Malang, 23-24 Mei 2015
PANTAI CLUNGUP ALIAS GATRA
Indonesia, yah itulah negara kita, tempat dimana dibuai dan dibesarkan oleh bunda pertiwi kita semua. Keindahan yang mungkin belum pernah dirasakan oleh setiap warga negara lain selain kita sendiri. Menyesallha bagi kalin yang tidak pernah berkunjung sedikit pun ke indonesia atau yang tidak dilaharkan di tanah air pusaka ibu pertiwi ini. Banyak keindahan yang belum terjamah dari bangsa ku ini, semua yang indah mungkin akan menghilang dalam perkembangan pembangunan dan ketidak sadaran manusia dalam merusak alam keindahannya. Untuk kalian yang masih sibuk dalam mengarungi urusan duniawi dan lebih menggunakan prilaku konsumtif ketergantungan yang berlebih pada sesuatu hal teknologi dimana itu suatu bentuk kebodohan yang akan kalian terima semua. Tanah air pusaka ini ingin deperhatikan sahabat, bukan untuk hanya diperas sedemikian rupa untuk memenuhi nafsu kalian yang banyak. Saran saya untuk kalian adalah keluarlah dan rasakan apa yang alam berikan kepada kalian terus lestarikan alam ku ini, bukankah indonesia itu indah, lebih indah dari gugusan galaxy diatas sana ???
Pada tanggal 23 mei 2015 kemarin saya dan para sahabat saya yang tergabung dalam komunitas kecil bernama RAFIA (Rayon Fakultas Ilmu Administrasi) melakukan ekplorasi Habblumminan alam (hubungan dengan alam) dengan mengunjungi salah satu tempat wisata yang akhir-akhir ini mulai digalakan oleh pemerintah kabupaten malang, yakni namanya pantai clungup alias gatra. Awal pemberangkatan yang dilakukan oleh komunitas rafia ini dimulai pada pukul 14.30 mulai dari jalan kerto rahayu 34 b, sekretariatan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia rayon FIA. Segala jenis perlengkapan dan kebutuhan sudah dikantongkan menggunakan kantong ajaib carier dua buah yang volume kapasitasnya 60 liter. Kebutuhan yang begitu banyak membuat kita kesulitan dalam membawa kantong ajaib yang besar dan berat. Dengan segenap keinginan yang kuat untuk keingin tahuan kita bagaimana suasana pantai clungup alias gatra ini, kita berjalan dengan istiqomah selama 3,5 jam. Personil sudah siap bertempur yang terdiri dari saya, aisah, zharfani, candra, yordan, aldila, claudio, muklis, khalifal, lundi, illa, nizar, elsa, dan uki untuk menghadapi segala kondisi jalanan, mental telah siap untuk melawan kelelahan dalam nafsu mendera keingin tahuan keindahan, dan semangat bergema seperti kibaran bendera merah putih yang selalu ditiup angin. Melajulah alat penyumbang asupan CO2 yang kita tunggangi sebanyak 7
kendaraan dengan jumlah 14 orang. Setiap kendaraan terisi 2 anak yang sudah dengan perlengkapannya sesuai pembagian sebelum keberangkatan. Perjalanan yang kita tempuh untuk merasakah keindahan tanah air pusaka dan merasakan keagungan yang luar biasa diciptakan tuhan yang maha esa untuk mengingatkan keberadaannya pada kita semua adalah sekitar 3,5 jam dengan waktu pemberangkatan pada pukul 14.30 – 18.00. kita tiba pada lokasi wisata pantai clungup alias gatra ini pada waktu malam bertepatan dengan di kumandangkan keagungan tuhan. Ha pertama saat kita tiba di tempat wisata itu, kita melakukan registrasi terkait tiket masuk ke tempat wisata tersebut. seorang menggunakan kertas pendataan dan bulpoin di leher mendata kita terkait sempah apa saja yang kita bawa, berapa tenda yang kita bawa karena kita ingin menginap ditepi pantai clungup, dan yang paling penting adalah ada berapa orang dalam satu kelompok. Setelah melengkapi dan pendataan yang dilakukan petugas wisata terhadap kita bak layaknya seorang kriminal yang di introgasi oleh polisi kita mulai melakukan perjalanan kembali. Ya, perjuangan kita mulai diuji lagi baik deri segi tenaga, nafsu untuk menikmati keindahan alam, dan semangat setiap individu karena lokasi pantai dari tempat tiket masuk masih berjarak 100 meter, dan lebih sabarnya lagi kita berjalan kaki. Dengan alunan merdu suara gitar dan lagu-lagu penyemangat melankolis, kaki kita semua ter-iringi dengan mengikuti sinar rembulan yang remang-remang. Menembus kegelapan malam yang sunyi dan senyap kaki ini melantunkan bunyi dalam tanah dengan serentak dan berbaris seperti layaknya serdadu gerilyawan yang siap bertempur. Setiba di tempat kejadian perkara, kita langsung menentukan lokasi untuk pembangunan tenda, semangat dan kekompakan membuat kita cepat menyelesaikan pendirian tenda dan segara membuat air panas dengan racikan kopi hitam kupu-kupu. Aktivitas yang ketiga setelah mendirikan tenda dan membuat kopi adalah berkumpul untuk bernyanyi bersama dengan disertai melakukan permainan kejujuran guna membuat suasana lebih menyenangkan pada malam hari. Dengan bimbingan seorang fasilitator dari kita, permainan pun dimulai mulai dari menyanyikan lagu masa kecil yaitu balon ku ada lima hingga lagu-lagu modern yang terkenal akhir-akhir ini. Untuk permainan kedua adalah permainan kelipatan agar melatih konsentrasi kita agar tidak termenung. Permainan ini berjalan cukup lama daripada permainan yang pertama kita lakukan, karena permainan ini dirasa efektif untuk memikirkan sesuatu yang harus kita pikirkan selanjutnya.
kendaraan dengan jumlah 14 orang. Setiap kendaraan terisi 2 anak yang sudah dengan perlengkapannya sesuai pembagian sebelum keberangkatan. Perjalanan yang kita tempuh untuk merasakah keindahan tanah air pusaka dan merasakan keagungan yang luar biasa diciptakan tuhan yang maha esa untuk mengingatkan keberadaannya pada kita semua adalah sekitar 3,5 jam dengan waktu pemberangkatan pada pukul 14.30 – 18.00. kita tiba pada lokasi wisata pantai clungup alias gatra ini pada waktu malam bertepatan dengan di kumandangkan keagungan tuhan. Ha pertama saat kita tiba di tempat wisata itu, kita melakukan registrasi terkait tiket masuk ke tempat wisata tersebut. seorang menggunakan kertas pendataan dan bulpoin di leher mendata kita terkait sempah apa saja yang kita bawa, berapa tenda yang kita bawa karena kita ingin menginap ditepi pantai clungup, dan yang paling penting adalah ada berapa orang dalam satu kelompok. Setelah melengkapi dan pendataan yang dilakukan petugas wisata terhadap kita bak layaknya seorang kriminal yang di introgasi oleh polisi kita mulai melakukan perjalanan kembali. Ya, perjuangan kita mulai diuji lagi baik deri segi tenaga, nafsu untuk menikmati keindahan alam, dan semangat setiap individu karena lokasi pantai dari tempat tiket masuk masih berjarak 100 meter, dan lebih sabarnya lagi kita berjalan kaki. Dengan alunan merdu suara gitar dan lagu-lagu penyemangat melankolis, kaki kita semua ter-iringi dengan mengikuti sinar rembulan yang remang-remang. Menembus kegelapan malam yang sunyi dan senyap kaki ini melantunkan bunyi dalam tanah dengan serentak dan berbaris seperti layaknya serdadu gerilyawan yang siap bertempur. Setiba di tempat kejadian perkara, kita langsung menentukan lokasi untuk pembangunan tenda, semangat dan kekompakan membuat kita cepat menyelesaikan pendirian tenda dan segara membuat air panas dengan racikan kopi hitam kupu-kupu. Aktivitas yang ketiga setelah mendirikan tenda dan membuat kopi adalah berkumpul untuk bernyanyi bersama dengan disertai melakukan permainan kejujuran guna membuat suasana lebih menyenangkan pada malam hari. Dengan bimbingan seorang fasilitator dari kita, permainan pun dimulai mulai dari menyanyikan lagu masa kecil yaitu balon ku ada lima hingga lagu-lagu modern yang terkenal akhir-akhir ini. Untuk permainan kedua adalah permainan kelipatan agar melatih konsentrasi kita agar tidak termenung. Permainan ini berjalan cukup lama daripada permainan yang pertama kita lakukan, karena permainan ini dirasa efektif untuk memikirkan sesuatu yang harus kita pikirkan selanjutnya.
Waktu terus berputar, bulan mulai sedikit meredupkan cahaya malamnya dan gemuruh air laut yang kian pasang menandakan hari mulai semakin larut malam. Aktivitas kian menurun untuk mempersiapkan aktivitas esok hari. Hanya beberapa dari kita yang melakukan aktivitas kecil dari kita semisalnya si yordan dia mengumpulkan keong laut untuk diberikan kepada pacarnya sebagai oleh-oleh dari tanah clungup. Semakin malam alunan suara mulai senyap satu persatu dengan di iringi alunan gitar dan beberapa suara merdu dari illa yang rela menyanyi untuk kita semuanya. Cukup terdengar merdu dari kejauhan suaranya dengan memandang langit bintang malam terang redup. Deru ombak pasang air laut kian keras menghalangi pendengaran suara alunan merdu illa, membuat saya terlelap di pinggir pantai beralaskan Sleeping bed. Udara mulai memasuki sleeping bed¸ menyebar kedalam kuit yang pada ujungnya menggertarkan tulang dan kulit saya. Saya terbangun dan tidak sadar udara diluar kian berubah menjadi dingin. Untuk itu saya memutuskan pindah kedalam tenda.
Ke-esokan harinya, aktivitas kembali dilakukan. Jam ditangan menunjukan pukul 04.00, udara pantai yang dingin, suara ombak yang mulai surut saya terbangun dari lelap tidur malam. Mencuci muka dan membangungkan sahabat-sahabat lainnya untuk melihat matahari terbit di daerah bukit yang tinggi. Kita menunggu sekitar 30 menit untuk melihat keindahan terbitnya sang raja tata surya. Enggan mata ini menghindar melihat setengah lingkaran yang jeluar dari ufuk timur dan terus berjalan naik seolah seperti ingin bangkit, begitu indah dan berkarismatiknya sang raja tata surya. Setelah melihat matahari terbit, adalah momen yang membahagiakan datang kembali yakni makan bersama dengan segenap sahabat-sahabat rafia. Tentunya setelah kita mengisi perut kita bersenang-senang. Tidak lazim dan tidak pas apabila kita bertamasya ke pantai tidak nyemplung kata aisah. Akhirnya kita berenang dipantai secara bersama-sama, foto-foto bersama, membuat tulisan di pasir dan bercanda bersuka ria sesama.
Pada pukul 11.00 siang kita beranjak dari asin dan jernihnya air laut clungup alias gatra. Kita bersih diri secara bergantian satu sama lainnya, bergantian menjaga tenda dan perlengkapan yang ada dilokasi perkemahan. Setelah melakukan bersih diri, kita membereskan segenap perlengkapan yang telah kita pakai, serta memungut sampah yang berserakan disekitar pantai. Setiap anak wajib memungut sampah sebanyak 10 sampah yang ada di lokasi pantai. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap alam yang telah memberikan keindahan dan ke eleganannya kepada kita, itu semua tak tergantikan dengan 10.000 pujian dan penghargaan dari pengurus tempat wisata, karena kita generasi muda harus bertanggung jawab menjaga itu semua. Muda adalah kuat, muda adalah semangat, muda adalah tekad untuk menyongsong awal baru.
1 comment:
waaah, sayang nggak ada gambarnya
contoh alat musik melodis
Post a Comment