Wednesday, 20 May 2015

Pengembangan Interdisipliner Perilaku ber-Organisasi Studi kasus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FIA UB

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bidang pengetahuan terkait pengembangan organisasi nampaknya kian hari kian pesat perkembangannya. Pusat pembelajaran dan studi di berbagai perguruan tinggi dalam bertugas membina pengetahuan organisasi dalam pengembangannya. Pembelajaran pengembangan organisasi ini sangatlah unik untuk di pelajari dimulai dari kita pertama kali menjejakan kaki dikeluarga kita sendiri hingga kita masuk dalam organisasi kerja. Dalam perkulihan yang didapat hanya sekedar suatu ide-ide gagasan mengenai teori pengembangan birokrasi namun bagaimana implementasinya ? penerapan organisasi dalam dunia perkuliahan itu sendiri dilakukan di dalam dan diluar kampus. Organisasi didalam kampus menyangkut suatu tindakan formal dalam pengembangan sikap kita dalam membangun prilaku kita dalam organisasi seperti contohnya BEM/EM (Badan Eksekutif Mahasiswa/Eksekutif Mahasiswa) dan kegiatan LOF (lembaga Otonomi fakulta) dan juga UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Sedangkan organisasi diluar kampus mengidentifikasi kita bagaimana menyikapi suatu permasalahan langsung dengan menggunakan prilaku sosial kita dalam masyarakat sebagai bentuk tri dharma perguruan tinggi yang telah tertera, contoh organisasi luar kampus yaitu, HMI, PMII, dan GMNI.
Penempatan kembali manusia sebagai salah satu unsur yang amat penting dalam organisasi adalah suatu orientasi dasar dai ilmu prilaku dan pengembangan organisasi. Ini berarti konflik dalam suatu birokrasi ataupun didalam organisasi hendaknya senantiasa sadar bahwa di antara tiga dimensi pokok yakni philosopi, spirit, dan appetite dalam organisasi tidaklah bisa memberikan suatu penekanan kepada dimensi yang lain sehingga menelantarkan dimensi manusia. Jika suatu organisasi hanya menekankan pada dimensi teknis dan dimensi konsep, dan tidak mengindahkan dimensi manusia sebagai dimensi ketiga maka akan menimbulkan iklim pengembangan yang kurang sehat, dan tidak respektif terhadap faktor pendukung utama dari organisasi yakni manusia.
Konsep-konsep seperti itulah yang hingga saat ini digunakan dalam setiap organisasi yang ada. Max weber seorang pemikir dalam ilmu sosial yang lebih bertumpu pada orientasinya menjelakan mengenai organisasi dibanding pengembangan suatu prinsip yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan praktis. Weber menggolongkan dua aspek dari hasil kerjanya yakni : pertama, weber menjelaskan preskripsinya terkait suatu organasasi dari pertumbuhan organisasi besar. kedua, weber terkesan akan kelemahan-kelemahan yang dimiliki manusia dengan pertimbangan yang kadang-kadang tidak realitas dan bahwa manusia mempunyai rasa emosional.
Sedangkan gagasan Henry Fayol dalam bukunya General and Industrial Administration lebih bersifat kepada organisasi-administratif, dengan membaginya kedalam 5 sub-sistem yang ada, yakni (1) aspek teknik dan komersial, (2) kegiatan keuangan, (3) Unit keamanan dan perlindungan, (4) fungsi perhitungan, dan (5) fungsi administrasi dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, dan pengendalian.
Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FIA UB merupakan salah satu organisasi yang beraktifitas di FIA UB. Dalam kaitannya dengan gerakan mahasiswa, maka dapat dikatakan HMI Komisariat FIA UB merupakan organisasi gerakan mahasiswa. Hal tersebut dapat dilihat dari aktifitas-aktifitas organisasi yang berperan aktif dalam mendukung gerakan mahasiswa. Namun secara nyata kekuatan konflik di interanal HMI FIA UB masih kurang. Penerapan interdisipliner pada setiap anggota Kader pergerakan HMI FIA UB masihlah belum bersifat loyalitas dan ikhlas.
Topik dari permasalahan yang dibuat kali ini mengenai pola prilaku dan pengembangan interdisipliner dalam organisasi ekstra kampus yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) komisariat FIA brawijaya, mengapa topik ini perlu diambil, karena pengembangan awal mula sikap dan prilaku untuk memasuki dunia kerja dimulai dari hal yang cukup kecil. Penerapan tindakan terkadang hanyak bersifat lisan belaka tanpa adanya suatu tindakan yang nyata. Interdispliner yang ada dalam pergerakan HMI ini msih kurang konsisten, komitmen, loyalitas, dan kompeten dalam menyikapi permasalahan organisasi khususnya didalam internal organisasi HMI sendiri. Paper ini menjelaskan permasalahan interdisipliner dalam internal organisasi HMI dengan mengkajinya dari teori prilaku pengembangan organisasi agar supaya gagasan dan ide keluar guna mengubah prilaku pengembangan organisasi HMI kedepannya.

1.2  Rumusan masalah
1.      Bagaimana Prilaku pengembangan sikap keorganisasian dalam HMI ?

1.3  Tujuan
1.      Menjelaskan pola prilaku pengembangan organisasi ditingkat kecil didalam organisasi ekstra kampu.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Budaya yang kuat meletakkan kepercayaan-kepercayaan, tingkah laku dan cara melakukan sesuatu tanpa perlu dipertanyakan lagi. Oleh karena berakar dalam tradisi, budaya mencerminkan apa yang dilakukan dan bukan apa yang akan berlaku (Pastin dalam Moeljono, 2003 : 22). Sedangkan menurut Nelson dan Quick (dalam Moeljono, 2003 : 22) , budaya organisasi berfungsi sebagai alat untuk:
a         Memberikan “sense of identity” kepada para anggota organisasi untuk memahami visi dan misi organisasi serta menjadi bagian integral dari organisasi.
b        Menghasilkan dan meningkatkan komitmen terhadap misi organisasi.
c         Memberikan  arah  dan  memperkuat  standar  perilaku  untuk  mengendalikan perilaku organisasi agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang telah disepakati bersama.
d        Membantu dalam mendesain sistem pengendalian manajemen organisasi yaitu sebagai alat untuk menciptakan komitmen agar para manajer dan pegawai mau melaksanakan strategic planning, programming, budgeting, controlling dan monitoring serta evaluating.
e         Membantu  dalam  penyusunan  skema  sistem  kompensasi  manajemen  untuk eksekutif dan pegawai.
Budaya organisasi berfungsi sebagai “ruhnya” organisasi karena disana bersemayam filosofi, misi dan visi organisasi yang jika diinternalisasikan oleh semua anggota organisasi akan menjadi kekuatan bagi organisasi tersebut untuk bersaing atau berkompetisi.
Fungsi Budaya Organisasi
Stephen  P.  Robbins  (2001)  membagi  lima  fungsi  budaya  organisasi  sebagai berikut :
a.    Berperan menetapkan batasan berperilaku.
Budaya organisasi berperan dalam menentukan perilaku yang seyogyanya ditampilkan dan perilaku yang harus dielakkan.
b.    Mengantarkan suatu perasaan identitas bagi anggota organisasi.
Budaya organisasi menuntut agar para anggotanya merasa bangga mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi.
c.    Mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas daripada kepentingan individual.
Hal ini merupakan bagian dari komitmen kolektif dari pegawai. Para pegawai mempunyai rasa memiliki, partisipasi dan rasa tanggungjawab atas kemajuan perusahaannya.
d.   Meningkatkan stabilitas sistem sosial karena merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi.
Hal ini tergambarkan dimana lingkungan kerja dirasakan positif, mendukung dan konflik serta perubahan diatur secara efektif.
e. Sebagai  mekanisme  kontrol  dan  menjadi  rasional  yang  memandu  dan membentuk sikap serta perilaku para pegawai.
Kreitner dan Kinichi (1995) menyatakan bahwa budaya organisasi berperan sebagai  perekat  social (social  glue) yang  mengikat  semua  anggota  organisasi  secara bersama-sama  yang  membantu  mempersatukan  organisasi  itu  dengan  memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para pegawai. Akhirnya budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para pegawai.
Ada beberapa unsur yang berpengaruh terhadap pembentukan budaya organisasi. Atmosoeprapto (2001:16) membagi lima unsur pembentuk budaya sebagai berikut :
a.    Lingkungan usaha yaitu lingkungan dimana organisasi itu beroperasi akan menentukan  apa  yang  harus  dikerjakan  oleh  organisasi  tersebut  untuk mencapai keberhasilan.
b.    Nilai-nilai (values) merupakan konsep dasar atau keyakinan dasar yang dianut oleh sebuah organisasi.
c. Panutan/keteladanan yaitu orang-orang yang menjadi panutan atau teladan pegawai lainnya karena keberhasilannya.
d. Upacara-upacara  (rites  and  ritual)  yaitu  acara-acara  rutin  yang diselenggarakan oleh organisasi dalam rangka memberikan penghargaan pada pegawainya.
e. Jaringan  budaya  yaitu  jaringan  komunikasi  informal  yang  dapat  menjadi sarana penyebaran nilai-nilai dan budaya organisasi.
Dalam  upaya  pembentukan  budaya  organisasi,  dilakukan  proses  penyesuaian yang dikenal dengan sosialisasi, yaitu proses yang mengadaptasi para pegawai pada budaya organisasi (Goldar dan Barnet dalam Moeljono, 2003 : 23). Proses sosialisasi dapat dikonsepkan sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga tahap, antara lain pra- kedatangan, perjumpaan, dan metamorfosis.


BAB 3
PEMBAHASAN

Perilaku manusia adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya. Sebagai gambaran dari pemahaman ungkapan ini, misalnya : seseorang tukang parkir yang melayani memparkir mobil, seorang tukang pos yang menyampaikan surat-surat ke alamat yang dituju. Mereka semuanya akan berprilaku berbeda satu sama lainnya, dan prilakunya adalah ditentukan oleh masing-masing lingkungannya yang memang berbeda.
Keorganisasian pun dalam urusan dan keanggotaannya seara terstruktur pun berbeda, didalam konteks berorganisasi memiliki fungsi dan tujuan yang akan dicapai. Dalam pengembangannya pula terdapat segala macam, mulai dari pengembangan secara bersifat personal dan loyalitas kepada organisasi tersebut. seorang individu pun perlu menguatkan suatu potensi diri dalam memapankan kinerja, mengolah suatu konsep teori yang dia dapat dari perkuliahan. Implementasi secara nyata yang akan dikembangkan pula dalam suatu organisasi yang ada diluar kampus dengan masuk kedalam HMI ini. Pengkaderan yang digunakan haruslah secara ketat guna memperoleh suatu potensi individu yang mumpuni supaya bisa loyal dan komitmen dalam organisasi tersebut.
Dalam pengmbangannya terkadang setiap organisasi mengalami kesulitan yang terjadi, baik setingkat kecil dan setingkat organisasi besar. didalam contoh kecil pembudayaan ini menjadi membudaya dari kecil ke besar. apabila setiap individu tidak dapat merubah sikap dalam pengembangan dirinya maka organisasi pun tidak akan berkembang dengan pesat. Kesulitan tersebut diantaran adalah interdisipliner setiap kader yang ada, peranan pemimpin yang kurang memotivasi kader, prilaku individu terhadap organisasi, dan persepsi dan komunikasi yang terjadi dalam organisasi HMI.
A.    Interdisipliner Setiap Kader HMI
Penerapan suatu kedisiplinan tidaklah hanya terikat dalam suatu rule of law yang ada, tetapi bagaimana kita paham dan mengerti tentang arti dari disiplin itu sendiri.seorang individu dengan lingkungannya menentukan prilaku keduanya secara langsung. Dalam pergeran dan prilaku yang terjadi rata-rata pada umunya pera anggota dalam organisasi HMI menganggap itu hanya mainan belaka dengan ketidak serius yang ada dalam diri setiap kader HMI.
Individu membawa ke dalam tatanan organisasi kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan kebutuhan, dan pengalaman masa lalunya. Semua itu merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap kader organisasi HMI di komisariat FIA universitas brawijaya guna membentuk interdisipliner yang baik agar pengembangan potensi organisasi HMI menjadi bermutu dan bagus dalam pengkaderan dan pendidikan tri darma perguruan tinggi di universitas brawijaya. Organisasi yang juga merupakan suatu lingkungan bagi individu mempunyai karakteristik pula, karakter tersebut dimiliki organisasi anataranya keteraturan yang diwujudkan dalam sruktur heararki, tanggung jawab, tugas-tugas, wewenang, dan sistem pendampingan bagi setiap anggota baru. Apabila karakteritik individu berinteraksi dengan karakteristik organisasi maka akan terwujudnya perilaku individu dalam organisasi.
Setiap anggota dalam mewujudkan suatu kediplinan dalam berorganisasi haruslah menjadi peka, dan mampu membangun karakteristik yang telah membudaya secara positif yang telah dimiliki oleh organisasi tersebut dengan menuangkannya ke dalam visi dan misi organisasi. Pada kader HMI seharusnya mengerti bagaimana membangun interdispliner yang baik, guna menciptakan organisasi HMI menjadi lebih baik lagi baik dari segi peng-kaderan, pengembangan kader, perpolitik strategi, kematangan ilmu dan menciptakan kader yang kompeten dalam persaingan. Itu semua memiliki sifat-sifat khusus atau kharekteristik tersendiri dan jika ke lima spek tersebut saling berinteraksi dalam diri setiap individu makan akan menimbulkan suatu perilaku individu dalam organisasi.

Karakteristik Individu

Perilaku Individu dalam Oranisasi

Heararki Tugas wewenang Tanggung jawab sistem kontrol dan lainnya

Karakteristik Organisasi

Kemampuan kebutuhan kepercayaan pengalaman pengharapanDan lainnya
 











Gambar : model umum perilaku organisasi

Pembentukan interdispliner dalam pengembangan kaderisasi dalam Hmi haruslah memiliki 5 aspek yang dapat dikatagorikan itu telah disiplin yakni, 1) komitmen, 2) kompeten, 3) konsisten, 4) loyalitas, dan 5) inovatif. Ke lima hal tersebut haruslah lebih di tingkatkan oleh setiap organisasi yang ada khususnya organisasi ekstra kampus HMI. Menumbuhkan kedisiplan dari pencarian kader dan pengembangan kaderisasi guna menjadikan organisasi HMI menjadi lebih maju secara pesat dalam pencarian kader sehingga dapat mengharumkan nama organisasi HMI komisarita FIA univrsitas brawijaya.
Peningkatan dalam interdisipliner yang seharusnya dilakukan oleh organisasi pergerakan HMI FIA UB haruslah bersifat stimulan, yang artinya mempertimbangkan pola sistem administratif yang baik dan harus dikembangakan lebih baik agar hal tersebut membuat perilaku anggota kader organisasi pergerakan HMI FIA UB menjadi lancar. Adapun bidang administratif tersebut antara lain :
a.       Menyelenggarakan penataran/pelatihan administrasi HMI FIA UB oleh setiap jenjang kesatuan pimpinan dan aktivitas HMI FIA UB terhadap kegiatan administrasi secara tepat dan proposional untik mendukung gerak dinamika organisasi.
b.      Meningkatkan tertib organisasi bagi anggota dan pimpinan ikatan dengan menertibkan dan memasyarakatan pemilikan KTA, sesuai dengan pedoman adminsitrasi HMI FIA UB.
c.       Menertibkan pendataan dan pengarsipan surat-surat organsasi dan konsep-konsep yang telah dihasilkan, serta penertiban dan pemeliharaan barang-barang inventaris dan dokumen organsasi.
d.      Meningkatkan pendataan anggota, pimpinan dan alumni diseluruh tingkat secara lengkap untuk memudahkan pemetaan potensi dan pemenuhan kebutuhan administrasi keanggotaan.
e.       Pembentukan lembaga khusus yang diperankan untuk melakukaan penataan dan penertiban dokumen pimpinan serta pengelolaan pusat informasi dan komunikasi organisasi sebagai langkah realistis guna membentuk jaringan system informasi organisasi.
f.       Memasyarakatkan atribut dan pakaian seragam HMI FIA UBawati, jas resmi HMI FIA UB, batik HMI FIA UB, setiap acara resmi.
Pengembangan etika dalam kedispilnan juga menjadi aspek penting dalam mendukung pengembangan organisasi dari segi etika keorganisasian. Mempelajari etika berarti memehamai sifat dasar dari setiap tindakan manusia, pertentangan moral yang ada di batinnya, pertimbangan moral yang mendasari, kesadaran moral yang menuntun perilakunya, kewajiban-kewajiban moral mereka sebagai makhluk sempurna, dan juga kelakuan moral yang nampak dalam kehidupannya.

B.     Motivasi Pengembangan
Motivasi merupakan suatu proses prikologi dari pola tingkah laku manusia. Motivasi adalah unsur yang paling sangat berperan dalam proses pengembangan ke organisasian. Dalam memulai kinerja dan tugas yang ada, peran motivasi dalam membangun hal tersbut harus bisa mendorong setiap anggota organisasi menjadi semangat dalam bertugas menjalankan kinerjanya. Motivasi umumnya digunakan untuk menciptakan suatu kinerja yang maksimal dalam mendorong proses kerja setiap individu yang ada.
Dalam penggambaran pembelajaran kasus yang dialami dari prilaku tindakan kader HMI yang terkadang tidak merata dari segi tugas dan wewenang heararki yang ada mnyimpulkan kurangnya peran motivasi dalam internal organisasi HMI komisarita FIA dalam mendorong setiap kader yang dimiliknya. Dalam mendorong prospek yang baik dalam pengembangannya suatu ke organisasi HMI haruslah memiliki kekuatan kebutuhan yang cenderung menjadi naik selama setiap anggota dalam aktivitas kegiatan terarah secara benara dan baik. Akan tetapi, jika sekali aktivitas tujuan memulai, maka kekuatan kebutuhan cenderung untuk menurun selama anggota dalam HMI terikat pada dorongan tersebut.
Suatu kebutuhan ketika sudah terpenuhi akan berubah kekuatannya, dan perilaku seseorang akan berubah dalam menentukan suatu pilihan yang dibutuhkannya dan kebutuhan yang akan datang. Hubungan antara motivasi, tujuan, dan aktivitas salaing mempengaruhi satu sama lain. Motivasi akan mendorong suatu tujuan dari setiap kader HMI yang ingin berkembang, sehingga motivasi dan tujuan akan menciptakan suatu pola prilaku yang disiplin dalam melaksanakan tugas. Terciptanya pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki aktivitas dan kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan misi yang ada dalam HMI komisariat FIA.
Talcott Parsons berhasil mengurai lebih lanjut konsep rational barat (yang berisi system of values) pada dua tingkat yaitu tataran individu (The structure of social Action) dan tataran kelembagaan. Dalam teori ini, Parsons mengemukakan tentang konsep teori fungsional. struktural yang mencakup beberapa elemen pokok , yaitu :
a         Aktor sebagai individu.
b        Aktor memiliki tujuan yang ingin dicapai
c         Aktor memiliki berbagai cara-cara yang mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang ingin diinginkan tersebut.
d        Aktor dihadapkan pada berbagai kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi pemilihan cara-cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
e         Aktor dikomando oleh nilai-nilai, norma-norma dan ide-ide dalam menentukan tujuan yang diinginkan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
f         Perilaku, termasuk bagaimana aktor mengambil keputusan tentang cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan, dipengaruhi oleh ide-ide dan situasi kondisi yang ada.
Pengembangan suatu motivasi dalam membentuk suatu dorongan dalam keanggotaan setiap pengurus kader HMI yang ada di Komisariat FIA menyebabkan suatu tindakan positif semisalnya, terkait tentang sistem pengkaderan, program kerja pengembangan ilmu pengetahuan dan kewirausahaan, dan pengkajian pengembangan seni dan budaya yang ada dimasyarakat secara umum. Adapaun aspek tersebut yakni :
Aspek Kaderisasi anggota :
a         Menyelenggarakan pengkaderan di berbagai jenjang melalui berbagai strategi kaderisasi.
b        Mengadakan lokakarya, diskusi dan kajian tentang mekanisme penyelenggaraan pengkaderan yang efektif dan efesien dalam rangka mengantisipasi masalah penyelenggaraan pengkaderan.
c         Mengadakan studi pengkaderan yang mengarah pada pengayaan muatan dan simulasi pengelolaan pengkaderan.
d        Melakukan pengembangan sistem seleksi pimpinan yang berjangka panjang yang memungkinkan terciptanya system rekrutmen yang bertanggung jawab.
e         Melakukan koordinasi dengan Koordinator Komisariat HMI universitas Brawijaya, dalam rrangka transformasi kader perserikatan secara simultan mengarah pada strategi investasi SDM jangka panjang.
Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan
a.       Mematangkan dan mensosialisasikan konsep pelatihan metodologi penelitian secara umum berjenjang sehingga mampu meningkat kemampuan anggota dalam berkarya ilmuah.
b.      Merintis dan mengembangkan perpustakaan bagi pimpinan dan anggota HMI serta mengembangkan kajian keilmuan yang dimulai dari pimpinan Komisariat sampai minimal pimpinan cabang, dalam rangka peningkatan pengetahuan dan membudayakan membaca di lingkungan anggota.
c.       Mengembangkan kelompok kajian/diskusi dalam segala aspek terutama mulai dilakukan kajian IPTEK yang berwawasan ke-Islaman sehingga mampu menciptakan pimpinan yang berwawasan IPTEK yang baik juga berwawasan Islam yang unggul.
d.      Mengadakan lomba seperti debat ilmiah, karya tulis ilmiah, resensi buku, olimpiade matematika , fisika, dan bidang studi lainnya yang bersifat untuk umumnya.
e.       Pembentukan dan pembinaan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) sebagai wadah kegiatan bagi anggota secara luas dalam rangka berkarya ilmiah.
f.       Mengembangkan pembinaan dan bimbingan belajar bagi pelajar untuk meningkat prestasi studi.
g.      Menggiatkan penongkatan kemampuan berbahasa asing (terutama bahasa Arab dan Inggris) melalui kegiatan yang representative dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di persyarikatan.
h.      Mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi yang bergerak di bidang pengkajian IPTEK dalam rangka pelaksanaan program.
Bidang Pengembangan Ketrampilan dan Wira Usaha
a.       Bekerja sama dengan pihak sekolah untuk ikut terlibat dalam pembinaan ekstra kurikuler yang sesuai dengan misi bidang seperti jurnalistik, PMR, koperasi, dsb.
b.      Melaksanakan pembinaan ketrampilan praktis yang mampu menunjang kemandirian remaja atau pelajar melalui kursus atau pelatihan. Pada tahap selanjutnya dibentuk kelompok-kelompok mandiri yang dibina  secara berkelanjutan.
c.       Mengintensifkan program motivasi bagi kemandirian remaja atau pelajar di ranting dan cabang seperti pelatihan dasar kewirausahaan, pelatihan motivasi bisnis, pendidikan dasar perkoperasian.
d.      Menjalin kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya meningkatkan kemampuan remaja atau pelajar dalam bidang ketrampilan dan kewirausahaan.
Bidang Pengkajian dan Pengembangan Seni Budaya
a.       Meningkatkan apresiasi tentang seni budaya melalui kegiatan seperti pameran, dialog dan festival budaya.
b.      Mengadakan pendidikan wawasan seni  budaya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang seni budaya sesuai dengan ajaran Islam.
c.       Pembentukan dan pembinaan kelompok minat dan bakat untuk menampung dan menyalurkan minat dan bakat anggota di bidang seni budaya.
d.      Meningkatkan prestasi anggota yang berpotensi melalui pameran, pertunjukan, festival serta perlombaan dan pertandingan yang dapat memacu semangat berkompetisi secara sehat.
e.       Menyempurnakan dan mensosialisasikan konsep pengembangan seno budaya di kalangan remaja sebagai arah dalam pembinaan di bidang seni.
f.       Mengkaji dan mengembangkan bentuk deni dan budaya yang Islami yang akan memudahkan dan menggembirakan remaja untuk berperilaku Islami melalui aktifitas seni budaya.
g.      Bekerja sama dengan instansi dan lembaga terkait untuk melakukan pembinaan dan pengembangan bagi aktifitas olahraga, seni budaya remaja.













Bab 4
Penutup
4.1  Kesimpulan
Keorganisasian pun dalam urusan dan keanggotaannya seara terstruktur pun berbeda, didalam konteks berorganisasi memiliki fungsi dan tujuan yang akan dicapai. Dalam pengembangannya pula terdapat segala macam, mulai dari pengembangan secara bersifat personal dan loyalitas kepada organisasi tersebut. Kesulitan tersebut diantaran adalah interdisipliner setiap kader yang ada, peranan pemimpin yang kurang memotivasi kader, prilaku individu terhadap organisasi, dan persepsi dan komunikasi yang terjadi dalam organisasi HMI. Dalam pengmbangannya terkadang setiap organisasi mengalami kesulitan yang terjadi, baik setingkat kecil dan setingkat organisasi besar. didalam contoh kecil pembudayaan ini menjadi membudaya dari kecil ke besar.
A.    Interdisipliner Setiap Kader HMI
Penerapan suatu kedisiplinan tidaklah hanya terikat dalam suatu rule of law yang ada, tetapi bagaimana kita paham dan mengerti tentang arti dari disiplin itu sendiri.seorang individu dengan lingkungannya menentukan prilaku keduanya secara langsung. Dalam pergeran dan prilaku yang terjadi rata-rata pada umunya pera anggota dalam organisasi HMI menganggap itu hanya mainan belaka dengan ketidak serius yang ada dalam diri setiap kader HMI.
Semua itu merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap kader organisasi HMI di komisariat FIA universitas brawijaya guna membentuk interdisipliner yang baik agar pengembangan potensi organisasi HMI menjadi bermutu dan bagus dalam pengkaderan dan pendidikan tri darma perguruan tinggi di universitas brawijaya. Organisasi yang juga merupakan suatu lingkungan bagi individu mempunyai karakteristik pula, karakter tersebut dimiliki organisasi anataranya keteraturan yang diwujudkan dalam sruktur heararki, tanggung jawab, tugas-tugas, wewenang, dan sistem pendampingan bagi setiap anggota baru. Apabila karakteritik individu berinteraksi dengan karakteristik organisasi maka akan terwujudnya perilaku individu dalam organisasi. Pada kader HMI seharusnya mengerti bagaimana membangun interdispliner yang baik, guna menciptakan organisasi HMI menjadi lebih baik lagi baik dari segi peng-kaderan, pengembangan kader, perpolitik strategi, kematangan ilmu dan menciptakan kader yang kompeten dalam persaingan. Itu semua memiliki sifat-sifat khusus atau kharekteristik tersendiri dan jika ke lima spek tersebut saling berinteraksi dalam diri setiap individu makan akan menimbulkan suatu perilaku individu dalam organisasi.
Peningkatan dalam interdisipliner yang seharusnya dilakukan oleh organisasi pergerakan HMI FIA UB haruslah bersifat stimulan, yang artinya mempertimbangkan pola sistem administratif yang baik dan harus dikembangakan lebih baik agar hal tersebut membuat perilaku anggota kader organisasi pergerakan HMI FIA UB menjadi lancar. Adapun bidang administratif tersebut antara lain :
a.       Menyelenggarakan penataran/pelatihan administrasi HMI FIA UB
b.      Meningkatkan tertib organisasi bagi anggota dan pimpinan ikatan
c.       Menertibkan pendataan dan pengarsipan surat-surat organsasi dan konsep-konsep yang telah dihasilkan,
d.      Meningkatkan pendataan anggota, pimpinan dan alumni diseluruh tingkat secara lengkap untuk memudahkan pemetaan potensi
e.       Pembentukan lembaga khusus yang diperankan untuk melakukaan penataan dan penertiban dokumen pimpinan
f.       Memasyarakatkan atribut dan pakaian seragam HMI FIA UBawati, jas resmi HMI FIA UB, batik HMI FIA UB, setiap acara resmi.
Pengembangan etika dalam kedispilnan juga menjadi aspek penting dalam mendukung pengembangan organisasi dari segi etika keorganisasian.
B.     Motivasi Pengembangan
Motivasi merupakan suatu proses prikologi dari pola tingkah laku manusia. Motivasi adalah unsur yang paling sangat berperan dalam proses pengembangan ke organisasian. Dalam penggambaran pembelajaran kasus yang dialami dari prilaku tindakan kader HMI yang terkadang tidak merata dari segi tugas dan wewenang heararki yang ada mnyimpulkan kurangnya peran motivasi dalam internal organisasi HMI komisarita FIA dalam mendorong setiap kader yang dimiliknya. Terciptanya pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki aktivitas dan kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan misi yang ada dalam HMI komisariat FIA.
Suatu kebutuhan ketika sudah terpenuhi akan berubah kekuatannya, dan perilaku seseorang akan berubah dalam menentukan suatu pilihan yang dibutuhkannya dan kebutuhan yang akan datang. Dalam memulai kinerja dan tugas yang ada, peran motivasi dalam membangun hal tersbut harus bisa mendorong setiap anggota organisasi menjadi semangat dalam bertugas menjalankan kinerjanya. Akan tetapi, jika sekali aktivitas tujuan memulai, maka kekuatan kebutuhan cenderung untuk menurun selama anggota dalam HMI terikat pada dorongan tersebut. Terciptanya pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki aktivitas dan kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan misi yang ada dalam HMI komisariat FIA. Aspek Pendorong ini akan dirasi dari beberapa aspek, takni : 1) Aspek Kaderisasi anggota, 2) Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan, 3) Bidang Pengembangan Ketrampilan dan Wira Usaha, dan 4) Bidang Pengkajian dan Pengembangan Seni Budaya

4.2  Saran
1)      Perlu adanya pematangan skill yang mumpuni guna menunjang pola prilaku setiap kader
2)      Adanya program yang menekan pada aktualisasi diri untuk menjadikan dan menumbuhkan sikap disiplin dalam budaya berorganisasi
3)      Pengembangan organisasi yang dilakukan harus berkelanjutan dan sistematis dari setiap angkatan yang ada









Daftar Pustaka
Jurnal, 2001, Pengembangan Potensi Pergerakan Organisasi Hmi
Kumorotomo, Wahyudi, 2002, Etika Administrasi Negara, Jakarta : Pt Rajagrafindo Persada.
Thoha, Miftah, 2011, Perilaku Organisasi : Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Jakarta : Pt Rajagrafindo Persada
Zubair, Achmad Kharis, Pengantar Kuliah Etika, Tiara Wacana
Alatas, Syed Hussein, 1987, Korupsi : Sifat, Sebab Dan Fungsi, Lp3es


No comments: