Interaksi antara
kekuasaan dengan fenomena ekonomi dapat menjadi fokus dalam ekonomi politik.
Namun hambatan-hambatan yang mempersulit pembentukan kerangka ekonomi politik
bedasarkan pada kekuasaan juga tidak sedikit. Hambatan-hambatan ini sangat
menyulitkan ketika ekonomi dipandang sebagai perilku pasar karena konsep pasar
adalah individu dapat memilih dan membuat kontrak secara sukarela.
Beberapa
Penafsiran Tentang Kekuasaan
Konsep kekuasaan paling
sederhana, paling banyak dianut dan paling mudah dipahami adalah pandangan
bahwa kekuasaan merupakan kemampuan kita untuk mencapai tujuan kita di dunia
ini. Kekuasaan merupakan bentuk pengungkapan dari ide bahwa agar kita mencapai
tujuan kita, maka kita harus melakukan sesuatu untuk memengaruhi dan mengubah
dunia sekitar kita. Kita harus bertindak terhadap dunia namun ketika kita
bertindak, kadang-kadang kita mengahadapi kesulitan dan hambatan dari alam,
dari orang lain, atau dari institusi-institusi sosial atau yang lebih kita
kenal dengan masyarakat. Kita malah bisa mendapatkan kesulitan maupun hambatan
dari diri kita sendiri.
Secara ringkas dapat
dikatakan ada 3 jenis kekuasaan yaitu : kekuasaan untuk mencapai tujuan dengan
mengalahkan alam, kekuasaan dengan atau bersama orang lain, dan kekuasaan
terhadap orang lain.
Beberapa
Penafsiran Tentang Kepentingan
Secara umum konsep
kepentingan dibagi menjadi dua macam, yang pertama konsep kepentingan langsung
atau yang lebih dikenal dengan direct interest, kepentingan langsung dapat
diartikan jika seseorang dalam melakukan keinginannya tanpa paksaan dan bebas
memilih kepentingannnya masing-masing.
Adapun konsep kedua
terkait kepentingan yaitu kepentingan riil atau lebih dikenal kepentingan
objektif, kepentingan ini didasarkan atas kesadaran akan diri sendiri dan
pilihan yang dibuat dengan informasi lengkap.
Kekuasaan
dan Perekonomian Pasar
Secara garis besar
kekuasaan tidak akan terlepas dari yang disebut dengan kekayaan. Dalam konsep
ekonomi kapitalistik dikatakan bahwa dengan kekayaan akan semakin mempermudah
kita dalam mencapai kekuasaan, semakin besar kekayaan yang kita miliki maka
akan semakin besar kemungkinan kita akan mendapat kekuasaan.
Sebenarnya, kekayaaan
dalam artian yang dipahami saat ini secara umum kurang membantu dalam memahami
arti dari kekuasaan, sehingga dalam hal ini kekayaan lebih diartikan sebagai
kepemilikan dan kendali terhadap kapital produktif. Kepemilikan atas sebuah
rumah bisa jadi tidak akan membuat si pemilik menjadi berkuasa atas banyak
orang. Tapi kepemilikan atas kapital produktif bisa membuat si kapitalis menguasai
banyak orang.
Contoh bahwa kekayaan
bisa memberikan kekuasaan yaitu : 1. Kekuatan pasar yang dimiliki perusahaan 2.
Kontrak tenaga kerja 3. Hubungan produksi dalam perusahaan
Kekuatan
Pasar dari Perusahaan
Dalam pasar persaingan
sempurna, pertukaran kekuasaan dan ekonomi cenderung saling bertolak belakang
satu sama lain. Sebuah pasar yang memiliki persaingan semputrna akan meliki
tingkat diversitas yang tinggi serta memiliki banyak pilihan, dengan kata lain
pasar semacam itu akan mengharuskan pelaku-pelakunya untuk memilih. Tapi
berefek pada kekuasaan yang dimiliki pelaku pasar yang kecil dan sedikit.
Perusahaan-perusahaan
besar sangat berpengaruh dalam hal ini, seperti level output, teknologi, bahkan
selera konsumen. Perusahaan-perusahaan bisa saling berkompetesi atau saling
kerjasama bergantung konsep pasar yang digunakan, seperti misal pada pasar
oligopoli dimana jumlah perusahann yang sedikit maka akan berakibat beberapa
perusahaan didalamnya dapat saling bekerjasama dan saling ketergantungan antara
yang satu dengan yang lain.
Kontrak
Antar Pekerja dengan Kapitalis
Dalam hal ini dibahas
antara pekerja dengan kapitalis untuk menunjukkan apa saja kekuatan yang
berpotensi untuk terbentuk pada hubungan antara keduanya. Kondisi pertama yakni
penjualan dan pembelian tenaga kerja (yaitu kontrak upah) sebagai sebuah
pertukaran. Pandangan ini didasari pada pertukaran bebas dalam konsep ekonomi
neoklasik sehingga dengan cara pandang ini pekerja tidak tergantung pada satu
majikan saja.
Pada konsep ini pihak-pihak
bertindak secara sukarela, sehingga dapat dikatakan bahwa kesempatan untuk
membuat kontrak secara sukarela telah meningkatkan kemampuan dari semua pihak
dalam kontrak itu untuk memenuhi kebutuhannya atau kepentingan pribadinya
masing-masing. Satu mendapatkan laba dan yang satunya mendapatkan barang-barang
yang dibutuhkan.
Kekuasaan
dalam Perusahaan
Baik pendekatan ekonomi
marxian maupun pendekatan ekonomi politik neoklasik sama-sama mengakui bahwa
ada wilayah tertentu dalam perekonomian yang menggunakan hierarki terorganisir,
sehingga jika ada pasar tenaga kerja dan pasar kapital yang sama-sama memiliki
level kompetisi yang tinggi, maka akan akan ada beberapa kekuasaan dalam
ekonomi.
Hubungan antara
anggota-anggota dalam sebuah perusahaan dipahami dari segi efisiensi, terutama
dengan melihat pada kontribusi dari berbagai bentuk organisasi terhadap
minimalisasi biaya transaksi, sehingga beranggapan bahwa manager hanya dianggap
sebagai agent atau pelakasana yang tugasnya hanya membuat kontrak dan memantau
pelaksanaan kontrak agar dilakukan seefisiensi mungkin
Kekuasaan
Terkondisi dan Perekonomian
Kekuasaan terkondisi,
berbeda dengan konsep-konsep kekuasaan yang dibicarakan pada sebelum-sebelumnya,
tidak mengharuskan adanya pemaksaan atau orang dari pelaku terhadap pihak lain
yang berusaha menetang keinginan dari pelaku itu. Kekuasaan terkondisi memiliki
ciri-ciri sampel sebagai berikut : 1. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mencapai
kepentinagn riil 2. Mereka yang berkuasa memahami apa kepentingan riil mereka
dan bagaimana cara mencapainya dan lain sebagainya
Keuntungan dari
kekuasaan terkondisi yakni konsep ini memungkinkan kita untuk memandang bahwa
orang ataupun kelompok oreang memiliki keuasaan meskipun tidak menerapkan
kekuasaan langsung terhadap orang atau kelompok lain. Konsep ini sudah banyak
diterapkan dalam konsep ekonomi yakni pada teori konsumsi, konsep kebutuhan
semu, analisis distribusi, kritik terhadap legitimasi laba, dan lain-lain.
Kesimpulan
Menyusun sebuah ekonomi
politik berdasarkan konsep kekuasaan dan kekayaan masih cukup menarik meskipun
ada beberapa hal yang menunjukkan kesulitan dalam menggabungkan konsep
kekuasaan dalam ekonomi politik. Karena secara dasar konsep kekuasaan bukan
dari kondisi politik, meskipun seperti yang kita tahu saat ini adalah kekuasaan
cenderung masuk ke ranah politik. Beberapa contoh bahwa kekuasaan pada dasarnya
bukan dalam ranah poltik yakni dalam perusahaan, antar perusahaan, dalam
keluarga, dalam sekolah, dan lain-lain.
Pihak-pihak yang
menjalankan kekuasaan dalam dan luar negeri akan bertindak demi kepentingan
mereka dan demi kepentingan organisasi mereke meskipun akhirnya harus dilakukan
dengan pertarungan poloitik. Sangatlah berbeda dengan pendekatan-pendekatan
lain dalam ekonomi politi, pendekatan berbasois kekuasaan tidak memfokuskan
pada hubungan antara kepentingan pribadi dengan pengambilan keputusan publik.
Inilah yang menjadi pembeda dengan pendekatan-pendekata lain dalam ranah ekonomi
politik.
No comments:
Post a Comment