BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bidang
pengetahuan terkait pengembangan organisasi nampaknya kian hari kian pesat
perkembangannya. Pusat pembelajaran dan studi di berbagai perguruan tinggi
dalam bertugas membina pengetahuan organisasi dalam pengembangannya.
Pembelajaran pengembangan organisasi ini sangatlah unik untuk di pelajari
dimulai dari kita pertama kali menjejakan kaki dikeluarga kita sendiri hingga
kita masuk dalam organisasi kerja. Dalam perkulihan yang didapat hanya sekedar
suatu ide-ide gagasan mengenai teori pengembangan birokrasi namun bagaimana
implementasinya ? penerapan organisasi dalam dunia perkuliahan itu sendiri
dilakukan di dalam dan diluar kampus. Organisasi didalam kampus menyangkut
suatu tindakan formal dalam pengembangan sikap kita dalam membangun prilaku
kita dalam organisasi seperti contohnya BEM/EM (Badan Eksekutif
Mahasiswa/Eksekutif Mahasiswa) dan kegiatan LOF (lembaga Otonomi fakulta) dan
juga UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Sedangkan organisasi diluar kampus mengidentifikasi
kita bagaimana menyikapi suatu permasalahan langsung dengan menggunakan prilaku
sosial kita dalam masyarakat sebagai bentuk tri dharma perguruan tinggi yang
telah tertera, contoh organisasi luar kampus yaitu, HMI, PMII, dan GMNI.
Penempatan kembali
manusia sebagai salah satu unsur yang amat penting dalam organisasi adalah
suatu orientasi dasar dai ilmu prilaku dan pengembangan organisasi. Ini berarti
konflik dalam suatu birokrasi ataupun didalam organisasi hendaknya senantiasa
sadar bahwa di antara tiga dimensi pokok yakni philosopi, spirit, dan appetite
dalam organisasi tidaklah bisa memberikan suatu penekanan kepada dimensi yang
lain sehingga menelantarkan dimensi manusia. Jika suatu organisasi hanya
menekankan pada dimensi teknis dan dimensi konsep, dan tidak mengindahkan
dimensi manusia sebagai dimensi ketiga maka akan menimbulkan iklim pengembangan
yang kurang sehat, dan tidak respektif terhadap faktor pendukung utama dari
organisasi yakni manusia.
Konsep-konsep
seperti itulah yang hingga saat ini digunakan dalam setiap organisasi yang ada.
Max weber seorang pemikir dalam ilmu sosial yang lebih bertumpu pada
orientasinya menjelakan mengenai organisasi dibanding pengembangan suatu
prinsip yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan praktis. Weber menggolongkan
dua aspek dari hasil kerjanya yakni : pertama,
weber menjelaskan preskripsinya terkait suatu organasasi dari pertumbuhan
organisasi besar. kedua, weber
terkesan akan kelemahan-kelemahan yang dimiliki manusia dengan pertimbangan
yang kadang-kadang tidak realitas dan bahwa manusia mempunyai rasa emosional.
Sedangkan
gagasan Henry Fayol dalam bukunya General and Industrial Administration lebih
bersifat kepada organisasi-administratif, dengan membaginya kedalam 5
sub-sistem yang ada, yakni (1) aspek teknik dan komersial, (2) kegiatan
keuangan, (3) Unit keamanan dan perlindungan, (4) fungsi perhitungan, dan (5) fungsi
administrasi dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, dan
pengendalian.
Himpunan
Mahasiswa Islam Komisariat FIA UB merupakan salah satu organisasi yang
beraktifitas di FIA UB. Dalam kaitannya dengan gerakan mahasiswa, maka dapat
dikatakan HMI Komisariat FIA UB merupakan organisasi gerakan mahasiswa. Hal
tersebut dapat dilihat dari aktifitas-aktifitas organisasi yang berperan aktif
dalam mendukung gerakan mahasiswa. Namun secara nyata kekuatan konflik di
interanal HMI FIA UB masih kurang. Penerapan interdisipliner pada setiap
anggota Kader pergerakan HMI FIA UB masihlah belum bersifat loyalitas dan
ikhlas.
Topik dari
permasalahan yang dibuat kali ini mengenai pola prilaku dan pengembangan
interdisipliner dalam organisasi ekstra kampus yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa
Islam) komisariat FIA brawijaya, mengapa topik ini perlu diambil, karena
pengembangan awal mula sikap dan prilaku untuk memasuki dunia kerja dimulai
dari hal yang cukup kecil. Penerapan tindakan terkadang hanyak bersifat lisan
belaka tanpa adanya suatu tindakan yang nyata. Interdispliner yang ada dalam
pergerakan HMI ini msih kurang konsisten, komitmen, loyalitas, dan kompeten
dalam menyikapi permasalahan organisasi khususnya didalam internal organisasi
HMI sendiri. Paper ini menjelaskan permasalahan interdisipliner dalam internal
organisasi HMI dengan mengkajinya dari teori prilaku pengembangan organisasi agar
supaya gagasan dan ide keluar guna mengubah prilaku pengembangan organisasi HMI
kedepannya.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana
Prilaku pengembangan sikap keorganisasian dalam HMI ?
1.3 Tujuan
1. Menjelaskan
pola prilaku pengembangan organisasi ditingkat kecil didalam organisasi ekstra
kampu.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Budaya
yang kuat meletakkan kepercayaan-kepercayaan, tingkah laku dan cara melakukan
sesuatu tanpa perlu dipertanyakan lagi. Oleh karena berakar dalam tradisi,
budaya mencerminkan apa yang dilakukan dan bukan apa yang akan berlaku (Pastin
dalam Moeljono, 2003 : 22). Sedangkan menurut Nelson dan Quick (dalam Moeljono,
2003 : 22) , budaya organisasi berfungsi sebagai alat untuk:
a
Memberikan “sense of identity” kepada
para anggota organisasi untuk memahami visi dan misi organisasi serta menjadi
bagian integral dari organisasi.
b
Menghasilkan dan meningkatkan komitmen
terhadap misi organisasi.
c
Memberikan arah
dan memperkuat standar
perilaku untuk mengendalikan perilaku organisasi agar
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan dan sasaran organisasi yang telah disepakati bersama.
d
Membantu dalam mendesain sistem
pengendalian manajemen organisasi yaitu sebagai alat untuk menciptakan komitmen
agar para manajer dan pegawai mau melaksanakan strategic planning,
programming, budgeting, controlling dan monitoring serta evaluating.
e
Membantu
dalam penyusunan skema
sistem kompensasi manajemen
untuk eksekutif dan pegawai.
Budaya
organisasi berfungsi sebagai “ruhnya” organisasi karena disana bersemayam
filosofi, misi dan visi organisasi yang jika diinternalisasikan oleh semua
anggota organisasi akan menjadi kekuatan bagi organisasi tersebut untuk
bersaing atau berkompetisi.
Fungsi
Budaya Organisasi
Stephen P.
Robbins (2001) membagi
lima fungsi budaya
organisasi sebagai berikut :
a. Berperan
menetapkan batasan berperilaku.
Budaya
organisasi berperan dalam menentukan perilaku yang seyogyanya ditampilkan dan
perilaku yang harus dielakkan.
b. Mengantarkan
suatu perasaan identitas bagi anggota organisasi.
Budaya
organisasi menuntut agar para anggotanya merasa bangga mengidentifikasikan
dirinya dengan organisasi.
c. Mempermudah
timbulnya komitmen yang lebih luas daripada kepentingan individual.
Hal
ini merupakan bagian dari komitmen kolektif dari pegawai. Para pegawai
mempunyai rasa memiliki, partisipasi dan rasa tanggungjawab atas kemajuan
perusahaannya.
d. Meningkatkan
stabilitas sistem sosial karena merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi.
Hal
ini tergambarkan dimana lingkungan kerja dirasakan positif, mendukung dan
konflik serta perubahan diatur secara efektif.
e. Sebagai
mekanisme kontrol dan
menjadi rasional yang
memandu dan membentuk sikap serta
perilaku para pegawai.
Kreitner
dan Kinichi (1995) menyatakan bahwa budaya organisasi berperan sebagai perekat
social (social glue) yang mengikat
semua anggota organisasi
secara bersama-sama yang membantu
mempersatukan organisasi itu
dengan memberikan standar-standar
yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para pegawai.
Akhirnya budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol pembuat makna
dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para pegawai.
Ada beberapa unsur yang berpengaruh terhadap pembentukan
budaya organisasi. Atmosoeprapto
(2001:16) membagi lima
unsur pembentuk budaya sebagai
berikut :
a. Lingkungan usaha
yaitu lingkungan dimana organisasi itu beroperasi akan menentukan
apa
yang
harus
dikerjakan oleh organisasi tersebut untuk
mencapai keberhasilan.
b. Nilai-nilai (values) merupakan
konsep dasar atau keyakinan dasar yang dianut oleh sebuah organisasi.
c. Panutan/keteladanan yaitu orang-orang yang menjadi panutan
atau teladan pegawai lainnya
karena keberhasilannya.
d. Upacara-upacara
(rites
and
ritual)
yaitu
acara-acara
rutin yang diselenggarakan oleh organisasi
dalam rangka memberikan penghargaan pada pegawainya.
e. Jaringan budaya yaitu jaringan komunikasi informal
yang
dapat
menjadi
sarana penyebaran nilai-nilai dan budaya organisasi.
Dalam upaya
pembentukan
budaya
organisasi,
dilakukan
proses
penyesuaian
yang dikenal dengan sosialisasi, yaitu proses yang mengadaptasi para pegawai pada budaya organisasi (Goldar dan Barnet dalam
Moeljono, 2003 : 23). Proses sosialisasi dapat dikonsepkan sebagai
suatu proses yang terdiri dari tiga tahap, antara lain pra- kedatangan, perjumpaan, dan metamorfosis.
BAB 3
PEMBAHASAN
Perilaku
manusia adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara person atau individu
dengan lingkungannya. Sebagai gambaran dari pemahaman ungkapan ini, misalnya :
seseorang tukang parkir yang melayani memparkir mobil, seorang tukang pos yang
menyampaikan surat-surat ke alamat yang dituju. Mereka semuanya akan berprilaku
berbeda satu sama lainnya, dan prilakunya adalah ditentukan oleh masing-masing
lingkungannya yang memang berbeda.
Keorganisasian
pun dalam urusan dan keanggotaannya seara terstruktur pun berbeda, didalam
konteks berorganisasi memiliki fungsi dan tujuan yang akan dicapai. Dalam
pengembangannya pula terdapat segala macam, mulai dari pengembangan secara
bersifat personal dan loyalitas kepada organisasi tersebut. seorang individu
pun perlu menguatkan suatu potensi diri dalam memapankan kinerja, mengolah
suatu konsep teori yang dia dapat dari perkuliahan. Implementasi secara nyata
yang akan dikembangkan pula dalam suatu organisasi yang ada diluar kampus
dengan masuk kedalam HMI ini. Pengkaderan yang digunakan haruslah secara ketat
guna memperoleh suatu potensi individu yang mumpuni supaya bisa loyal dan
komitmen dalam organisasi tersebut.
Dalam
pengmbangannya terkadang setiap organisasi mengalami kesulitan yang terjadi,
baik setingkat kecil dan setingkat organisasi besar. didalam contoh kecil
pembudayaan ini menjadi membudaya dari kecil ke besar. apabila setiap individu
tidak dapat merubah sikap dalam pengembangan dirinya maka organisasi pun tidak
akan berkembang dengan pesat. Kesulitan tersebut diantaran adalah
interdisipliner setiap kader yang ada, peranan pemimpin yang kurang memotivasi
kader, prilaku individu terhadap organisasi, dan persepsi dan komunikasi yang
terjadi dalam organisasi HMI.
A.
Interdisipliner
Setiap Kader HMI
Penerapan
suatu kedisiplinan tidaklah hanya terikat dalam suatu rule of law yang ada, tetapi bagaimana kita paham dan mengerti
tentang arti dari disiplin itu sendiri.seorang individu dengan lingkungannya
menentukan prilaku keduanya secara langsung. Dalam pergeran dan prilaku yang
terjadi rata-rata pada umunya pera anggota dalam organisasi HMI menganggap itu
hanya mainan belaka dengan ketidak serius yang ada dalam diri setiap kader HMI.
Individu
membawa ke dalam tatanan organisasi kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan
kebutuhan, dan pengalaman masa lalunya. Semua itu merupakan karakteristik yang
harus dimiliki oleh setiap kader organisasi HMI di komisariat FIA universitas
brawijaya guna membentuk interdisipliner yang baik agar pengembangan potensi
organisasi HMI menjadi bermutu dan bagus dalam pengkaderan dan pendidikan tri darma
perguruan tinggi di universitas brawijaya. Organisasi yang juga merupakan suatu
lingkungan bagi individu mempunyai karakteristik pula, karakter tersebut
dimiliki organisasi anataranya keteraturan yang diwujudkan dalam sruktur
heararki, tanggung jawab, tugas-tugas, wewenang, dan sistem pendampingan bagi
setiap anggota baru. Apabila karakteritik individu berinteraksi dengan
karakteristik organisasi maka akan terwujudnya perilaku individu dalam
organisasi.
Setiap
anggota dalam mewujudkan suatu kediplinan dalam berorganisasi haruslah menjadi
peka, dan mampu membangun karakteristik yang telah membudaya secara positif
yang telah dimiliki oleh organisasi tersebut dengan menuangkannya ke dalam visi
dan misi organisasi. Pada kader HMI seharusnya mengerti bagaimana membangun
interdispliner yang baik, guna menciptakan organisasi HMI menjadi lebih baik
lagi baik dari segi peng-kaderan, pengembangan kader, perpolitik strategi,
kematangan ilmu dan menciptakan kader yang kompeten dalam persaingan. Itu semua
memiliki sifat-sifat khusus atau kharekteristik tersendiri dan jika ke lima
spek tersebut saling berinteraksi dalam diri setiap individu makan akan
menimbulkan suatu perilaku individu dalam organisasi.
|
Karakteristik Individu
|
|
Perilaku Individu
dalam Oranisasi
|
|
Heararki Tugas wewenang Tanggung
jawab sistem kontrol dan lainnya
|
|
Karakteristik Organisasi
|
|
Kemampuan kebutuhan kepercayaan
pengalaman pengharapanDan lainnya
|
Gambar
: model umum perilaku organisasi
Pembentukan
interdispliner dalam pengembangan kaderisasi dalam Hmi haruslah memiliki 5
aspek yang dapat dikatagorikan itu telah disiplin yakni, 1) komitmen, 2)
kompeten, 3) konsisten, 4) loyalitas, dan 5) inovatif. Ke lima hal tersebut
haruslah lebih di tingkatkan oleh setiap organisasi yang ada khususnya
organisasi ekstra kampus HMI. Menumbuhkan kedisiplan dari pencarian kader dan
pengembangan kaderisasi guna menjadikan organisasi HMI menjadi lebih maju
secara pesat dalam pencarian kader sehingga dapat mengharumkan nama organisasi
HMI komisarita FIA univrsitas brawijaya.
Peningkatan
dalam interdisipliner yang seharusnya dilakukan oleh organisasi pergerakan HMI
FIA UB haruslah bersifat stimulan, yang artinya mempertimbangkan pola sistem
administratif yang baik dan harus dikembangakan lebih baik agar hal tersebut
membuat perilaku anggota kader organisasi pergerakan HMI FIA UB menjadi lancar.
Adapun bidang administratif tersebut antara lain :
a. Menyelenggarakan penataran/pelatihan administrasi HMI FIA UB oleh
setiap jenjang kesatuan pimpinan dan aktivitas HMI FIA UB terhadap kegiatan
administrasi secara tepat dan proposional untik mendukung gerak dinamika
organisasi.
b. Meningkatkan tertib organisasi bagi anggota dan pimpinan ikatan
dengan menertibkan dan memasyarakatan pemilikan KTA, sesuai dengan pedoman
adminsitrasi HMI FIA UB.
c. Menertibkan pendataan dan pengarsipan surat-surat organsasi dan
konsep-konsep yang telah dihasilkan, serta penertiban dan pemeliharaan
barang-barang inventaris dan dokumen organsasi.
d. Meningkatkan pendataan anggota, pimpinan dan alumni diseluruh
tingkat secara lengkap untuk memudahkan pemetaan potensi dan pemenuhan
kebutuhan administrasi keanggotaan.
e. Pembentukan lembaga khusus yang diperankan untuk melakukaan
penataan dan penertiban dokumen pimpinan serta pengelolaan pusat informasi dan
komunikasi organisasi sebagai langkah realistis guna membentuk jaringan system
informasi organisasi.
f. Memasyarakatkan atribut dan pakaian seragam HMI FIA UBawati, jas
resmi HMI FIA UB, batik HMI FIA UB, setiap acara resmi.
Pengembangan
etika dalam kedispilnan juga menjadi aspek penting dalam mendukung pengembangan
organisasi dari segi etika keorganisasian. Mempelajari etika berarti memehamai
sifat dasar dari setiap tindakan manusia, pertentangan moral yang ada di
batinnya, pertimbangan moral yang mendasari, kesadaran moral yang menuntun
perilakunya, kewajiban-kewajiban moral mereka sebagai makhluk sempurna, dan
juga kelakuan moral yang nampak dalam kehidupannya.
B.
Motivasi
Pengembangan
Motivasi
merupakan suatu proses prikologi dari pola tingkah laku manusia. Motivasi
adalah unsur yang paling sangat berperan dalam proses pengembangan ke
organisasian. Dalam memulai kinerja dan tugas yang ada, peran motivasi dalam
membangun hal tersbut harus bisa mendorong setiap anggota organisasi menjadi semangat
dalam bertugas menjalankan kinerjanya. Motivasi umumnya digunakan untuk
menciptakan suatu kinerja yang maksimal dalam mendorong proses kerja setiap
individu yang ada.
Dalam
penggambaran pembelajaran kasus yang dialami dari prilaku tindakan kader HMI
yang terkadang tidak merata dari segi tugas dan wewenang heararki yang ada
mnyimpulkan kurangnya peran motivasi dalam internal organisasi HMI komisarita
FIA dalam mendorong setiap kader yang dimiliknya. Dalam mendorong prospek yang
baik dalam pengembangannya suatu ke organisasi HMI haruslah memiliki kekuatan
kebutuhan yang cenderung menjadi naik selama setiap anggota dalam aktivitas
kegiatan terarah secara benara dan baik. Akan tetapi, jika sekali aktivitas
tujuan memulai, maka kekuatan kebutuhan cenderung untuk menurun selama anggota
dalam HMI terikat pada dorongan tersebut.
Suatu
kebutuhan ketika sudah terpenuhi akan berubah kekuatannya, dan perilaku
seseorang akan berubah dalam menentukan suatu pilihan yang dibutuhkannya dan
kebutuhan yang akan datang. Hubungan antara motivasi, tujuan, dan aktivitas
salaing mempengaruhi satu sama lain. Motivasi akan mendorong suatu tujuan dari
setiap kader HMI yang ingin berkembang, sehingga motivasi dan tujuan akan
menciptakan suatu pola prilaku yang disiplin dalam melaksanakan tugas.
Terciptanya pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki
aktivitas dan kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan
misi yang ada dalam HMI komisariat FIA.
Talcott Parsons berhasil mengurai lebih lanjut konsep rational
barat (yang berisi system of values) pada dua tingkat yaitu tataran individu
(The structure of social Action) dan tataran kelembagaan. Dalam teori ini,
Parsons mengemukakan tentang konsep teori fungsional. struktural yang mencakup
beberapa elemen pokok , yaitu :
a
Aktor sebagai individu.
b
Aktor memiliki tujuan yang
ingin dicapai
c
Aktor memiliki berbagai cara-cara yang
mungkin dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang ingin diinginkan
tersebut.
d
Aktor dihadapkan pada
berbagai kondisi dan situasi yang dapat mempengaruhi pemilihan cara-cara yang
akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
e
Aktor dikomando oleh
nilai-nilai, norma-norma dan ide-ide dalam menentukan tujuan yang diinginkan
dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
f
Perilaku, termasuk bagaimana
aktor mengambil keputusan tentang cara-cara yang digunakan untuk mencapai
tujuan, dipengaruhi oleh ide-ide dan situasi kondisi yang ada.
Pengembangan suatu motivasi
dalam membentuk suatu dorongan dalam keanggotaan setiap pengurus kader HMI yang
ada di Komisariat FIA menyebabkan suatu tindakan positif semisalnya, terkait
tentang sistem pengkaderan, program kerja pengembangan ilmu pengetahuan dan
kewirausahaan, dan pengkajian pengembangan seni dan budaya yang ada dimasyarakat
secara umum. Adapaun aspek tersebut yakni :
Aspek
Kaderisasi anggota :
a
Menyelenggarakan pengkaderan
di berbagai jenjang melalui berbagai strategi kaderisasi.
b
Mengadakan lokakarya,
diskusi dan kajian tentang mekanisme penyelenggaraan pengkaderan yang efektif
dan efesien dalam rangka mengantisipasi masalah penyelenggaraan pengkaderan.
c
Mengadakan studi pengkaderan
yang mengarah pada pengayaan muatan dan simulasi pengelolaan pengkaderan.
d
Melakukan pengembangan
sistem seleksi pimpinan yang berjangka panjang yang memungkinkan terciptanya
system rekrutmen yang bertanggung jawab.
e
Melakukan koordinasi dengan Koordinator
Komisariat HMI universitas Brawijaya, dalam rrangka transformasi kader
perserikatan secara simultan mengarah pada strategi investasi SDM jangka
panjang.
Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan
a. Mematangkan dan mensosialisasikan konsep pelatihan metodologi
penelitian secara umum berjenjang sehingga mampu meningkat kemampuan anggota
dalam berkarya ilmuah.
b. Merintis dan mengembangkan perpustakaan bagi pimpinan dan anggota
HMI serta mengembangkan kajian keilmuan yang dimulai dari pimpinan Komisariat
sampai minimal pimpinan cabang, dalam rangka peningkatan pengetahuan dan
membudayakan membaca di lingkungan anggota.
c. Mengembangkan kelompok kajian/diskusi dalam segala aspek terutama
mulai dilakukan kajian IPTEK yang berwawasan ke-Islaman sehingga mampu
menciptakan pimpinan yang berwawasan IPTEK yang baik juga berwawasan Islam yang
unggul.
d. Mengadakan lomba seperti debat ilmiah, karya tulis ilmiah, resensi
buku, olimpiade matematika , fisika, dan bidang studi lainnya yang bersifat
untuk umumnya.
e. Pembentukan dan pembinaan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) sebagai
wadah kegiatan bagi anggota secara luas dalam rangka berkarya ilmiah.
f. Mengembangkan pembinaan dan bimbingan belajar bagi pelajar untuk
meningkat prestasi studi.
g. Menggiatkan penongkatan kemampuan berbahasa asing (terutama bahasa
Arab dan Inggris) melalui kegiatan yang representative dengan memanfaatkan
sumber daya yang ada di persyarikatan.
h. Mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi yang
bergerak di bidang pengkajian IPTEK dalam rangka pelaksanaan program.
Bidang
Pengembangan Ketrampilan dan Wira Usaha
a. Bekerja sama dengan pihak sekolah untuk ikut terlibat dalam
pembinaan ekstra kurikuler yang sesuai dengan misi bidang seperti jurnalistik,
PMR, koperasi, dsb.
b. Melaksanakan pembinaan ketrampilan praktis yang mampu menunjang kemandirian
remaja atau pelajar melalui kursus atau pelatihan. Pada tahap selanjutnya
dibentuk kelompok-kelompok mandiri yang dibina
secara berkelanjutan.
c. Mengintensifkan program motivasi bagi kemandirian remaja atau
pelajar di ranting dan cabang seperti pelatihan dasar kewirausahaan, pelatihan
motivasi bisnis, pendidikan dasar perkoperasian.
d. Menjalin kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya
meningkatkan kemampuan remaja atau pelajar dalam bidang ketrampilan dan
kewirausahaan.
Bidang Pengkajian dan Pengembangan Seni Budaya
a. Meningkatkan apresiasi tentang seni budaya melalui kegiatan
seperti pameran, dialog dan festival budaya.
b. Mengadakan pendidikan wawasan seni
budaya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang
seni budaya sesuai dengan ajaran Islam.
c. Pembentukan dan pembinaan kelompok minat dan bakat untuk menampung
dan menyalurkan minat dan bakat anggota di bidang seni budaya.
d. Meningkatkan prestasi anggota yang berpotensi melalui pameran,
pertunjukan, festival serta perlombaan dan pertandingan yang dapat memacu
semangat berkompetisi secara sehat.
e. Menyempurnakan dan mensosialisasikan konsep pengembangan seno
budaya di kalangan remaja sebagai arah dalam pembinaan di bidang seni.
f. Mengkaji dan mengembangkan bentuk deni dan budaya yang Islami yang
akan memudahkan dan menggembirakan remaja untuk berperilaku Islami melalui
aktifitas seni budaya.
g. Bekerja sama dengan instansi dan lembaga terkait untuk melakukan
pembinaan dan pengembangan bagi aktifitas olahraga, seni budaya remaja.
Bab
4
Penutup
4.1 Kesimpulan
Keorganisasian
pun dalam urusan dan keanggotaannya seara terstruktur pun berbeda, didalam
konteks berorganisasi memiliki fungsi dan tujuan yang akan dicapai. Dalam
pengembangannya pula terdapat segala macam, mulai dari pengembangan secara
bersifat personal dan loyalitas kepada organisasi tersebut. Kesulitan tersebut
diantaran adalah interdisipliner setiap kader yang ada, peranan pemimpin yang
kurang memotivasi kader, prilaku individu terhadap organisasi, dan persepsi dan
komunikasi yang terjadi dalam organisasi HMI. Dalam pengmbangannya terkadang
setiap organisasi mengalami kesulitan yang terjadi, baik setingkat kecil dan
setingkat organisasi besar. didalam contoh kecil pembudayaan ini menjadi
membudaya dari kecil ke besar.
A.
Interdisipliner
Setiap Kader HMI
Penerapan suatu
kedisiplinan tidaklah hanya terikat dalam suatu rule of law yang ada, tetapi bagaimana kita paham dan mengerti
tentang arti dari disiplin itu sendiri.seorang individu dengan lingkungannya
menentukan prilaku keduanya secara langsung. Dalam pergeran dan prilaku yang
terjadi rata-rata pada umunya pera anggota dalam organisasi HMI menganggap itu
hanya mainan belaka dengan ketidak serius yang ada dalam diri setiap kader HMI.
Semua itu
merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh setiap kader organisasi HMI di
komisariat FIA universitas brawijaya guna membentuk interdisipliner yang baik
agar pengembangan potensi organisasi HMI menjadi bermutu dan bagus dalam
pengkaderan dan pendidikan tri darma perguruan tinggi di universitas brawijaya.
Organisasi yang juga merupakan suatu lingkungan bagi individu mempunyai karakteristik
pula, karakter tersebut dimiliki organisasi anataranya keteraturan yang
diwujudkan dalam sruktur heararki, tanggung jawab, tugas-tugas, wewenang, dan
sistem pendampingan bagi setiap anggota baru. Apabila karakteritik individu
berinteraksi dengan karakteristik organisasi maka akan terwujudnya perilaku
individu dalam organisasi. Pada kader HMI seharusnya mengerti bagaimana
membangun interdispliner yang baik, guna menciptakan organisasi HMI menjadi
lebih baik lagi baik dari segi peng-kaderan, pengembangan kader, perpolitik
strategi, kematangan ilmu dan menciptakan kader yang kompeten dalam persaingan.
Itu semua memiliki sifat-sifat khusus atau kharekteristik tersendiri dan jika
ke lima spek tersebut saling berinteraksi dalam diri setiap individu makan akan
menimbulkan suatu perilaku individu dalam organisasi.
Peningkatan
dalam interdisipliner yang seharusnya dilakukan oleh organisasi pergerakan HMI
FIA UB haruslah bersifat stimulan, yang artinya mempertimbangkan pola sistem
administratif yang baik dan harus dikembangakan lebih baik agar hal tersebut
membuat perilaku anggota kader organisasi pergerakan HMI FIA UB menjadi lancar.
Adapun bidang administratif tersebut antara lain :
a. Menyelenggarakan penataran/pelatihan administrasi HMI FIA UB
b. Meningkatkan tertib organisasi bagi anggota dan pimpinan ikatan
c. Menertibkan pendataan dan pengarsipan surat-surat organsasi dan
konsep-konsep yang telah dihasilkan,
d. Meningkatkan pendataan anggota, pimpinan dan alumni diseluruh
tingkat secara lengkap untuk memudahkan pemetaan potensi
e. Pembentukan lembaga khusus yang diperankan untuk melakukaan
penataan dan penertiban dokumen pimpinan
f. Memasyarakatkan atribut dan pakaian seragam HMI FIA UBawati, jas
resmi HMI FIA UB, batik HMI FIA UB, setiap acara resmi.
Pengembangan etika dalam
kedispilnan juga menjadi aspek penting dalam mendukung pengembangan organisasi
dari segi etika keorganisasian.
B.
Motivasi
Pengembangan
Motivasi
merupakan suatu proses prikologi dari pola tingkah laku manusia. Motivasi
adalah unsur yang paling sangat berperan dalam proses pengembangan ke
organisasian. Dalam penggambaran pembelajaran kasus yang dialami dari prilaku
tindakan kader HMI yang terkadang tidak merata dari segi tugas dan wewenang
heararki yang ada mnyimpulkan kurangnya peran motivasi dalam internal
organisasi HMI komisarita FIA dalam mendorong setiap kader yang dimiliknya. Terciptanya
pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki aktivitas dan
kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan misi yang ada
dalam HMI komisariat FIA.
Suatu
kebutuhan ketika sudah terpenuhi akan berubah kekuatannya, dan perilaku
seseorang akan berubah dalam menentukan suatu pilihan yang dibutuhkannya dan
kebutuhan yang akan datang. Dalam memulai kinerja dan tugas yang ada, peran
motivasi dalam membangun hal tersbut harus bisa mendorong setiap anggota
organisasi menjadi semangat dalam bertugas menjalankan kinerjanya. Akan tetapi,
jika sekali aktivitas tujuan memulai, maka kekuatan kebutuhan cenderung untuk
menurun selama anggota dalam HMI terikat pada dorongan tersebut. Terciptanya
pola perilaku tersebut akan membuat setiap individu memiliki aktivitas dan
kegiatan yang terarah kepada tujuan utama tadi sesuai visi dan misi yang ada
dalam HMI komisariat FIA. Aspek Pendorong ini akan dirasi dari beberapa aspek,
takni : 1) Aspek Kaderisasi anggota, 2) Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan, 3) Bidang Pengembangan Ketrampilan dan Wira Usaha, dan 4)
Bidang Pengkajian dan Pengembangan Seni Budaya
4.2 Saran
1)
Perlu adanya
pematangan skill yang mumpuni guna menunjang pola prilaku setiap kader
2)
Adanya program
yang menekan pada aktualisasi diri untuk menjadikan dan menumbuhkan sikap
disiplin dalam budaya berorganisasi
3)
Pengembangan
organisasi yang dilakukan harus berkelanjutan dan sistematis dari setiap
angkatan yang ada
Daftar
Pustaka
Jurnal,
2001, Pengembangan Potensi Pergerakan
Organisasi Hmi
Kumorotomo,
Wahyudi, 2002, Etika Administrasi Negara,
Jakarta : Pt Rajagrafindo Persada.
Thoha,
Miftah, 2011, Perilaku Organisasi :
Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Jakarta : Pt Rajagrafindo Persada
Zubair,
Achmad Kharis, Pengantar Kuliah Etika, Tiara
Wacana
Alatas,
Syed Hussein, 1987, Korupsi : Sifat,
Sebab Dan Fungsi, Lp3es
No comments:
Post a Comment