari pemilikan atas komoditi, sehingga mereka tidak punya apa-apa untuk dijual,
kecuali tenaga kerja mereka. Mereka juga tidak punya uang untuk membeli
alat-alat produksi dan penyangga kehidupan mereka menjelang kembalinya uang
atau laba.[11]
Tidak seperti alat produksi yang memiliki sifat
konstan, tenaga kerja telah dipergunakan sebagai kerja yang sesungguhya,
menciptakan nilai baru dan nilai lebih. Bagian dari kapital yang telah
dikeluarkan terlebih dahulu untuk membeli tenaga kerja, bertambah besar
nilainya selama dalam proses produksi, sehingga Marx menamakannya dengan
kapital variabel, untuk membedakannya dengan sifat konstan dari alat produksi.
Variabel di sini tidak ada hubungannya dengan perubahan-perubahan dari satu
siklus produksi ke siklus produksi selanjutnya. Pada tahap ini, Marx hanya
membahas apa yang terjadi pada nilai kapital pendahuluan selama satu kali
proses produksi.
Umpamakan C sebagai kapital pendahuluan, ini
dibelikan untuk keperluan dua hal, yaitu alat produksi (c) dan tenaga kerja
(v). Kemudian kapital pendahuluan itu tentunya akan berubah (menjadi C’)
seiring dengan proses penghasilan nilai lebih tadi, maka rumusnya akan menjadi
C’=c+v+s. Di mana yang dimaksud s di sini adalah nilai lebih yang dihasilkan.
Nilai yang baru diciptakan oleh kerja adalah v+s. dan nilai alat produksi yang
terpakai adalah c. Tetapi nilai itu telah dipindahkan ke dalam produk. Kapital pendahuluan
(C) membeli tenaga kerja telah membesar menjadi v+s. Marx lalu menetapkan rate dari nilai lebih, rate dari
eksploitasi, menjadi s/v. Rasio s terhadap seluruh kapital pendahuluan
adalah s/C, yaitu suku keuntungan.[12]
Demikianlah, kita dapat menyaksikan bagaimana
Marx begitu gamblang dan ilmiah dalam menggambarkan proses eksploitasi terhadap
tenaga kerja (buruh) itu terjadi. Di mana ia melihat bagaimana nilai lebih yang
didapat oleh para kapitalis itu didapatkan dari peran tenaga kerja yang begitu
besar. Dan semakin giat seorang pekerja dalam bekerja, maka semakin tinggi pula
nilai lebih yang dihasilkan dari proses produksi itu. Dengan demikian, makin
memperkaya para pemilik kapital. Sementara selisih antara nilai lebih yang
diterima oleh para kapitalis dengan upah yang diterima buruh, selama ini
menunjukkan kesenjangan yang tajam. Namun atas posisinya dalam sebuah proses
produksi, buruh seringkali tidak mempunyai kewenangan apa-apa untuk mengambil
keputusan, pemilik kapitallah yang memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan.
Inilah yang kemudian menimbulkan keterasingan
bagi kaum buruh. Analisis keterasingan dalam produksi kapitalis bertolak dari
suatu fakta ‘ekonomi kontemporer’, yang merupakan suatu fakta bahwa makin maju
kapitalisme akan semakin (relatif) miskin pula si buruh. Kekayaan melimpah yang
memungkinkan cara-cara produksi kapitalis, ditunjang oleh pemilik tanah dan
pemilik modal. Akan tetapi pemisahan antara si buruh dengan hasil kerjanya ini,
bukan sekedar masalah perampasan benda yang sebetulnya merupakan hak si buruh.
Yang menjadi pokok pembahasan Marx, ialah bahwa dalam kapitalisme obyek-obyek
materiil yang diproduksi disejajarkan dengan si buruh itu sendiri. Tepat
seperti halnya kalau barang-barang itu berada pada tingkat teoritis murni dalam
disiplin ilmu ekonomi politik. Buruh bahkan menjadi komoditi yang lebih murah
dengan semakin banyaknya barang yang dihasilkan. Devaluasi dunia manusia
meningkat secara langsung dalam kaitannya dengan meningkatnya nilai dunia
benda. Hal ini melibatkan suatu distorsi dari apa yang disebut Marx sebagai
obyektifikasi. Proses produksi, obyektifikasi, dengan demikian mengambil bentuk
suatu penghilangan dan penghambaan terhadap objek, buruh menjadi budak dari
objek. Keterasingan buruh dalam ekonomi kapitalis didasarkan atas disparitas
ini, yaitu antara kemampuan produksi buruh yang menjadi semakin besar akibat
meluasnya kapitalisme dengan tidak adanya pengendalian oleh si buruh terhadap
obyek yang diproduksinya.
Kritik Marx atas Perwakilan-perwakilan Politik
Dalam konteks politik, Marx juga memiliki
pandangan-pandangan yang cukup tajam. Ia mampu menelusuri proses
‘obyektifikasi’-nya dalam lembaga-lembaga politik negara. Dunia yang
sebenarnya, tidak dapat dijadikan kesimpulan dari suatu studi yang ideal. Tetapi
sebaliknya, ideallah yang harus dilihat sebagai suatu hasil sejarah tentang
yang sebenarnya. Bagi Hegel, masyarakat sipil yang meliputi semua hubungan
ekonomi dan keluarga, yang berada di luar struktur yuridis dan politik negara,
pada intinya merupakan lingkungan egoisme tanpa batas, di mana setiap orang
saling beradu kekuatan dengan sesamanya. Manusia adalah mahluk berakal dan
tertib, karenanya sampai pada tingkatan tertentu, mereka menerima tata tertib
yang terdapat dalam negara, yang merupakan suatu ruang lingkup universal yang
memotong kepentingan egoistik dari kegiatan-kegiatan manusia di dalam
masyarakat sipil. Menurut Marx selanjutnya (seperti ketika Feuerbach mengkritik
Hegel dalam konteks agama), negara juga merupakan suatu bentuk terasing dari
kegiatan politik, yang mewujudkan hak-hak universal yang berlangsungnya juga
sementara seperti dunia idaman dari agama. Bagi Marx tidak ada suatu bentuk
konstitusi politik pun yang dapat menunjukkan bahwa hubungan ini ada dalam
kenyataan. Di negara-negara tertentu partisipasi umum dalam kehidupan politik
merupakan hal yang ideal, akan tetapi itu sebenarnya hanya kedok dari
pengejaran-pengejaran kepentingan tertentu. Dengan demikian, apa yang dalam
penuturan Hegel tampak terpisah dan dibawahi oleh kepentingan-kepentingan
tertentu dari individu-individu dalam masyarakat sipil, pada dasarnya berasal
dari kepentingan-kepentingan tersebut. Bagi Marx, “Sampai sekarang konstitusi politik masih merupakan ‘agama’ dari
kehidupan rakyat, sorga keuniversalan rakyat yang merupakan sebaliknya dari
adanya mereka yang sebenarnya.”[13]
Realisasi dari apa yang disebut Marx sebagai
“demokrasi sebenarnya,” menurut analisisnya, membawa serta penanggulangan
keterasingan antara individu dengan masyarakat politik, dengan cara meleburkan
dikotomi antara kepentingan-kepentingan ‘egoistis’ dari individu-individu di
dalam masyarakat sipil dengan sifat ‘sosial’ dari kehidupan politik. Peleburan
ini hanya bisa tercapai dengan melakukan perubahan-perubahan kongkrit
sedemikian rupa di dalam pola hubungan negara dengan masyarakat, sehingga apa
yang sekarang hanya merupakan idaman ideal menjadi hal yang nyata. Proses
mencapai hak pilih universal merupakan jalan, melaui mana hak pilih bisa
dihasilkan. Hak pilih universal memberikan kepada semua anggota masyarakat
sipil suatu penjelmaan politik, dan oleh karenanya ipso facto melenyapkan ‘yang politik’ sebagai suatu kategori
terpisah. Dalam hak suara universal baik yang aktif maupun yang pasif,
masyarakat sipil dalam kenyataannya membangkitkan diri menjadi suatu
keniscayaan daripadanya sendiri, menjadi kehadiran politik sebagai kehadirannya
yang esensial dan benar-benar universal.[14]
Dari penjelasan-penjelasannya itu kita dapat
lihat bagaimana penolakan Marx yang gigih terhadap segala bentuk ilusi. Keteraturan
hukum sampai hari ini memang masih dirasakan sebagai ilusi semata. Hukum dan
para penegaknya berjalan di satu sisi, dan pengkhianatan terhadap hukum dan
keteraturan itu sendiri juga berjalan di sisi lain. (Fadillah Putra).
[1] Lihat Anthony Giddens. 1986. Kapitalisme
dan Teori-teori Sosial Modern. Jakarta: UI Press, hal. 1.
[2] K. Bertens. 1990. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta:
Kanisius. hal. 65-66.
[3] Kartodirdjo, Sartono. 1986. Ungkapan-ungkapan
Sejarah Barat dan Timur. Jakarta: Gramedia. hal. 36.
[4] Bertens, Op. Cit. hal.
67-68.
[5] Giddens, Op. Cit. hal. 4.
[6] Bertens, Op. Cit. hal. 82.
[7] Giddens, Op. Cit. hal. 23-24.
[8] Kartodirdjo, Op. Cit. hal. 42.
[9] Brewer, Anthony. 1999. Kajian
Kritis Das Kapital Karl Marx. Jakarta: Teplok Press. hal. 42.
[10] Brewer, Ibid. hal. 55-56.
[11] Ibid. hal. 58-59.
[12] Ibid. hal. 67-68.
[13] Giddens, Op. Cit. hal. 6.
[14] Ibid. hal. 7.
No comments:
Post a Comment