Jangka Jayabaya
tulisan oleh:
Kandjeng Pangeran Karyonagoro, 2001
Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa
yang salah satunya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini
dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun
temurun oleh para pujangga. Asal -usul utama serat jangka Jayabaya dapat
dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak
keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan
bahwasanya Jayabaya-lah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.
“Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri
yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang
hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama
sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin
Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya
tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa
dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa
dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna,
titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina,
putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.
Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai
Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan
ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri
Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H =
1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah
Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi
penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta
(1613-1645 M).
Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli,
adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran
Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang
Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang
artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu,
dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau
dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat
masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai
pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang
Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.
Disamping itu Beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan
Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749).
Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad
Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah
Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya
di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada
tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang
Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai
Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705
M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.
Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa
Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian
diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah
di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun
1669 Jawa (1744 M).
Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud
Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di
Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri
yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu
(Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton
Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud
Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.[sunting] Analisa
Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah
gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar”
Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga
menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat
negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala
hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah
kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan”. Giri
Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa
yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan
sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun, demikian adanya
keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai
jaman Sunan Giri ke-3.
Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya
berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram;
Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun
tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden
Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih
lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah
sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah
kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke
tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang.
Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah
Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang
juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.
Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh
penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu
Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di
kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari
Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan
Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu
Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.
Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan,
bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih
kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat.
Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai
raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada
tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang
menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 &
1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi
dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil
pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari
Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157
M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru,
raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang
pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JAYABAYA”
dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar
serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk
babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya
dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi
sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman
keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika
kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah
negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua
sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang
hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut
pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.
Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh
diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan
sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini
ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan
Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh
bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat
hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang
dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan
tambahan riwayat buat negeri ini.